Beberapa waktu terakhir, dalam beberapa episode Smart Emotion Radiotalk, saya beberapa kali mengangkat sebuah topik kepemimpinan yang menurut saya semakin penting dipahami oleh para pemimpin masa kini, yaitu Ambidextrous Leadership.
Topik ini menarik karena mampu menjelaskan mengapa ada perusahaan yang tetap bertahan bahkan terus bertumbuh di tengah perubahan, sementara perusahaan lain yang tampaknya dipenuhi orang-orang cerdas justru perlahan kehilangan arah.
Selama ini kita sering mendengar anggapan bahwa perusahaan gagal karena kurang inovatif. Karena terlalu nyaman. Karena terlambat berubah. Pernyataan itu memang tidak sepenuhnya salah.
Namun setelah berdiskusi dengan banyak pemimpin perusahaan, startup founder, dan para profesional, saya justru menemukan kenyataan lain yang tidak kalah menarik. Tidak sedikit organisasi yang gagal bukan karena kekurangan ide, tetapi karena memiliki terlalu banyak ide.
Terlalu Banyak Ide Bisa Menjadi Beban
Dunia startup identik dengan kreativitas. Hampir setiap hari muncul gagasan baru. Produk baru diluncurkan. Fitur baru ditambahkan. Strategi baru diuji. Investor menyukai cerita tentang pertumbuhan. Tim berlomba menciptakan sesuatu yang belum pernah ada.
Masalahnya, tidak semua ide layak dijalankan pada waktu yang sama.
Saya pernah melihat sebuah startup yang hampir setiap bulan meluncurkan fitur baru. Tim pengembang bekerja tanpa henti. Divisi pemasaran sibuk mengumumkan inovasi terbaru. Ruang rapat penuh dengan sticky notes berwarna-warni. Dari luar semuanya terlihat luar biasa progresif.
Namun ketika saya bertanya, “Produk mana yang sebenarnya menghasilkan keuntungan terbesar?” suasana mendadak menjadi hening.
Mereka memiliki begitu banyak ide, tetapi tidak cukup fokus untuk mengubah satu ide menjadi bisnis yang benar-benar kuat.
Inovasi Tanpa Eksekusi Tidak Pernah Menjadi Nilai
Sering kali kita terlalu memuja kreativitas, seolah-olah ide adalah segalanya. Padahal dalam dunia bisnis, ide hanyalah titik awal. Yang membedakan perusahaan hebat dengan perusahaan biasa bukan siapa yang memiliki ide paling banyak, melainkan siapa yang paling konsisten mengeksekusinya.
Banyak organisasi akhirnya kehabisan tenaga bukan karena bekerja terlalu sedikit, tetapi karena mengerjakan terlalu banyak hal secara bersamaan. Setiap minggu prioritas berubah. Setiap bulan target berganti. Tim tidak pernah memiliki kesempatan menyelesaikan sesuatu dengan sempurna karena selalu ada proyek baru yang dianggap lebih menarik.
Akibatnya, organisasi bergerak sangat cepat, tetapi tidak benar-benar maju.
Mereka sibuk. Mereka kreatif. Mereka produktif. Namun hasil bisnisnya tidak bertumbuh.
Ambidextrous Leadership Mengajarkan Keseimbangan
Di sinilah saya melihat mengapa konsep Ambidextrous Leadership menjadi sangat relevan.
Ambidextrous Leadership mengajarkan bahwa pemimpin harus mampu menjalankan dua kemampuan sekaligus. Di satu sisi, ia harus menjaga bisnis yang sudah ada agar tetap berjalan dengan disiplin, efisien, dan menghasilkan keuntungan. Inilah yang disebut eksploitasi.
Di sisi lain, ia juga harus terus mencari peluang baru, membangun inovasi, bereksperimen, dan menyiapkan masa depan. Inilah yang disebut eksplorasi.
Masalah muncul ketika organisasi terlalu berat ke salah satu sisi.
Terlalu banyak eksploitasi membuat perusahaan menjadi nyaman, birokratis, dan sulit berubah. Sebaliknya, terlalu banyak eksplorasi membuat organisasi kehilangan fokus, menghabiskan sumber daya, dan tidak pernah menikmati hasil dari inovasi yang dibuatnya.
Pemimpin yang hebat bukan memilih salah satunya. Pemimpin yang hebat mampu menjaga keseimbangan di antara keduanya.
Ide Hebat Tetap Membutuhkan Disiplin
Ada satu pelajaran yang semakin saya yakini. Inovasi bukan lawan dari disiplin. Justru inovasi membutuhkan disiplin.
Ide yang hebat harus dipilih dengan bijaksana. Setelah dipilih, ia harus dijalankan dengan konsisten. Harus diukur hasilnya. Harus diperbaiki. Harus disempurnakan. Barulah kemudian organisasi kembali membuka ruang untuk inovasi berikutnya.
Banyak startup gagal karena terlalu cepat mengejar ide baru sebelum ide sebelumnya benar-benar menghasilkan nilai. Mereka terus membangun sesuatu yang baru, tetapi tidak pernah menikmati hasil dari apa yang telah dibangun.
Pelajaran untuk Setiap Pemimpin
Bagi saya, inilah pelajaran besar yang bisa dipetik, bukan hanya oleh startup, tetapi oleh setiap organisasi.
Menjadi inovatif memang penting. Namun menjadi inovatif tanpa disiplin eksekusi justru dapat membawa organisasi kehilangan arah. Sebaliknya, disiplin tanpa keberanian berinovasi hanya akan membuat perusahaan semakin efisien menjalankan model bisnis yang suatu hari bisa menjadi usang.
Pemimpin masa depan adalah mereka yang mampu mengelola hari ini tanpa melupakan hari esok. Mereka berani menciptakan ide baru, tetapi juga memiliki keteguhan untuk mengeksekusinya hingga menghasilkan dampak nyata.
Mungkin itulah mengapa saya terus membahas Ambidextrous Leadership dalam berbagai kesempatan. Karena saya percaya, tantangan terbesar organisasi hari ini bukan sekadar menemukan ide berikutnya.
Tantangan sesungguhnya adalah membangun kemampuan untuk memilih ide yang tepat, menjalankannya dengan disiplin, lalu terus menciptakan masa depan tanpa kehilangan pijakan pada bisnis yang ada.
Kesimpulannya? Perusahaan tidak selalu gagal karena kekurangan inovasi. Tidak sedikit yang justru tumbang karena tidak mampu menyeimbangkan eksplorasi dan eksploitasi.
Dan menurut saya, keseimbangan itulah yang akan menjadi salah satu kompetensi kepemimpinan paling penting di masa depan.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
