Seorang leader pernah cerita kepada saya dengan nada frustrasi. “Saya sudah sering coaching anggota tim saya. Sudah diajak ngobrol, sudah ditanya masalahnya, sudah dikasih masukan. Tapi kok nggak berubah juga?”
Saya lalu bertanya, “Waktu coaching, biasanya Anda ngapain?”
Ia menjelaskan panjang lebar. Mendengarkan sebentar, bertanya beberapa hal, lalu mulai memberikan pendapat, menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan, dan akhirnya memberikan solusi.
Saya tersenyum. Bisa jadi masalahnya ada di sini. Anda memang sudah ngobrol. Tapi belum tentu Anda melakukan coaching.
Coaching Bukan Cuma Bertanya
Ini salah satu kesalahpahaman yang cukup sering saya temukan dalam pelatihan leadership. Setelah belajar coaching, leader pulang dengan satu pemahaman sederhana. Kalau coaching, jangan terlalu menggurui. Menyuapin dengan semua jawaban. Banyak bertanya.
Akibatnya sesi coaching berubah menjadi sesi tanya jawab.
“Menurut kamu masalahnya apa?”
“Terus menurut kamu bagaimana?”
“Solusinya apa?”
“Kapan mau dilakukan?”
Pertanyaannya jadi banyak. Tapi orang yang di coaching belum tentu mendapatkan insight baru.
Padahal, pertanyaan hanyalah salah satu tool. Sama seperti seorang teknisi yang punya obeng. Obeng berguna, tapi masa semua masalah mau diselesaikan pakai obeng?
Itulah sebabnya saya lebih suka melihat seorang coach sebagai seseorang yang membawa toolkit.
Bayangkan Sebuah Pisau Lipat
Saya suka menggunakan analogi pisau lipat multifungsi.
Bentuknya kecil. Praktis. Bisa dibawa ke mana-mana. Tapi ketika dibuka, ternyata di dalamnya ada berbagai alat dengan fungsi yang berbeda. Ada pisau, gunting, pembuka, obeng, dan berbagai tool lainnya.
Kita nggak memakai semuanya sekaligus. Kita memilih alat berdasarkan kebutuhan.
Menurut saya, coaching juga seperti itu.

Leader yang hebat nggak datang ke sesi coaching dengan satu jurus. Ia punya berbagai tool dan tahu kapan harus menggunakannya.
Different problems need different tools.
1. Observe
Kadang jangan buru-buru bertanya. Amati dulu. Perhatikan pola bicara, perubahan ekspresi, bagian yang terus dihindari, cerita yang berulang, bahkan sesuatu yang nggak dikatakan.
Seorang anggota tim mungkin berkata, “Saya nggak ada masalah dengan pekerjaan ini.”
Tapi setiap kali nama proyek tertentu disebut, energinya langsung turun. Coach yang baik menangkap pola dan blind spot. Ia bukan cuma mendengarkan kata-kata, tapi juga memperhatikan apa yang terjadi di balik kata-kata tersebut.
2. Inquire
Setelah mengamati, barulah kita menggali.
Inilah keterampilan bertanya yang selama ini paling identik dengan coaching. Tapi bukan sekadar memperbanyak pertanyaan. Pertanyaan yang bagus membuat seseorang berhenti sejenak dan berpikir.
“Apa yang sebenarnya membuat kamu ragu?”
“Kalau hambatan itu nggak ada, apa yang ingin kamu lakukan?”
“Apa yang belum kamu lihat dari situasi ini?”
Pertanyaan yang kuat bukan membuat coach terlihat pintar. Pertanyaan yang kuat membuat orang lain berpikir lebih dalam.
3. Diagnose
Kadang jawaban pertama bukan masalah sebenarnya.
Orang berkata, “Saya nggak sempat.” Setelah digali ternyata bukan soal waktu. Ia takut gagal.
Ada yang berkata, “Tim saya susah diatur.” Setelah dibedah ternyata ekspektasinya sendiri nggak pernah dikomunikasikan dengan jelas.
Di sinilah coach perlu kemampuan mendiagnosis. Jangan terlalu cepat mengobati gejala sebelum memahami akar masalahnya. Don’t solve the wrong problem.
4. Reframe
Ini salah satu tool coaching yang saya suka.
Kadang masalahnya nggak berubah, tapi cara kita melihat masalah itulah yang perlu diubah.
