Gampang buat bicara soal berpikir positif ketika hidup sedang baik-baik saja. Bisnis lancar, pekerjaan aman, keluarga mendukung, kesehatan bagus, target tercapai. Dalam kondisi seperti itu, relatif gampang buat tersenyum, mengelola emosi, bahkan menasihati orang lain supaya tetap positif.
Tapi bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya? Bisnis tiba-tiba jatuh. Kita kehilangan pekerjaan. Proposal yang sudah kita perjuangkan berbulan-bulan ditolak. Orang yang kita percaya malah mengecewakan. Atau kita menghadapi masalah besar yang sama sekali nggak pernah kita persiapkan sebelumnya.
Nah, di situlah kualitas kita sebenarnya diuji.
Kalau IQ dan EQ Penting, Mengapa Ada Orang yang Tetap Menyerah?
Pertanyaan seperti inilah yang membuat saya tertarik dengan pemikiran Dr. Paul Stoltz, tokoh yang memperkenalkan konsep Adversity Quotient atau AQ.
Stoltz melihat bahwa IQ jelas penting. EQ juga penting. Tapi ada sesuatu yang menurutnya belum cukup terjawab. Mengapa ada orang pintar dan secara emosional cukup baik, tapi ketika dihantam masalah besar malah menyerah? Sebaliknya, mengapa ada orang yang mungkin biasa saja, tapi ketika jatuh berkali-kali justru bisa bangkit lagi?
Buat saya, pertanyaannya menarik. Mengelola emosi saat semuanya tenang itu satu hal. Tapi tetap mampu berpikir, bertindak, dan maju ketika hidup sedang berantakan adalah hal yang berbeda.
Di situlah AQ bicara. Bukan soal seberapa banyak masalah yang kita punya, tapi bagaimana kita merespons masalah tersebut.
Paul Stoltz Ternyata Juga Punya Pengalaman dengan Adversity
Yang menarik, Stoltz nggak bicara adversity cuma dari ruang kuliah. Ia sendiri punya pengalaman masa kecil yang membentuk cara pandangnya.
Ketika kecil, Stoltz sering diejek karena tubuhnya lebih kecil dan lebih lemah dibandingkan teman-temannya. Sampai akhirnya pada usia 12 tahun ia mengambil keputusan. Ia membeli barbell pertamanya dan mulai latihan.
Kelihatannya sederhana. Tapi pengalaman itu mengajarkan sesuatu kepadanya. Ada bagian dalam hidup yang ternyata bisa berubah kalau kita mau melakukan sesuatu terhadapnya.
Stoltz kemudian tumbuh menjadi orang yang menyukai pendakian dan aktivitas menantang. Ia mendaki tebing di Arizona, Mount Whitney di California, dan berbagai medan berat lainnya.
Mungkin di situlah adversity mulai punya arti yang berbeda buat dirinya. Kesulitan bukan cuma sesuatu yang harus dihindari. Kesulitan juga bisa menjadi tempat kita menemukan seberapa jauh sebenarnya kemampuan kita.
Gagasan inilah yang kemudian berkembang dalam pemikirannya tentang Adversity Quotient.
Lalu Ada Kisah Erik Weihenmayer
Kalau ingin melihat gambaran AQ dalam kehidupan nyata, saya suka sekali dengan kisah Erik Weihenmayer. Kisahnya begitu kuat sampai kemudian Erik dan Paul Stoltz menulis buku bersama berjudul The Adversity Advantage.
Erik mengalami juvenile retinoschisis, kondisi yang membuat penglihatannya terus memburuk sejak kecil. Saat remaja, ia sudah kehilangan penglihatannya.
Coba bayangkan sebentar. Ketika teman-teman seusianya sedang sibuk melihat dunia yang semakin luas, dunia Erik justru perlahan menjadi gelap. Ia bisa saja berhenti di sana. Dan rasanya kita pun akan memahami kalau ia berkata, “Saya nggak bisa. Kondisi saya memang seperti ini.”
Tapi Erik memilih jalan yang berbeda.
Orang Buta Itu Malah Memilih Mendaki Gunung
Saat remaja Erik mulai mengenal rock climbing. Ini saja sudah terdengar nggak masuk akal. Orang yang bisa melihat pun banyak yang takut memanjat tebing. Erik justru melakukannya tanpa bisa melihat.
Ia belajar mengenali permukaan batu melalui tangan dan kakinya. Ia mendengarkan arahan dari partnernya. Ia belajar mempercayai tim, peralatan, tubuh, dan keputusannya sendiri.
Sedikit demi sedikit ia terus mendaki.
Sampai akhirnya, di 25 Mei 2001, sesuatu yang luar biasa terjadi. Erik Weihenmayer berdiri di puncak Mount Everest. Ia menjadi orang buta pertama yang berhasil mencapai puncak tertinggi di dunia!
Buat saya, bagian paling inspiratif dari kisah Erik bukan Everestnya. Tapi keputusan yang terjadi jauh sebelum Everest.
Erik nggak bisa memilih apakah ia akan kehilangan penglihatannya atau tidak. Tapi ia masih bisa memilih satu hal. Apa yang akan ia lakukan dengan kondisi tersebut. Dan menurut saya, di situlah intinya AQ.
Ketika Masalah Datang, Ingat CORE
Paul Stoltz menjelaskan respons kita terhadap adversity melalui empat faktor yang disebut CORE. Singkatannya adalah Control, Ownership, Reach, dan Endurance.
