Beberapa waktu terakhir saya kembali mendapat kesempatan menjadi narasumber dalam program siaran di RRI yang mengangkat tema mengenai Generasi Emas Indonesia. Topik ini sangat menarik karena selaras dengan semangat Asta Cita pemerintah yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas utama bangsa.
Ketika mendengar istilah Indonesia Emas 2045, sebagian besar orang langsung membayangkan Indonesia yang maju, ekonominya kuat, teknologinya berkembang, dan masyarakatnya semakin terdidik. Semua itu memang penting. Namun di balik berbagai target besar tersebut, saya sering bertanya kepada para peserta seminar maupun pendengar radio. Apakah kita sedang membangun Generasi Emas atau justru Generasi Cemas?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun semakin lama saya mengamati perkembangan dunia pendidikan, dunia kerja, dan kehidupan generasi muda saat ini, semakin saya merasa bahwa pertanyaan tersebut layak untuk direnungkan bersama.
Karena, jika diperhatikan, suatu bangsa tidak melulu dibangun oleh orang-orang yang pintar. Bangsa juga dibangun oleh orang-orang yang sehat jiwanya.
Ketika Anak-Anak Semakin Pintar Tetapi Makin Rapuh
Dunia saat ini memberikan akses pengetahuan yang luar biasa. Anak-anak bisa belajar apa saja hanya dari genggaman tangan mereka. Informasi tersedia dalam hitungan detik. Teknologi berkembang begitu cepat. Namun di sisi lain, kita juga melihat fenomena yang berbeda.
Tingkat kecemasan meningkat. Perasaan kesepian meningkat. Tekanan sosial meningkat. Banyak anak muda yang terlihat baik-baik saja di media sosial, tetapi sebenarnya sedang berjuang menghadapi berbagai tekanan di dalam dirinya.
Data WHO menunjukkan bahwa satu dari tujuh remaja di dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Di Indonesia, hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey menunjukkan bahwa sekitar satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir.
Angka ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Karena ternyata masalah terbesar generasi muda bukan hanya soal kurangnya pengetahuan. Banyak di antara mereka justru sedang berjuang untuk menjaga kesehatan mentalnya.
Apa Itu Kesehatan Mental?
Banyak orang masih mengira kesehatan mental hanya berkaitan dengan depresi atau gangguan jiwa.
Padahal WHO mendefinisikan kesehatan mental sebagai kondisi kesejahteraan psikologis yang membuat seseorang mampu menghadapi tekanan hidup, mengembangkan potensinya, belajar dengan baik, bekerja dengan baik, dan berkontribusi kepada masyarakat.
Dengan kata lain, kesehatan mental bukan sekadar tidak sakit. Sama seperti kesehatan fisik. Tidak demam belum tentu sehat. Tidak depresi belum tentu sehat mental.
Kesehatan mental adalah kemampuan untuk tetap bertumbuh di tengah tekanan kehidupan.
Pelajaran Berharga dari The Anxious Generation
Salah satu buku yang menurut saya sangat relevan untuk dibaca saat ini adalah The Anxious Generation karya Jonathan Haidt. Haidt mengemukakan gagasan yang sangat menarik. Menurutnya, dunia sedang mengalami perubahan besar yang disebutnya sebagai pergeseran dari play based childhood menuju phone based childhood.
Dulu anak-anak tumbuh melalui permainan nyata. Mereka berlari. Mereka jatuh. Mereka bertengkar. Mereka berdamai. Mereka belajar menghadapi risiko. Mereka belajar menyelesaikan masalah.
Hari ini semakin banyak anak yang tumbuh melalui layar. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan algoritma dibandingkan manusia. Mereka lebih sering menerima komentar dibandingkan percakapan.Mereka lebih banyak melihat kehidupan orang lain dibandingkan mengalami kehidupan mereka sendiri.
Haidt menyampaikan satu kalimat yang sangat kuat. Anak-anak sekarang terlalu dilindungi di dunia nyata, tetapi terlalu tidak dilindungi di dunia digital. Kalimat ini sangat layak direnungkan oleh kita semua.
