Waktu itu saya pindah kerja. Dapat tawaran dari perusahaan yang cukup besar. Proses awalnya biasa saja, sampai akhirnya si rekruter melihat CV saya. Ia tampak tertarik. Katanya, awalnya saya memang disiapkan untuk ditempatkan di klien mereka. Tapi dalam perjalanan, justru si rekruter mengajak saya masuk ke tim internalnya sendiri. Rupanya ia merasa pengalaman saya akan lebih cocok di timnya yang sedang butuh orang kuat di posisi tertentu.
Tawaran yang diajukan pun cukup menarik. Secara nominal, sudah di atas ekspektasi awal saya. Tapi kemudian muncul pergulatan di kepala: “Apa saya coba negosiasi ulang? Tapi, bukankah udah cukup?” Ada bagian dari diri saya yang berkata, “Udahlah, terima aja. Jangan bikin repot.”
Tapi entah kenapa, ada bisikan kecil yang bilang, “Kalau nggak dicoba, selamanya kamu nggak tahu berapa nilai kamu sebenarnya.”
Akhirnya saya memberanikan diri untuk bilang: “Karena posisi saya bukan lagi untuk klien tapi justru untuk tim internal dan dengan tanggung jawab yang berbeda, bolehkah saya minta penyesuaian gaji yang lebih baik?”
Dan ternyata… disetujui.
Saya masuk kerja dengan tawaran yang sangat baik. Jauh lebih tinggi dari angka awal.
Pelajaran penting yang saya dapat?
Kalau saya tidak buka mulut waktu itu, mungkin seumur hidup saya tidak akan pernah tahu: berapa nilai saya sebenarnya. Dan lebih penting lagi, saya belajar bahwa dalam hidup, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita pantas dapatkan. Tapi kita hanya mendapatkan apa yang berhasil kita negosiasikan.
Sudah lebih dari 15 tahun saya mengajar kelas negosiasi. Khususnya lewat progran Top Negotiator yang menjadi salah satu program training andalan kami. Mengajarkan bagi peserta bukan hanya di perusahaan, tapi juga untuk para profesional, pemilik bisnis, bahkan fresh graduate.
Satu pola yang selalu saya lihat. Banyak orang hidupnya bisa berubah total hanya karena berani belajar dan mempraktikkan seni negosiasi.
Ada yang akhirnya bisa dapat kenaikan gaji signifikan. Ada yang berhasil pindah divisi impian. Ada yang bisa mendapatkan kerja remote, lebih fleksibel dan tetap produktif.
Dan ada juga yang akhirnya berani menegosiasikan ulang kontrak kerja, karena tahu nilainya.
Dan faktanya, kalau seseorang tidak bisa negosiasi, lambat laun, ia akan dihabisi oleh mereka yang bisa negosiasi.
Carlos Slim Helu, salah satu orang terkaya di dunia dari Meksiko, pernah berkata: “Menurutku, keterampilan terpenting yang perlu dipelajari setiap orang adalah… negosiasi.”
Dan itu benar.
Bahkan Harvard Business School (2022) mencatat: orang dengan empati tinggi dan kepekaan emosi tinggi mencapai kesepakatan dua kali lebih cepat. Kenapa? Karena negosiasi bukan cuma soal otak. Tapi soal emosi dan hubungan.
Statistik dari berbagai riset mendukung hal ini:
*Hanya 25% orang yang merasa nyaman untuk bernegosiasi (Salary.com)
*83% top negotiator punya skor EQ di atas rata-rata (TalentSmart)
*MIT Sloan Management Review mencatat, kegagalan negosiasi lebih banyak karena masalah emosional, bukan substansi
*Dan 70% profesional di LinkedIn Learning mengakui: negosiasi adalah skill yang mereka ingin kuasai lebih baik
Buku Beyond Reason karya Roger Fisher dan Daniel Shapiro dari Harvard Negotiation Project juga mengajarkan hal penting. Gunakan emosi dalam negosiasi, tapi dengan cara yang konstruktif.
Lalu ada yang berkata: “Saya kan bukan bos, bukan pengusaha. Emang penting banget ya bisa negosiasi?”
Justru karena bukan bos, Anda harus bisa negosiasi.
Ingin atasan menyetujui cuti tambahan? Butuh negosiasi. Ingin minta kerja hybrid atau remote? Butuh negosiasi. Ingin pasangan setuju soal rencana liburan? Tetap butuh negosiasi. Bahkan saat ingin anak tidur lebih cepat tanpa drama… juga negosiasi.
Herb Cohen dalam bukunya You Can Negotiate Anything menulis: “You don’t get what you deserve. You get what you negotiate.”
Begitu pula dalam hidup.
Kalau tidak belajar negosiasi, maka bersiaplah untuk disetir oleh keputusan orang lain. Tapi kalau tahu cara berbicara, mengelola emosi, membaca situasi, dan menyampaikan keinginan dengan tepat, maka akan ada banyak pintu yang bisa terbuka.
Dan kadang, cukup dengan satu kalimat penuh keyakinan… hidup bisa berubah.
Jadi, sebelum Anda kembali mengiyakan sesuatu yang sebenarnya bisa Anda negosiasikan… belajarlah dulu. Kuasai teknik negosiasi yang memamg bisa dipelajari. Ingat, orang yang tak bisa negosiasi akan dihabisi oleh mereka yang jago negosiasi.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