Control
Pertanyaan pertama adalah, apa yang masih bisa saya kendalikan?
Ini sederhana tapi powerful. Saat masalah datang, kita gampang sekali sibuk dengan hal-hal yang nggak bisa kita kontrol. Ekonomi jelek. Bos menyebalkan. Customer nggak punya budget. Kompetitor banting harga. Orang lain nggak mendukung.
Bisa jadi semuanya benar. Tapi terus apa?
Orang dengan AQ tinggi akan menggeser pertanyaannya. Dari semua yang nggak bisa saya kontrol ini, apa yang masih bisa saya lakukan?
Erik nggak bisa mengontrol kondisi matanya. Tapi ia bisa mengontrol latihannya, persiapannya, timnya, sikapnya, dan langkah berikutnya. Itulah Control.
Ownership
Berikutnya adalah Ownership. Apa yang mau saya lakukan untuk memperbaiki keadaan? Ownership bukan berarti semua kesalahan harus kita tanggung. Jangan salah. Ada masalah yang memang bukan kesalahan kita.
Tapi meskipun masalahnya bukan salah kita, respons berikutnya tetap menjadi tanggung jawab kita.
Saya suka membedakan dua tipe orang. Yang satu sibuk mencari siapa yang salah. Yang satu lagi sibuk mencari apa yang bisa dilakukan. Dua-duanya mungkin menghadapi masalah yang sama. Tapi beberapa bulan kemudian, hasil hidupnya bisa sangat berbeda.
Reach
Berikutnya adalah Reach. Seberapa jauh kita membiarkan satu masalah merusak bagian hidup yang lain?
Satu proposal ditolak, lalu merasa dirinya sales yang gagal. Bisnis sedang turun, lalu merasa seluruh hidupnya kacau. Dimarahi atasan pagi hari, lalu bad mood seharian dan orang rumah ikut kena.
Masalah yang tadinya cuma satu kamar akhirnya kita izinkan masuk ke seluruh rumah. AQ mengajarkan kita memberi batas pada masalah. Kalau satu proyek gagal, ya proyek itu yang gagal. Bukan berarti saya gagal sebagai manusia.
Ini kelihatannya sederhana, tapi dampaknya besar sekali.
Endurance
Terakhir adalah Endurance. Sampai kapan saya percaya masalah ini akan berlangsung? Kalau dalam pikiran kita masalah ini akan berlangsung selamanya, energi kita cepat habis. Kita kehilangan harapan sebelum benar-benar mencoba.
Tapi ketika kita bisa berkata, “Ini memang berat, tapi kondisi ini nggak akan berlangsung selamanya,” ada energi berbeda yang muncul.
Kita bukan sedang menipu diri dengan positive thinking. Masalahnya tetap ada. Sakitnya tetap terasa. Tapi kita nggak memberikan masalah itu hak untuk menentukan seluruh masa depan kita.
Jangan Cuma Survive
Saya suka perkembangan pemikiran Stoltz berikutnya. Bersama Erik Weihenmayer, ia menulis The Adversity Advantage. Buat saya judul ini saja sudah punya pesan yang kuat.
Jangan cuma bertanya bagaimana caranya supaya saya bisa melewati masalah ini. Coba naikkan pertanyaannya menjadi, apa yang bisa saya dapatkan dari masalah ini?
Krisis bisa memaksa perusahaan menemukan cara baru. Penolakan bisa memaksa sales memperbaiki pendekatannya. Kegagalan bisa membongkar kelemahan yang selama ini nggak kita sadari. Bahkan kehilangan kadang memaksa kita menemukan kemampuan yang selama ini nggak pernah kita pakai.
Tentu saya nggak mau bilang semua penderitaan itu bagus. Nggak. Ada masalah yang memang menyakitkan. Ada kehilangan yang tetap menjadi kehilangan. Kita nggak perlu romantisasi penderitaan.
Tapi ketika adversity sudah terlanjur datang, kita masih punya pilihan. Apakah kita cuma menjadi korban dari kejadian itu, atau perlahan belajar mengubah sesuatu dari sana.
Ubah Tantanganmu Jadi Peluangmu
Erik nggak memilih menjadi buta. Stoltz juga nggak memilih menjadi anak kecil yang diejek karena tubuhnya. Kita pun nggak bisa memilih semua masalah yang akan datang dalam hidup kita.
Tapi kita masih punya CORE.
Apa yang masih bisa saya Control? Apa yang perlu saya ambil Ownership? Bagaimana supaya masalah ini nggak Reach ke seluruh kehidupan saya? Dan bagaimana saya menjaga keyakinan bahwa kesulitan ini punya batas waktu melalui Endurance?
Empat pertanyaan itu nggak otomatis menghilangkan masalah. Tapi empat pertanyaan itu bisa mengubah posisi kita terhadap masalah.
Dari orang yang merasa nggak berdaya menjadi orang yang mulai bergerak. Dari sibuk bertanya “Kenapa saya?” menjadi “Sekarang saya bisa melakukan apa?”
Adversity Quotient bukan kemampuan hidup tanpa masalah. AQ adalah kemampuan untuk tetap bertumbuh di tengah masalah.
Jadi jangan cuma berharap hidup memberi kita jalan yang mudah. Latih diri kita supaya ketika jalan itu menanjak, kita punya kekuatan untuk terus mendaki.
Ubah tantanganmu menjadi latihanmu. Ubah kesulitanmu menjadi kekuatanmu. Dan kalau bisa, ubah adversity menjadi advantage.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
