Nggak usah jauh-jauh. Kali ini saya akan jadikan diri saya sebagai sumber inspirasi kisahnya. Sebab, saya sendiri pernah lama menyandang predikat sebagai seorang people pleaser, tanpa saya sadari.
Ada satu fase dalam hidup saya ketika saya menyadari bahwa saya terlalu sering hidup untuk orang lain. Sejak kecil, sebagai anak bungsu dalam keluarga, saya merasa harus membuat kakak-kakak saya senang. Saya belajar bahwa dengan cara itu, saya bisa diterima, tidak dimarahi, dan merasa lebih aman. Maka, tanpa sadar saya tumbuh dengan kebiasaan itu.
Saya ingat betul, ketika ada yang kecewa kepada saya, hati ini langsung gelisah. Jika ada yang marah, saya merasa bersalah. Bila orang terdekat murung, saya pun ikut tersiksa, seolah kebahagiaan mereka adalah tanggung jawab penuh saya. Di sekolah pun kebiasaan ini terbawa. Saya berusaha menjadi teman yang baik untuk semua orang. Meski sering kali harus mengorbankan diri sendiri. Di SMP, saya pernah menangis ketika salah satu pengurus OSIS-ku ngambek dan marah. Saat itu, saya merasa gagal jadi ketua OSIS yang baik. Begitulah, saya sering menyalahkan diri atas ketidakbahagiaan orang lain.
Saat masuk dunia kerja pun, pola ini justru semakin kuat. Saya ingin disenangi atasan, rekan, bahkan bawahan. Saya ingin mereka senang bekerjasama denganku. Rasanya lega bila semua orang happy, tapi batin saya sering kali hampa. Saya tidak sadar bahwa perlahan saya kehabisan energi. Saya lebih sibuk menyesuaikan diri daripada mendengarkan suara hati sendiri. Saya terus berusaha jadi apa yang orang lain inginkan.
Hingga suatu saat, sebuah tes psikologi benar-benar membuka mata saya. Hasilnya jelas menunjukkan bahwa energi saya terkuras habis hanya karena satu hal. Terjebak dalam lingkaran menjadi seorang people pleaser.
Ketika Menyenangkan Orang Lain Jadi Jerat
Menyenangkan orang lain bukanlah hal yang buruk. Bahkan seringkali orang dengan kepribadian ini terlihat baik, ramah, jarang konflik, dan mudah disukai. Orang seperti ini jarang jadi pelaku kekerasan, bahkan seringnya jadi korban kekerasan.
Namun sisi lainnya tidak kalah berbahaya. Orang-orang seperti ini rentan dimanfaatkan, ditekan, bahkan minimal, dijadikan sasaran rasa bersalah.
Ada orang yang tahu bahwa kelemahan terbesar seorang people pleaser adalah rasa takut mengecewakan. Maka mereka akan menekan dengan halus. Membuat kita merasa bersalah jika tidak menurut. Dan akhirnya, kita terus terjebak dalam lingkaran tanpa akhir.
Untuk mengenali apakah Anda termasuk di dalamnya, inilah ciri-ciri yang sering muncul pada seorang people pleaser.
Satu. Selalu berusaha menyenangkan orang lain meski harus mengorbankan diri sendiri.
Dua. Merasa bersalah jika orang lain tidak bahagia, padahal bukan tanggung jawabnya.
Tiga. Sulit berkata tidak, walaupun dalam hati sebenarnya tidak sanggup.
Empat. Lebih memilih mengalah dan diam agar tidak ada konflik.
Lima. Hidup dengan harapan agar semua orang menyukainya, bahkan sampai mengorbankan prinsip diri.
Enam. Rela berkorban habis-habisan demi mendapatkan pengakuan dan cinta.
Tujuh. Tersiksa bila orang terdekatnya kecewa atau marah, seolah seluruh dunia runtuh.
Delapan. Sering menempatkan kepentingan orang lain di atas kebutuhannya sendiri.
Sembilan. Takut ditolak dan ditinggalkan, sehingga rela melakukan apa saja.
Sepuluh. Mengukur harga dirinya dari seberapa banyak orang yang ia buat senang.
Belajar Melepaskan Diri
Ketika menyadari hal ini, saya mulai berbenah. Saya belajar mulai dari lebih berani tegas. Awalnya sulit. Tak mudah. Banyak yang kaget ketika saya tidak lagi selalu berkata iya. Tetapi perlahan mereka belajar. Dan yang lebih penting, saya juga belajar. Bahwa menjadi tegas tidak berarti menjadi jahat. Bahwa menjaga diri sendiri adalah bagian dari menghargai kehidupan.
Orang-orang yang awalnya memanfaatkan mulai berhenti menekan. Ada yang mundur. Ada yang tetap bertahan. Tetapi saya tahu, inilah jalan yang harus ditempuh agar energi saya tidak terus terkuras.
Tips Untuk Anda yang People Pleaser
Jika Anda merasa memiliki ciri-ciri tadi, mulailah dengan langkah kecil. Belajarlah berkata tidak dengan sopan. Latih diri untuk tidak selalu merasa bersalah. Sadari bahwa menyenangkan orang lain memang baik, tetapi tidak semua orang pantas mendapatkan energi Anda.
Belajarlah menilai kembali hubungan-hubungan yang Anda miliki. Mana yang tulus menghargai Anda dan mana yang hanya memanfaatkan. Ingatlah, Anda juga berhak bahagia.
Tips Untuk Orang Lain
Jika Anda berhadapan dengan orang yang jelas-jelas adalah seorang people pleaser, hargailah mereka. Ingat bahwa di balik senyum dan kebaikan mereka, mungkin ada lelah yang tidak pernah terlihat. Jangan jadikan kebaikan mereka sebagai kelemahan untuk dimanfaatkan. Sebaliknya, berilah mereka ruang untuk merasa cukup.
Kadang mereka hanya butuh mendengar kalimat sederhana. “Terima kasih. Aku menghargai apa yang kamu lakukan.” Itu saja cukup buat menguatkan mereka.
Akhirnya, hidup bukanlah tentang membuat semua orang senang. Karena itu sebenarnya mustahil. Ada yang bisa Anda bahagiakan, tetapi ada juga yang tidak akan pernah puas, “no matter what we’ve done”. Yang penting adalah menjaga agar dalam perjalanan hidup ini, Anda tidak kehilangan diri sendiri.
Orang lain memang penting, tetapi yang penting pula adalah merasa bahwa Anda juga berharga. Dan ketika Anda berani menjaga batas, di situlah Anda menemukan orang yang betul-betul akan mencintai dan menghargai Anda dengan tulus.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