“Saya gagal mendapatkan promosi.”
Coach bisa membantu melihatnya dari sudut berbeda. “Apa yang pengalaman ini sedang tunjukkan tentang kemampuan yang perlu kamu bangun?”
Reframing bukan positive thinking murahan. Kita nggak sedang mengatakan masalah itu nggak ada. Kita membantu seseorang melihat kemungkinan lain yang sebelumnya tertutup oleh cara berpikirnya sendiri.
5. Chunk Down
Ada orang yang datang ke sesi coaching dengan masalah sebesar gunung.
“Pak, tim saya kacau.”
Jangan langsung mencoba menyelesaikan gunungnya. Pecah dulu.
Bagian mana yang paling bermasalah? Siapa yang terlibat? Situasi apa yang paling sering terjadi? Dari semuanya, satu hal apa yang paling mungkin diperbaiki minggu ini?
Masalah besar sering membuat orang lumpuh. Ketika masalah dipecah menjadi bagian kecil, orang mulai melihat jalan.
6. Integrate
Setelah berbagai insight muncul, jangan dibiarkan tercecer.
Bantu orang tersebut menyatukan semuanya. Apa yang sekarang ia pahami? Resources apa yang sebenarnya sudah ia punya? Strategi mana yang paling masuk akal? Apa yang bisa dipakai dari pengalaman sebelumnya?
Insight tanpa integrasi gampang hilang setelah sesi coaching selesai. Coach membantu menyambungkan titik-titik sampai coachee bisa melihat gambaran yang lebih utuh.
7. Direction
Nah, ini bagian yang kadang dilupakan.
Coaching bukan berarti leader sama sekali nggak boleh memberikan arah. Dalam konteks leadership, ada saatnya orang membutuhkan kejelasan tentang desired outcome, standar, batasan, atau tujuan yang harus dicapai.
Bedanya, direction bukan berarti mengambil alih seluruh proses berpikir orang tersebut.
Leader memberikan arah, bukan selalu memberikan semua jawaban.
8. Follow Through
Ini tool terakhir yang menurut saya sangat menentukan.
Sesi coaching bisa terasa luar biasa. Coachee mendapatkan banyak insight, semangatnya tinggi, bahkan berkata, “Wah, saya baru sadar.”
Lalu seminggu kemudian nggak terjadi apa-apa.
Itulah sebabnya coaching harus berujung pada tindakan nyata. Apa yang akan dilakukan? Kapan? Apa indikator keberhasilannya? Kapan kita akan cek lagi?
Insight without action is just an interesting conversation.
Jangan Jadi Coach dengan Satu Tool
Di sinilah filosofi pisau lipat tadi menjadi penting.
Coach yang efektif nggak menggunakan tool yang sama untuk semua orang. Ada orang yang butuh lebih banyak pertanyaan. Ada yang perlu dibantu melihat blind spot. Ada yang perlu reframing. Ada yang masalahnya terlalu besar sehingga harus dipecah. Ada pula yang sebenarnya sudah tahu jawabannya, tapi butuh direction dan accountability.
Semakin matang seorang leader, semakin luwes ia memilih tool.
Ia bisa Observe, Inquire, Diagnose, Reframe, Chunk Down, Integrate, Direction, lalu memastikan ada Follow Through.
Bukan berarti semua harus dilakukan berurutan dalam setiap percakapan. Ini toolkit, bukan ritual. Kita mengambil alat yang memang dibutuhkan pada saat itu.
Coaching Itu Bukan Soal Banyak Bertanya
Jadi kalau Anda seorang leader dan merasa sudah sering coaching tapi orang Anda nggak berkembang, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa coaching nggak efektif.
Coba cek lagi apa yang selama ini sebenarnya Anda lakukan.
Apakah benar coaching, atau cuma ngobrol? Apakah benar menggali, atau sebenarnya sedang menginterogasi? Apakah membantu orang berpikir, atau cuma menunggu kesempatan untuk memberikan nasihat?
Coach yang hebat nggak membawa satu jawaban untuk semua masalah. Ia membawa tool yang tepat untuk kebutuhan yang berbeda.
Itulah mengapa leader perlu punya Coaching Toolkit. Bukan supaya terlihat hebat sebagai coach, tapi supaya setiap percakapan benar-benar membantu orang bergerak dari clarity menuju insight, lalu dari insight menuju action.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
