Saya teringat satu momen sederhana, tapi membekas sampai hari ini.
Seorang peserta training menghampiri saya saat coffee break. Ia tidak langsung bicara. Menarik napas dulu, lalu tersenyum tipis, seolah sedang menimbang apakah ceritanya pantas disampaikan. Ketika akhirnya bicara, suaranya pelan, hampir seperti orang yang nggak yakkn apakah kisahnya berharga atau tidak.
Ia bercerita bahwa selama bertahun tahun bekerja, ia dikenal sebagai orang yang baik, kooperatif, dan selalu siap membantu. Jika ada pekerjaan tambahan, ia ambil. Jika ada perubahan mendadak, ia ikuti. Jika ada permintaan di luar jam kerja, ia tetap mengiyakan. Bukan karena ia selalu mampu, tapi karena ia nggak enak buat menolak.
Sampai suatu hari, tubuhnya mulai protes. Tidur tidak nyenyak. Mudah lelah. Emosi naik turun tanpa sebab yang jelas. Ia berkata sambil tersenyum getir, “Pak, saya merasa capek. Tapi saya juga takut bicara. Takut dibilang nggak profesional atau nggak loyal.”
Nah, cerita seperti ini bukan satu dua kali saya dengar. Justru sebaliknya, ini cerita yang sangat umum. Banyak orang yang stuck hidupnya, bukan karena tidak kompeten, tapi karena terlalu lama memendam.
Mereka bekerja keras, tapi suaranya tidak pernah keluar. Mereka setia, tapi batasannya tidak pernah jelas. Akhirnya, yang terkuras bukan hanya energi, tapi juga produktivitas dan kreativitas hidup mereka. Hidup mereka penuh demgan jadwal dan agendanya orang lain.
Maka, di titik inilah komunikasi asertif menjadi penting.
Asertif bukan berarti melawan. Bukan juga soal berani membantah atasan. Asertif adalah keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan orang lain, dengan cara yang tetap menghormati hubungan. Ia bukan agresif yang melukai, dan bukan pasif yang menyakiti diri sendiri. Asertif berdiri di tengah, tegas tapi beradab.
Masalahnya, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa bersuara itu berisiko. Bicara jujur dianggap tidak sopan. Menolak dianggap egois. Menyampaikan keberatan dianggap tidak bersyukur. Akhirnya, kita belajar diam. Kita belajar menahan. Kita belajar menyesuaikan diri, bahkan ketika hati dan tubuh sudah memberi tanda lelah.
Padahal, dunia kerja bukanlah dunia dimana orang gampang untuk bisa membaca ikkran orang lain. Dunia kerja dalah dunia sibuk. Dan apa yang tidak disampaikan, sering kali dianggap tidak ada. Tapi celakanya, apa yang terlalu lama dipendam, suatu saat akan keluar dalam bentuk yang tidak sehat. Bisa berupa emosi meledak, sinisme, atau kelelahan berkepanjangan.
Komunikasi asertif membantu kita menjaga dua hal penting sekaligus. Harga diri dan relasi. Kita bisa menyampaikan apa yang kita rasakan tanpa menyalahkan. Kita bisa menjaga hubungan tanpa harus mengorbankan batas pribadi. Inilah bentuk komunikasi yang dewasa, sehat, dan berjangka panjang.
Tips AWAS
Agar lebih mudah dipraktikkan, saya sering membagikan satu rumus sederhana yang mudah diingat. Namanya AWAS.
A untuk Awasi perasaan dan kebutuhan diri.
Sebelum bicara, berhenti sejenak. Sadari apa yang sedang kita rasakan dan apa yang sebenarnya kita butuhkan. Bukan sekadar marah atau kesal, tapi apa yang membuat kita tidak nyaman. Kesadaran diri adalah fondasi komunikasi asertif. Tanpa ini, yang keluar biasanya hanya emosi mentah.
W untuk Wajib bicara jelas dan jujur.
Sampaikan pesan secara langsung, tenang, dan tidak menyindir. Gunakan kalimat yang berangkat dari diri sendiri. “Saya merasa..”, “Saya butuh..”, “Saya berharap…”. Kalimat seperti ini tidak menyerang, tapi juga tidak menghilang. Ia membuka ruang dialog, bukan konflik.
A untuk Arahkan sikap dan bahasa tubuh.
Nada suara stabil. Postur tubuh tegak. Kontak mata secukupnya. Bahasa tubuh yang ragu sering membuat pesan kehilangan kekuatan. Asertif itu bukan soal keras atau lembut, tapi selaras antara kata, nada, dan sikap.
S untuk Sampaikan solusi, bukan sekadar keluhan. Akhiri komunikasi dengan usulan yang masuk akal. Bukan hanya menyatakan keberatan, tapi juga menawarkan jalan keluar. Di sinilah komunikasi berubah dari keluhan menjadi kesepakatan. Dari masalah menjadi solusi.
Pada akhirnya, komunikasi asertif bukan soal teknik bicara semata. Ia adalah bentuk penghargaan pada diri sendiri dan orang lain. Kita tidak perlu menjadi keras untuk didengar. Kita tidak perlu menjadi pasif untuk diterima. Kita hanya perlu jujur, jelas, dan berani menjaga batas dengan cara yang dewasa.
Dan sering kali, keberanian terbesar bukan saat kita berteriak paling keras. Melainkan saat kita berkata dengan tenang, “Ini yang saya rasakan, dan ini yang saya butuhkan.”
Ayo, praktekkan komunikasi yang asertif!
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
