Titik awal jadi penentu. Salah memulai, karir bisa membayar biaya yang mahal.
Beberapa tahun lalu, saya pernah bertemu dua orang karyawan muda yang masuk ke sebuah perusahaan pada waktu hampir bersamaan. Kita sebut saja namanya Dimas serta Raka.
Awalnya, Dimas kelihatan jauh lebih menonjol. Cara bicaranya meyakinkan, idenya banyak, dan semangatnya luar biasa. Pada minggu pertama, dia datang paling pagi. Di setiap rapat, tangannya selalu terangkat. Pokoknya, kelihatan banget anak ini punya masa depan.
Sementara, Raka berbeda. Nggak terlalu banyak bicara. Penampilannya biasa aja. Kalau dikasih pekerjaan, dia mencatat, bertanya kalau belum jelas, lalu mengerjakannya sampai selesai.
Enam bulan kemudian, keadaan mulai berubah.
Dimas mulai sering terlambat. Beberapa ide yang pernah dia usulkan nggak jelas kelanjutannya. Ketika diminta mengerjakan tugas rutin, dia merasa pekerjaan itu terlalu kecil buat dirinya.
Sementara Raka justru makin dipercaya. Bukan karena dia paling pintar, tetapi karena atasannya tahu satu hal sederhana, kalau pekerjaan diserahkan kepada Raka, pekerjaan itu akan selesai.
Tiga tahun kemudian, Raka sudah menjadi supervisor. Dimas masih sibuk bertanya, “Kenapa ya, karir saya nggak ke mana-mana?”
Kisah seperti ini sebenarnya sering terjadi di dunia kerja. Banyak karyawan pemula mengira karir ditentukan oleh kecerdasan, gelar, keberanian bicara, atau kemampuan menjual diri. Semua itu memang berguna sih. Namun, reputasi profesional justru sering dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan tiap hari.
Nah, berikut ini adalah tujuh kesalahan fatal yang sering dilakukan karyawan pemula.
1. Nggak Punya Visi Kerja
Banyak anak muda masuk ke dunia kerja dengan satu tujuan, mendapatkan pekerjaan.
Begitu diterima, tujuannya selesai.
Akhirnya, mereka bekerja sekadar datang, mengerjakan tugas, menerima gaji, lalu pulang. Nggak ada gambaran mau menjadi profesional seperti apa. Nggak tahu kemampuan apa yang perlu dibesarkan. Nggak pernah bertanya, “Kalau saya bekerja seperti ini terus, tiga tahun lagi saya akan jadi siapa?”
Visi kerja nggak selalu berarti harus punya target menjadi direktur pada usia tertentu. Visi bisa dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana.
“Saya mau dikenal sebagai orang yang bisa dipercaya.”
“Saya mau menguasai bidang ini dalam tiga tahun.”
“Saya mau belajar memimpin tim.”
“Saya mau mengumpulkan pengalaman sebelum membangun usaha sendiri.”
Visi membuat pekerjaan sehari-hari punya arah. Tanpa visi, seseorang hanya sibuk, tetapi nggak benar-benar bergerak ke mana-mana.
Ibarat naik taksi, kita sudah duduk nyaman, mesinnya sudah menyala, tetapi ketika sopir bertanya mau ke mana, kita cuma menjawab, “Jalan aja dulu, Pak.” Kebayang nggak?
Masalahnya, dunia kerja nggak selalu memberi tahu kita harus menuju ke mana. Kita sendiri yang perlu menentukan arahnya.
2. Semangat di Awal, Letoy di Akhir
Saat baru masuk kerja, semuanya terasa menarik. Baju masih rapi, sepatu masih mengilap, datang tiga puluh menit lebih awal, dan setiap tugas dijawab dengan penuh semangat, “Siap, Pak!”
Dua bulan kemudian, energinya mulai berkurang. Datang mulai mepet. Tugas mulai ditunda. Wajah mulai menunjukkan kebosanan. Kalimat “Siap, Pak!” berubah menjadi, “Memangnya harus hari ini?”
Semangat di awal memang bagus, tetapi dunia kerja nggak menilai kita hanya dari cara memulai. Orang juga melihat apakah energi itu bisa dipertahankan ketika pekerjaan mulai terasa rutin, tekanan meningkat, dan pujian nggak lagi sering diberikan.
Siapa pun bisa bersemangat saat semuanya masih baru. Profesionalisme terlihat ketika sesuatu sudah nggak lagi menyenangkan, tetapi kita tetap mengerjakannya dengan standar yang baik.
Karir bukan lari seratus meter. Karir lebih mirip maraton. Orang yang berlari terlalu kencang di awal, tetapi nggak bisa mengatur napas, akan kehabisan tenaga sebelum sampai ke tujuan.
