Kalau saya bertanya, “Seperti apa orang yang sedang marah?” mungkin bayangan pertama kita adalah orang yang suaranya keras, mukanya merah, membentak, atau bahkan membanting barang.
Padahal kemarahan nggak selalu berisik. Ada orang yang marah sambil tersenyum. Ada yang memilih diam. Ada yang kelihatannya tenang, tapi sengaja memperlambat pekerjaan. Ada juga yang nggak pernah marah di depan kita, tapi begitu masuk media sosial, semua orang diserang.
Anger has many faces. Dan justru wajah kemarahan yang nggak kita sadari sering kali lebih berbahaya.
Marah Itu Jauh Lebih Kompleks
Prof. Ephrem Fernandez dari Texas University banyak meneliti soal anger. Salah satu hal menarik dari pembahasannya adalah kemarahan ternyata punya banyak dimensi.
Kemarahan bisa diarahkan keluar atau ke dalam diri. Bisa muncul untuk menyerang atau bertahan. Bisa verbal atau fisik. Bisa terkontrol atau impulsif. Sumbernya juga bisa datang dari dalam diri maupun dipicu sesuatu dari luar.
Artinya, jangan membayangkan anger hanya sebagai orang yang ngamuk.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya melihat setidaknya ada tujuh wajah kemarahan yang penting kita kenali. Coba baca satu per satu. Siapa tahu salah satunya pernah muncul dalam diri kita.
1. Explosive Anger
Ini bentuk yang paling gampang dikenali. Marahnya meledak. Suara meninggi, membentak, memaki, bahkan mengancam.
Bawahan melakukan kesalahan kecil, lalu atasannya langsung berkata, “Kamu ini gimana sih? Berapa kali harus saya kasih tahu?”
Masalah explosive anger bukan cuma pada apa yang dikatakan. Sering kali kerusakannya terjadi hanya dalam hitungan detik. Marahnya mungkin sebentar, tapi luka yang ditinggalkan bisa bertahun-tahun. One minute of anger can destroy years of trust.
2. Passive Anger
Nah, yang ini lebih halus. Orangnya bisa bilang, “Aku nggak marah kok.” Bahkan sambil tersenyum. Tapi setelah itu pekerjaan sengaja diperlambat, pesan nggak dibalas, mulai menyindir, silent treatment, atau tiba-tiba membanting pintu.
Kemarahan tetap keluar, cuma lewat pintu belakang. Ini yang sering membuat hubungan kerja ataupun hubungan pribadi menjadi melelahkan. Kita tahu ada sesuatu yang salah, tapi orangnya nggak mau mengakuinya.
3. Suppressed Anger
Ada juga orang yang sejak kecil diajarkan bahwa marah itu jelek. Akhirnya setiap kali kecewa, ia diam. Disakiti, diam. Diperlakukan nggak adil, diam lagi.
Kelihatannya sabar. Padahal belum tentu.
Kemarahan yang terus ditekan seperti pressure cooker. Tekanannya nggak hilang hanya karena tutupnya nggak dibuka. Sedikit demi sedikit tekanannya bertambah, sampai suatu hari hal kecil saja bisa membuat semuanya meledak. Ingatlah, mengelola marah berbeda dengan memendam marah.
4. Chronic Anger
Pernah ketemu orang yang sepertinya selalu marah sama dunia? Bangun pagi sudah kesal. Kena macet marah. Orang jalan lambat marah. Meeting nggak sesuai harapan marah. Sampai rumah masih ngomel.
Bahkan ada orang yang kejadian buruknya sudah lewat bertahun-tahun, tapi setiap kali dibicarakan emosinya kembali seperti kejadian itu baru terjadi kemarin. Ini chronic anger.
Kemarahan sudah bukan lagi reaksi sesaat. Ia mulai menjadi cara seseorang melihat dunia.
Kalau dibiarkan, kita bukan lagi orang yang sedang marah. Kita perlahan menjadi pribadi pemarah.
5. Righteous Anger
Ini kemarahan karena merasa ada sesuatu yang salah. Kita marah melihat ketidakadilan, korupsi, kesewenang-wenangan, atau orang yang diperlakukan nggak pantas.
Apakah salah? Nggak selalu. Bahkan kemarahan seperti ini bisa mendorong perubahan yang positif. Tapi ada jebakannya.
Ketika merasa berada di pihak yang benar, kita bisa mulai merasa semua yang kita lakukan otomatis benar. “Saya kan membela kebenaran.” Lalu menghina dianggap boleh. Mempermalukan dianggap wajar. Menyerang dianggap sah. Being right doesn’t give us the right to hurt people.
6. Retaliatory Anger
Kalau yang ini prinsipnya sederhana. Kamu sakiti saya, saya sakiti kamu balik.
Pasangan berkata kasar, kita balas lebih kasar. Rekan kerja mempermalukan kita di meeting, kita tunggu kesempatan untuk mempermalukannya balik.
Masalahnya, retaliatory anger gampang sekali menciptakan lingkaran yang nggak selesai-selesai. Saya menyerang kamu karena kamu menyerang saya. Kamu menyerang lagi karena merasa saya menyerang kamu. Akhirnya semua sibuk membalas, nggak ada yang sibuk menyelesaikan.
7. Digital Anger
Ini wajah kemarahan yang makin relevan hari ini. Orangnya mungkin santun kalau bertemu langsung. Tapi begitu pegang HP, berubah. Komentarnya kasar. Gampang menyerang. Semua huruf besar. Sedikit berbeda pendapat langsung menghina.
Jarak dan layar membuat kita lupa bahwa di balik akun yang sedang kita serang ada manusia.
Jari bergerak jauh lebih cepat daripada empati.
Itulah mengapa salah satu aturan yang saya suka adalah jangan langsung membalas ketika sedang emosi. Beri jeda. Bahkan 6 detik saja bisa memberi kesempatan pada otak untuk keluar dari respons impulsif dan mulai berpikir lebih jernih.
Jadi, Apakah Kita Nggak Boleh Marah?
Tentu saja boleh. Marah adalah emosi manusia. Kadang kemarahan bahkan membawa pesan penting. Ada batas kita yang dilanggar. Ada kebutuhan yang nggak terpenuhi. Ada sesuatu yang kita anggap nggak adil.
Yang menjadi masalah bukan keberadaan marahnya. Yang menentukan adalah apa yang kita lakukan setelah marah itu muncul.
High EQ bukan berarti nggak pernah marah. High EQ berarti kita mampu mengenali kemarahan sebelum kemarahan mengambil alih kemudi.
Jadi lain kali saat emosi mulai naik, jangan buru-buru bertindak. Kenali dulu wajah kemarahan kita. Apakah kita sedang meledak, menyindir, memendam, membalas, atau bahkan menyerang lewat layar?
Anger is a signal, not a command. Dengarkan pesannya. Kelola reaksinya. Jangan biarkan emosi beberapa menit menghancurkan sesuatu yang kita bangun bertahun-tahun.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
