Di salah satu sesi training yang saya fasilitasi, saya bertemu sosok luar biasa. Ia anak yatim piatu. Dibesarkan di sebuah panti asuhan di kota kecil di Sumatra.
Hidup keras sudah jadi sahabatnya sejak dini. Untuk bisa tetap sekolah, ia menjadi petugas kebersihan di sekolah tempat ia belajar. Tapi bukan hanya debu yang ia sapu. Ia juga menyapu luka-luka ejekan dari teman-temannya. Karena statusnya sebagai anak panti. Karena bajunya yang lusuh. Karena tangan kasarnya yang lebih sering menggenggam sapu ketimbang buku.
Ia diejek, direndahkan, dianggap tak lebih dari bayangan di pojok ruangan. Namun ia tak mengeluh. Saat usianya cukup, ia memutuskan hijrah ke kota besar di Sumatra. Pagi hari menjaga toko. Sore hingga malam, ia kuliah. Tak ada yang membiayai. Semua ia tanggung sendiri. Ia kerja sambil kuliah, bukan kuliah sambil kerja. Dan akhirnya, ia pun lulus.
Dengan gelar yang disandangnya, ia masuk ke sebuah perusahaan nasional yang punya cabang di kotanya. Ia mulai lagi dari bawah. Lagi-lagi harus menerima perlakuan tak adil. Dicibir, dianggap ‘jongos’, diperlakukan seperti tak punya harga diri.
Tapi seperti biasa, ia diam. Ia bekerja. Ia buktikan diri. Ia memilih jadi matahari yang tetap bersinar meski dicaci, daripada jadi lilin yang cepat padam karena angin kecil.
Pelan tapi pasti, ia naik. Sampai akhirnya ia dipercaya menjadi pimpinan di wilayahnya. Yang membuat saya terharu, ia cerita. Atasan yang dulu pernah meremehkannya, datang meminta maaf.
Ia pun bercerita bahwa dirinya sedang ditawari untuk pindah ke ibukota. Sebuah posisi yang dulu bahkan tak pernah ia impikan. Tapi semesta tahu, siapa yang bekerja keras dengan hati, akan dibukakan jalan.
Ia anak panti. Tapi tak pernah menggantungkan nasibnya pada belas kasihan orang. Ia membangun takdirnya dengan keringat, luka, dan keteguhan.
Mentalitas seperti inilah yang langka. Bukan soal kecerdasan semata, tapi ketangguhan. We called this, mental toughneas. Tahan banting. Istilah yang mungkin sering kita dengar, tapi jarang kita pahami dalam-dalam. Karena tahan banting itu bukan berarti tak pernah jatuh. Tapi selalu bangkit dengan kepala tegak, meski dunia sudah menjatuhkan berkali-kali.
Kisah J.K. Rowling misalkan. Si penulis Harry Potter, adalah salah satu ikon dunia tentang mentalitas tahan banting. Sebelum ia menjadi penulis terkaya di dunia, ia hanyalah seorang ibu tunggal yang hidup dari tunjangan sosial, menulis di kafe-kafe dengan kondisi keuangan yang sangat sulit. Naskah Harry Potter ditolak oleh 12 penerbit besar.
Tapi ia terus mengirimkan naskah itu. Lagi dan lagi. Sampai akhirnya Bloomsbury bersedia menerbitkannya, itupun karena anak sang editor jatuh cinta pada cerita tersebut. Dunia pun berubah. Tapi bukan karena nasib yang berubah sendiri. Dunia berubah karena Rowling bertahan melewati hujan penolakan.
Begitu pula dengan Chicken Soup for the Soul, buku motivasi karya Jack Canfield dan Mark Victor Hansen. Mereka menawarkan buku itu ke lebih dari 130 penerbit. Semuanya menolak. Alasannya klasik. Tidak laku, terlalu klise, tidak menjual. Tapi mereka berdua percaya pada isi buku itu. Mereka terus mencoba. Dan akhirnya, satu penerbit kecil menerbitkannya. Tak lama kemudian, buku itu menjadi bestseller internasional, diterjemahkan ke puluhan bahasa dan menginspirasi jutaan jiwa.
Mentalitas tahan banting bukan hanya tentang kekuatan fisik atau kecerdasan intelektual. Tapi tentang mengubah cara pandang terhadap kesulitan. Melihat masalah bukan sebagai tembok penghalang, melainkan sebagai tangga naik. Tantangan bukan untuk ditakuti, tapi dipecahkan satu demi satu.
Menjadi tahan banting juga berarti percaya pada kemampuan diri. Tidak mudah goyah saat diremehkan. Tidak mengandalkan bantuan orang lain sebagai satu-satunya jalan keluar. Karena dunia ini tak selalu memberi pelampung. Kadang kita harus belajar berenang sendiri di tengah badai.
Tahan banting artinya menyambut kesulitan sebagai bagian dari pertumbuhan. Semakin sering kita hadapi masalah, semakin kuat otot mental kita. Seperti tubuh yang dilatih angkat beban, jiwa juga perlu latihan: menghadapi kegagalan, menerima penolakan, melawan rasa ingin menyerah.
Orang tahan banting juga tahu satu hal penting: kalau strategi lama tak berhasil, bangkitlah dengan cara baru. Jangan ulang kesalahan yang sama. Belajar dari pengalaman. Perbaiki arah. Ubah pendekatan.
Dan yang terakhir, orang yang tahan banting sadar bahwa masalah mereka bukan yang terberat. Selalu ada orang di luar sana yang menghadapi badai lebih besar, tapi masih bisa berjalan. Maka jangan jadikan penderitaan sebagai alasan untuk berhenti. Jadikan itu alasan untuk terus berjuang.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Tapi siapa yang paling kuat bertahan sampai garis akhir.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