Jangan hanya berusaha membuat kesan pertama yang hebat. Bangunlah kesan yang konsisten.
3. Senang Memulai, Nggak Bisa Mengakhiri
Ada orang yang punya banyak ide dan senang membuka proyek baru. Setiap diskusi, dia kelihatan paling antusias.
“Ayo, kita bikin ini!”
“Wah, idenya bagus. Saya yang kerjakan!”
“Tenang, minggu depan pasti selesai!”
Masalahnya, seminggu kemudian muncul ide baru. Proyek pertama belum selesai, proyek kedua sudah dimulai. Lalu datang proyek ketiga. Akhirnya, semua ada progresnya, tetapi nggak ada hasil akhirnya. Di dunia kerja, tugas yang 90 persen selesai tetap dianggap belum selesai.
Laporan yang belum dikirim belum menghasilkan manfaat. Proposal yang belum diperiksa belum bisa ditawarkan. Presentasi yang belum dirapikan belum siap digunakan. Ide sehebat apa pun nggak punya nilai sebelum diwujudkan dan dituntaskan.
Perusahaan nggak hanya butuh starter. Perusahaan butuh finisher.
Finisher adalah orang yang mampu menutup lingkaran pekerjaan. Dia mengecek detail terakhir, memastikan hasil sudah sesuai, mengirimkannya kepada pihak yang membutuhkan, lalu mengabarkan bahwa tugasnya selesai.
Kemampuan mengakhiri pekerjaan mungkin nggak kelihatan sekeren kemampuan melontarkan ide. Namun, justru dari situlah kepercayaan tumbuh.
4. Pilih-Pilih Kerjaan
Salah satu jebakan karyawan pemula adalah merasa pekerjaan tertentu layak dikerjakan, sementara pekerjaan lain terlalu kecil untuknya.
Kalau tugasnya membuat presentasi penting, dia semangat. Kalau diminta memeriksa data, menyusun arsip, membuat notulen, atau menghubungi pelanggan satu per satu, wajahnya langsung berubah.
“Kenapa saya yang harus mengerjakan ini?”
“Ini kan bukan bidang saya.”
“Saya kuliah tinggi-tinggi bukan untuk melakukan pekerjaan seperti ini.”
Tentu, pembagian kerja perlu jelas. Karyawan juga berhak berdiskusi jika terus-menerus diberikan pekerjaan yang benar-benar nggak sesuai. Namun, pada masa awal karir, terlalu cepat milih-milih kerjaan bisa membuat kita kehilangan kesempatan belajar.
Kadang, tugas kecil justru ngasih akses buat kita ke gambaran besar.
Sederhananya gini. Orang yang membuat notulen sebenarnya bisa belajar memahami cara pemimpin mengambil keputusan. Orang yang memeriksa data, jadi belajar menemukan pola. Orang yang menangani keluhan pelanggan belajar memahami masalah bisnis yang sebenarnya.
Banyak orang ingin mendapatkan panggung besar, tetapi nggak mau membantu menyiapkan kursinya.
Padahal, atasan sering menguji kesiapan seseorang lewat pekerjaan yang kelihatannya sederhana. Bukan karena ingin merendahkan, melainkan ingin melihat sikap, ketelitian, dan rasa tanggung jawabnya.
5. Menyepelekan Pekerjaan Kecil
Saya pernah mendengar seorang atasan berkata, “Saya nggak berani memberinya proyek besar. Pekerjaan kecil saja selalu berantakan.”
Kalimat itu sederhana, tetapi sangat masuk akal.
Bagaimana seseorang bisa dipercaya mengelola anggaran miliaran rupiah kalau mengirim jadwal rapat aja berkali-kali salah? Bagaimana dia bisa memimpin tim besar kalau membalas pesan penting saja harus selalu diingatkan? Bagaimana dia mau diberikan klien utama kalau nama klien di proposal pun salah tulis?
Pekerjaan kecil sebenarnya adalah tempat latihan yang paling jujur.
Di sanalah ketelitian, disiplin, dan kepedulian kita terlihat. Kesalahan kecil yang berulang sering memberi sinyal bahwa seseorang belum memiliki standar kerja yang kuat.
Orang sukses bukan berarti nggak pernah melakukan kesalahan. Bedanya, mereka belajar dari kesalahan kecil sebelum kesalahan itu tumbuh menjadi masalah besar.
Jangan meremehkan tugas hanya karena tugas itu nggak terlihat penting. Kadang, hal kecil adalah batu bata yang menopang reputasi besar.
6. Membuat Prioritas Kerjaan Sendiri
Ini juga sering terjadi. Atasan memberikan tiga pekerjaan dan menjelaskan mana yang harus diselesaikan lebih dulu. Namun, karyawan malah mengerjakan tugas yang paling mudah, paling menarik, atau paling dia sukai.
