1

TOXIC EMPLOYEE: Bagaimana Ciri-Ciri dan Cara Mengatasinya?

Hi, pernah mendengar istilah Toxic Employee? Awalnya, dalam salah satu bahasan di buku bestseller saya berjudul Smart Emotion 1 dan 2, saya membahas soal ini. Lantas, buku tentang TOXIC EMPLOYEE ini pun saya tulis, secara lebih detil. Responnya terhadap topik dan buku ini pun banyak saya dapatkan. Well, apakah ini petanda bahwa di sekitar kita banyak Toxic Employee yang berkeliaran?

Nah, apa yang dimaksud dengan TOXIC EMPLOYEE ini? Istilah ini tidak ada kaitannya dengan karyawan yang malas atau karyawan yang berulangkali lalai dengan tugasnya atau tukang onar di tempat kerja. Justru sebaliknya, mereka yang dimaksud dalam istilah ini, bisa jadi adalah karyawan yang paling rajin, paling taat pada aturan dan atasan, tetapi mempunyai mentalitas dan cara pikir yang tidak membangun, melainkan merusak sekelilingnya, atau dengan kata lain, menyebarkan toxic (racun) di sekelilingnya!

Mereka berlaku sebagai residu bagi lingkungannya. Yang jelas, eksistensi toxic employee ini harus segera diantisipasi sedini mungkin. Kalau tidak, ini akan menjadi kanker yang pelan-pelan akan menggerogoti seluruh fungsi dan kinerja tubuh organisasi atau perusahaan.

7 Ciri Toxic Employee

Sebagai langkah mengantisipasinya, mari kita kenali gejala-gejalanya dulu. Total dalam deskripsi saya ada 7. Mari kita pahami ketujuhnya.

Ciri 1: Negaholic
Ciri pertama adalah kecenderung selalu berpikir negatif (negaholic) dan pesimis. Untuk setiap gagasan yang sebenarnya baik dan progresif, namun bila mereka ditanya pendapatnya. Mereka akan mengeluarkan seribu satu alasan kenapa ide atau gagasan progresif itu tidak mungkin dijalankan. Mereka selalu menemukan masalah atau kendala di balik ide-ide cerdas itu. Ini bertolak belakang dengan pengalaman orang-orang sukses yang justru menemukan ide-ide kreatif di balik masalah. Kalau pun tidak di depan Anda, mereka sering kasak-kusuk di belakang dengan mengatakan ide-ide baru itu sudah pernah dilakukan orang lain atau tidak bakal bisa diaplikasikan. Mereka belum mencoba, tetapi sudah berpikir negatif lebih dulu.

Ciri 2: Habiskan Energi Tim
Ciri kedua, mereka menjadi duri dalam daging bagi tim. Akibatnya, energi tim lebih banyak dihabiskan untuk mengurusi mereka daripada memikirkan dan melaksanakan ide kemajuan proyek. Pikiran, sikap, dan tindak-tanduknya menyita banyak perhatian dan energi tim. Orang-orang tidak fokus lagi pada memajukan proyek, justru terbekap dan energinya habis untuk meladeni pikiran dan kritikan dari si toxic employee ini. Intinya, toxic employee mengurangi laju perkembangan kerja tim.

Ciri 3: Beri Problem, bukan Solusi
Ciri ketiga, mereka lebih banyak menjadi ‘masalah’ ketimbang memberikan ‘solusi’. Kadang, mereka bisa menjadi sangat kritis dan jeli dalam melihat permasalahan. Tetapi, ujung-ujungnya tetap ke situ. Mereka melihat masalah, menyebutkan masalah, dan menciptakan masalah. Setelah itu, mereka hengkang tanpa meninggalkan solusi apa pun. “Ya, jangan tanya solusinya ke saya, dong. Itu bukan wewenang saya. Kalian yang seharusnya bisa menyelesaikannya.” Begitulah kira-kira kilah para penganut toxic employee ini. Ia senang melemparkan masalah dan meninggalkan tim dalam kondisi bingung. Tidak ada solusi apa pun yang diberikan.