Ibarat Ferrari dengan Mesin yang Bermasalah
Saya sering menggunakan analogi sederhana ketika membahas topik ini. Bayangkan Anda memiliki Ferrari terbaru. Desainnya luar biasa. Teknologinya canggih. Kecepatannya mengagumkan. Namun bagaimana jika mesinnya rusak?
Semua keunggulan tadi menjadi tidak banyak berarti. Begitu pula dengan Generasi Emas.
Kita bisa memiliki pendidikan terbaik. Teknologi terbaik. Fasilitas terbaik. Namun jika kesehatan mental generasi mudanya terganggu, potensi besar itu sulit berkembang secara optimal.
Karena sesungguhnya kesehatan mental adalah mesin yang menggerakkan seluruh potensi manusia.
Pelajaran dari Tokoh-Tokoh Dunia
Michael Phelps memenangkan 28 medali Olimpiade. Simone Biles disebut sebagai salah satu atlet terbaik sepanjang masa. Mereka mencapai prestasi yang luar biasa.
Namun keduanya pernah berbicara secara terbuka mengenai perjuangan mereka menjaga kesehatan mental. Ini mengajarkan sesuatu kepada kita. Prestasi dan kesehatan mental adalah dua hal yang berbeda.
Seseorang bisa sangat sukses tetapi tetap membutuhkan dukungan psikologis. Karena itu kita tidak boleh hanya bertanya kepada anak-anak kita.
“Nilaimu berapa?”
“Kamu ranking berapa?”
“Kapan lulus?”
“Kapan sukses?”
Mungkin sesekali kita perlu bertanya juga,
“Bagaimana hatimu hari ini?”
Generasi Emas Dimulai dari Rumah
Kesehatan mental tidak dimulai dari rumah sakit. Tidak dimulai dari psikolog. Tidak dimulai dari konselor. Kesehatan mental dimulai dari rumah.
Dimulai dari keluarga yang mau mendengarkan. Dimulai dari guru yang mau memahami. Dimulai dari pemimpin yang peduli. Dimulai dari lingkungan yang membuat seseorang merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.
Anak-anak tidak tumbuh hanya dari nasihat. Mereka tumbuh dari keteladanan. Mereka belajar bagaimana mengelola emosi dengan melihat bagaimana orang dewasa mengelola emosinya. Mereka belajar menghadapi kegagalan dengan melihat bagaimana orang dewasa menghadapi kegagalannya.
Jangan Sampai Menjadi Generasi Cemas
Jika kita ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, maka kita tidak boleh hanya berbicara tentang kecerdasan, teknologi, dan ekonomi.
Kita juga harus berbicara tentang ketahanan mental.
Tentang harapan. Tentang makna hidup. Tentang kemampuan menghadapi tekanan. Tentang kemampuan bangkit setelah kegagalan.
Karena ujung-ujungnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar generasinya. Tetapi juga oleh seberapa kuat mereka menghadapi kehidupan.
Ingatlah Obat CEMAS
Sebagai penutup, saya ingin mengajak kita mengingat satu kata sederhana.
CEMAS. Bukan sebagai masalah, tetapi sebagai solusi.
C adalah Cerita. Jangan memendam semuanya sendiri.
E adalah Empati. Belajar memahami diri sendiri dan orang lain.
M adalah Makna. Temukan alasan mengapa kita terus melangkah.
A adalah Aktif. Jaga tubuh dan pikiran tetap bergerak.
S adalah Syukur. Fokus pada apa yang masih kita miliki dan bisa kita lakukan.
Jika kita mampu menerapkan obat CEMAS ini dalam kehidupan sehari-hari, saya percaya kita sedang membantu membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar generasi yang pintar.
Kita sedang membangun generasi yang sehat mentalnya, kuat karakternya, dan siap membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.
Saya yakin, Generasi Emas sejati bukanlah generasi yang tidak pernah mengalami masalah.Generasi Emas adalah generasi yang mampu menghadapi masalah tanpa kehilangan harapan.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