Ketika ditanya tentang pekerjaan utama, jawabannya, “Belum selesai, Pak. Tapi yang lainnya sudah saya kerjakan.”
Kelihatannya produktif, tetapi sebenarnya dia sedang sibuk pada hal yang salah.
Karyawan memang perlu punya inisiatif. Namun, inisiatif bukan berarti bebas menentukan prioritas tanpa memahami kebutuhan tim dan organisasi.
Ada tugas yang kelihatannya kecil, tetapi sedang ditunggu pelanggan. Ada pekerjaan yang tampaknya sederhana, tetapi menjadi syarat agar departemen lain bisa bergerak. Ada laporan yang membosankan, tetapi dibutuhkan pimpinan untuk mengambil keputusan.
Prioritas kerja bukan hanya soal mana yang kita anggap penting. Prioritas juga ditentukan oleh dampak, tenggat waktu, dan ketergantungan orang lain terhadap pekerjaan kita.
Kalau arahan atasan terasa kurang jelas, bertanyalah.
“Dari tiga tugas ini, mana yang perlu saya dahulukan?”
“Kalau ada pekerjaan baru, apakah prioritas sebelumnya berubah?”
“Batas waktu yang paling kritis yang mana?”
Bertanya tentang prioritas bukan tanda nggak mampu. Itu tanda bahwa kita ingin menggunakan waktu dan energi secara tepat.
7. Pasif Menunggu Perintah
Ada tipe karyawan yang bekerja hanya kalau disuruh.
Selesai satu tugas, dia diam. Melihat masalah, dia menunggu. Tahu ada pelanggan yang belum dijawab, dia merasa itu bukan urusannya. Ketika ditanya kenapa nggak mengambil tindakan, jawabannya terdengar aman, “Saya kan belum diperintah.”
Sikap seperti ini mungkin membuat seseorang terhindar dari kesalahan untuk sementara. Namun, dalam jangka panjang, dia juga akan terhindar dari kesempatan.
Atasan biasanya cepat mengenali dua jenis karyawan.
Yang pertama selalu bertanya, “Saya harus melakukan apa?”
Yang kedua datang sambil berkata, “Saya melihat ada masalah ini. Saya sudah memikirkan dua kemungkinan solusi. Menurut Bapak atau Ibu, mana yang sebaiknya saya jalankan?”
Karyawan kedua belum tentu lebih pintar. Namun, dia belajar membaca situasi, berpikir, dan mengambil tanggung jawab.
Tentu, proaktif bukan berarti bertindak sembarangan atau mengambil keputusan di luar kewenangan. Proaktif berarti nggak menutup mata. Kita berani melihat apa yang dibutuhkan, menawarkan bantuan, mengantisipasi masalah, dan membawa usulan.
Kalau belum tahu apa yang perlu dilakukan, jangan sekadar duduk menunggu. Bertanyalah, amati, dan cari cara untuk memberi nilai tambah.
Karier Dibangun Justru Saat Nggak Ada yang Bertepuk Tangan
Banyak karyawan pemula ingin cepat terlihat, cepat dipercaya, cepat dipromosikan, dan cepat mendapatkan pekerjaan besar. Keinginan itu wajar.
Namun, karir jarang tumbuh dari satu tindakan yang spektakuler.
Karir dibangun dari cara kita mengerjakan hal biasa secara luar biasa. Dari pekerjaan yang diselesaikan meskipun nggak ada yang mengawasi. Dari janji kecil yang ditepati. Dari kemauan belajar saat ego ingin terlihat paling tahu. Dari konsistensi yang tetap dijaga meskipun nggak ada yang bertepuk tangan.
Kalau saat ini kita masih berada di awal perjalanan, jangan terlalu sibuk membuktikan bahwa kita pantas mendapatkan posisi besar. Tunjukkan dulu bahwa kita bisa dipercaya untuk memegang tanggung jawab yang ada di depan mata.
Punya arah. Jaga energi. Tuntaskan pekerjaan. Jangan pilih-pilih tugas. Hargai hal kecil. Ikuti prioritas. Dan bergeraklah tanpa harus selalu disuruh.
Orang mungkin pertama kali mengenal kita dari gelar, penampilan, atau cara bicara. Namun, mereka akan memutuskan masa depan kita dari sikap dan kualitas kerja yang kita tunjukkan berulang kali.
Sebab, awal karir bukan sekadar masa mencari pengalaman. Itulah masa ketika kita sedang diam-diam membangun nama.
Nama yang suatu hari bisa membuat orang berkata, “Kalau pekerjaan ini penting, serahkan kepadanya. Dia bisa dipercaya.”
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