Ciri 4: Egosentris
Ciri keempat, egosentris (self centered). Dalam berbagai situasi, mereka bisa tampak melontarkan ide cemerlang yang bertujuan demi kepentingan banyak orang dan perusahaan. Tapi, ujung-ujungnya hanyalah kepentingan dirinya sendiri, yang ia pikirkan. Pernah ada seorang karyawan dengan tipe ini menjadi pentolan serikat buruh perusahaan. Bersama dengan kawannya, mereka mengajukan isu perusahaan yang suka meminta lembur. Ide yang mereka bawa, karyawan perlu lebih banyak waktu untuk keluarga. Ide ini tampaknya cukup humanis dan etis. Tapi, tanpa sepengetahuan teman dan perusahaannya, ia punya kepentingan lain. Ia tidak ingin terlambat untuk mengurusi klinik kesehatan yang dibangun oleh istrinya. Jadi, ia ingin pulang on-time agar bisa mengurus kliniknya. Di sisi lain, ia tergolong cukup egois dalam kerja. Kalau pekerjaanya selesai, ya sudah. Ia tidak terlalu peduli mengenai kualitas hasil kerjanya.

Ciri 5: Emosional
Ciri kelima, emosional. Urusan menjengkelkan dengan orang tipe ini adalah temperamennya yang emosional. Bila ditegur atau dikritik, mereka bisa menjadi sangat sensitif dan defensif. Kritik dinilai sebagai serangan pada dirinya. “Ah, paling-paling yang bilang begitu, nggak suka dan sentimen ataupun iri dengan saya”, itulah pikirannya dalam hati. Akibatnya, orang-orang ini menjadi sulit menerima masukan dan feedback dari orang lain.

Ciri 6: Suka Gossip
Ciri keenam, suka menyebarkan gosip dan berita negatif. Gosip yang mereka lontarkan mampu memengaruhi semangat dan kultur buruk kinerja. Akibatnya, aroma kecurigaan menguat di dalam tim-nya. Orang mudah berprasangka negatif. Dalam situasi macam ini, justru dialah yang sering dijadikan tempat curhat. Inilah momentum baginya menyebarkan virus-virus pikiran negatif dan kecurigaan kepada semakin banyak orang.

Ciri 7: Tidak Bersyukur & Tak Terima Kasih
Ciri ketujuh, ia tidak pernah bersyukur. Saat mendapatkan hal-hal baik, orang macam ini tidak mampu mengungkapkan rasa syukur. Mereka berdalih perusahaan memang sepantasnya berlaku seperti itu. Tapi, jika tidak ada, mereka akan lantang menuntut. Tidak ada sedikit pun terimakasih pada manajemen atau perusahaan atas hal-hal baik yang sudah diterimanya. Mereka lebih suka mengeluh dan mencari negatifnya, daripada melihat sisi positifnya.

Nah, menyikapi karyawan semacam ini, perusahaan harus berhati-hati. Jangan terburu-buru untuk memberi stigma buruk dan langsung menyikapinya secara negatif. Tidak jarang, toxic employee lahir karena kekecewaan yang menumpuk dan tidak ada saluran ekspresinya. Oleh karena itu, dialog menjadi lebih penting dan sikap dewasa, lebih dibutuhkan di awal-awal dalam menghadapi mereka ini. Tak jarang juga, setelah di-dialog-kan dan kekecewaannya mendapatkan jawaban, mereka bisa sembuh.

Tapi yang jelas, perusahaan pun perlu peka untuk melokalisir ruang gerak dan pengaruh negatif dari mereka. Akhirnya, jika memang segala upaya dicoba dan mereka juga tidak sembuh, lebih baik kehilangan satu atau beberapa karyawan yang toxic daripada seluruh organisasi rusak. Berlakulah secara bijak!

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.