Kasus SMA Negeri 1 Cimarga di Lebak, Banten, sempat viral ketika seorang siswa ketahuan merokok saat kegiatan sekolah. Saat itu, seorang siswa berinisial ILP kedapatan merokok di lingkungan sekolah saat kegiatan Jumat Bersih. Kepala sekolahnya, Dini Fitri, menegur siswa tersebut dan dalam prosesnya sempat melakukan tindakan fisik ringan dengan menepuk punggung karena emosi atas kebohongan siswa ketika dicegah. Tindakan ini kemudian viral, dilaporkan ke polisi oleh orang tua siswa, dan memicu lebih dari enam ratus siswa melakukan mogok sekolah sebagai bentuk protes terhadap penegakan disiplin. Pada akhirnya semua pihak berdamai secara kekeluargaan dan kepala sekolah kembali aktif.
Namun di balik kegaduhan itu, muncul pertanyaan yang lebih dalam. Mengapa ketika anak melakukan kesalahan yang jelas, orang tua malah memilih untuk melaporkan sekolah. Mengapa penegakan aturan yang sejatinya melindungi anak dan menjaga lingkungan sekolah justru berakhir dengan konflik antara orang tua dan guru. Inilah potret toxic parent. Orang tua yang seharusnya menjadi mitra dalam pembinaan, malah justru mengamankan anaknya dalam situasi yang jelas salah, melepaskan tanggung jawab moral dan sosialnya.
Contoh nyata dari toxic parent adalah ketika anak keliru, orang tua buru-buru membela tanpa mengajak anak memahami kesalahannya. Dalam kasus SMA1 Cimarga, orang tua siswa memilih jalur hukum dengan melaporkan kepala sekolah, sebelum duduk bersama untuk meluruskan masalah dan menasihati anaknya. Padahal menurut pihak sekolah, siswa itu mengelak dan berbohong ketika ditegur. Pola semacam ini berbahaya. Karena membentuk anak yang merasa kesalahan tidak perlu diperbaiki. Atau, bahwa orang tua akan selalu menjadi tamengnya tanpa konsekuensi. Padahal proses tumbuh kembang yang sehat adalah belajar dari kesalahan dan menerima konsekuensi dengan bijak.
Toxic parenting juga muncul ketika orang tua membiarkan anak melakukan hal-hal yang merusak masa depan, tanpa intervensi yang sehat. Merokok di area sekolah jelas melanggar aturan dan merugikan kesehatan. Sekolah sudah memiliki aturan kawasan tanpa rokok sesuai regulasi nasional. Tapi ketika orang tua tidak mendukung penegakan disiplin, bahkan menganggapnya sebagai ancaman pada anak, maka ada yang hilang dalam fungsi pengasuhan. Yakni mendampingi anak untuk sadar, bertanggung jawab, dan berubah!
Kasus ini jadi refleksi penting soal parenting. Orang tua seharusnya bukan hanya membela anak. Tapi juga membimbing, bersikap tegas sekaligus sabar, serta terbuka bekerja sama dengan sekolah. Bila orang tua sendiri tidak mendukung aturan yang sehat, maka anak akan belajar satu hal buruk. Bahwa aturan tidak ada, karna ada orang tua selalu siap membela mereka, saat mereka salah. Aturan menjadi sia-sia, dan anak tumbuh dengan keyakinan palsu bahwa dunia akan selalu mengalah untuknya.
Masalah menjadi semakin rumit ketika sekolah harus berhadapan dengan pola parenting yang berbeda-beda. Ada orang tua yang mendukung disiplin, ada pula yang menolak anaknya ditegur. Guru akhirnya serba salah. Jika menegur terlalu keras, mereka dituduh kasar. Jika tidak menegur, murid menjadi seenaknya. Guru kehilangan taring dan wibawa, sementara murid merasa bebas melakukan apa saja.
Padahal sekolah bukan sekadar tempat menghafal rumus, tetapi ruang untuk membentuk sikap. Dunia luar tidak seindah rumah, ia penuh dengan reward dan punishment. Jika anak hanya terbiasa dimanja, dibiarkan, atau dibela ketika salah, kelak mereka akan terjebak pada kenyataan pahit. Hidup tidak akan selalu memihak, hidup akan menuntut konsekuensi. Dan dunia kerja tidak akan memberi ruang untuk perilaku seenaknya. Sekolah justru mengajarkan kehidupan itu sejak dini.
Sayangnya, ketika pola toxic parenting berbenturan dengan disiplin sekolah, yang muncul adalah kekacauan. Untunglah, dari berbagai respon masyarakat dan netizen, kita masih bisa lega bahwa masyarakat kita masih waras. Banyak yang mendukung kepala sekolah, karena semua tahu, sekolah ada untuk mendidik dengan tegas. Jika orang tua merasa tidak setuju dengan kedisiplinan, mereka bebas memilih sekolah lain. Tetapi jangan merusak sistem yang baik hanya demi kepentingan pribadi.
Bayangkan jika sekolah terus menerus dipaksa mengalah demi membuat murid nyaman, sampai batas disiplin hilang. Itu bukan lagi pendidikan, melainkan chaos, kekacauan! Fungsi sekolah kehilangan makna ketika ia tidak diizinkan menegakkan kebenaran dan kedisiplinan. Ibarat kapal di tengah laut, jika kapten tidak berhak mengendalikan arah, kapal itu akan hanyut tanpa tujuan. Maka sekolah harus dilindungi dari intervensi yang merusak.
Agar sekolah tetap bisa menjalankan perannya menyiapkan generasi yang siap menghadapi fakta kehidupan bermasayarakat sesungguhnya, yang memang menuntut kedisiplinan!
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
