Sejak kisah Aurelie muncul lewat buku “The Broken Strings”, istilah child grooming dan sexual grooming mulai ramai dibicarakan. Banyak orang baru tersentak. Baru sadar. Padahal, praktik ini sudah lama terjadi, diam diam, dan sering terkubur rapat. Bukan karena tidak ada korbannya, tapi karena para korban tak berani bicara. Dan kalau pun kisahnya bocor, sering kali hanya beredar di lingkar keluarga. Sebab ini dianggap aib.
Salah satu kisah nyata yang saya ketahui terjadi di sebuah kampus terkemuka di Jawa. Korbannya seorang mahasiswi yang sedang menyusun skripsi. Pelakunya justru dosen pembimbingnya sendiri. Awalnya perhatian, suportif, tampak peduli. Lalu batas perlahan digeser. Bimbingan berpindah dari kampus ke kos. Relasi menjadi “intim.” Mirip kisah Aurelie, dosen ini membatasi pergaulan korban, mengontrol, dan menyiksa secara psikis.
Kenapa tidak melawan? Karena dosen itu rajin merekam foto syur dan video korban. Ada foto korban sendiri, ada foto berdua. Semua bahkan sudah diskenariokan seolah korbanlah yang genit. Ancaman pun dimulai. Jika melapor, rekaman akan disebar. Jika ketahuan, korban diyakinkan akan dikeluarkan dari kampus. Sang dosen berkata dingin, “Kalau saya keluar, saya bisa cari kerja di tempat lain.” Ancaman yang terasa sangat nyata bagi korban muda yang sedang menggantungkan masa depannya.
Dua tahun skripsinya tak kunjung selesai. Baru rampung ketika pelaku dipindahkan. Korban lulus. Tapi lukanya sendiri, tidak ikut lulus.
Teror dan pelecehan itu menghancurkan kemampuannya membangun relasi sehat. Dua pernikahan kandas. Relasi dengan pria datang dan pergi. Ketika ada cinta tulus, ia justru menjauh. Salah satu pernikahan bahkan diwarnai KDRT. Hidup berjalan, tapi dengan luka yang terus berdarah di dalam.
Dan inilah fakta pahitnya. Kisah ini bukan satu dua. Banyak terjadi. Ada yang dimulai sejak SMP atau SMA, ketika seorang remaja digrooming oleh kakak kelasnya, lalu berlanjut hingga kuliah. Modusnya serupa. Difoto, direkam, dieksploitasi secara seksual bertahun tahun. Korban takut melapor karena ancaman. Takut orang tua tahu. Takut dicap. Takut masa depannya hancur.
Di dunia kerja pun sama kejamnya. Seorang direktur dengan jahatnya, menggunakan jabatannya untuk melakukan sexual grooming pada salah satu karyawati MT (management trainee). Janji promosi disodorkan. Ancaman pemecatan menyusul. Peristiwa ini berlangsung bertahun tahun. Tanpa laporan. Tanpa suara. Karena pelaku tahu persis satu hal. Posisinya sebagai direktur dikagumi korban, dan korbanpun taku kehilangan peluang karirnya.
Begitulah wajah grooming. Yang paling jahat tentu saja pelakunya. Dan masalahnya tidak selesai ketika relasi groooming itu ketahuan dan berakhir. Dampaknya justru sering baru terasa setelahnya. Apa saja dampak buruknya?
Salah satu buku menarik yang membahas ini adalh bukunya Patrick Carnes, yakni “The Betrayal Bond: Breaking Free of Exploitative Relationships”. Ada beberapa dampak buruk terhadap si korban yang perlu menjadi perhatian. Mari kita simpulkan 10 dampak buruknya.
1. Harga diri yang rapuh.
Karna manipulasi dan penindasan bertahun-tahun, harga diri korbanpun kena. Dan biasamya korbannya sendiro adalah yang harga dirinya rapuh. Pada akhirnya, grooming mungkin berakhor dan korban bisa kembali hidup normal. Malahan korban di masa depan bisa tampak sukses dan tegar. Tapi, didalamnya, kerapuhan itu mungkin menetap. Korban tetap haus validasi. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak pernah cukup, tidak pernah pantas, dan selalu harus membuktikan nilai diri.
2. Termostat mental cinta yang rusak
Korban seringkali merasa cinta yang sehat itu terlalu “dingin” atau malahan membosankan. Ia justru tertarik pada relasi yang menyakitkan karena itulah standar cinta yang terekam di sistem sarafnya. Pasangan yang stabil terasa asing. Pasangan yang manipulatif terasa familiar buatnya.
4. Kecenderungan memilih pasangan abusif dan agresif
Literatur menunjukkan korban trauma relasional sering tertarik pada figur dominan, kasar, atau berandal. Bukan karena mereka menyukai kekerasan, tapi karena sistem emosi mereka mengenali pola itu sebagai “rumah” yang pernah mereka miliki.
5. Pembuktian Diri Lewat Seks atau Manipulasi Balik
Sebagian korban justru berbalik jadi pelaku manipulasi. Mereka gampang menggoda, menjebak, atau memainkan emosi orang lain semata mata untuk memastikan bahwa dirinya masih diinginkan. Di satu sisi, ia sadar perilaku ini melanggar nilai dan moral yang ia yakini. Namun di sisi lain, ada bagian diri yang “menikmati” sensasi tersebut. Inilah luka yang menyamar. Ada dorongan di dirinya untuk mengumpulkan perhatian, pengakuan, dan “trophy cinta” dari orang orang yang berhasil ia taklukkan. Disini ada kehausan batin yang tidak pernah benar-benar pulih.
6. Terjebak dalam relasi singkat dan siklus kawin cerai
Ketidakmampuan membangun kelekatan aman membuat relasi jangka panjang terasa menakutkan baginya. Hubungannya pun datang dan pergi. Korban bisa berubah menjadi “piala bergilir” bagi banyak lawan jenisnya. Ia punya banyak kisah petualangan cinta, karena ia tak pernah belajar soal cinta yang aman.
7. Menolak cinta tulus, mengejar sensasi dopamin
Relasi sehat tidak memicu lonjakan adrenalin. Sedangkan grooming membanjiri korban dengan love bombing. Akibatnya, otak korban lebih mengejar sensasi daripada keamanan. Yang stabil ditinggalkan. Yang kacau justru dikejar. Jadinya, hidup mereka pun bagaikan roller coaster dan banyak dramanya.
8. Disosiasi emosi dan kebingungan soal cinta dan kasih sayang
Banyak korban justru kelihatan tanpa emosi, flat dan kehilangan empatinya. Ia belajar dari pelaku yang tega, maka ia pun bisa berkembang jadi orang yang sangat “tega” terhadap orang yang mengancam atau tak disukainya. Ia pun jadi belajar bahwa cinta itu ada ongkosnya. Jika ingin dicintai, maka harus ada pengorbanannya. Maka iapun mengembangkan cinta bersyarat dalam dirinya. Ini ia berlakukan buat dirinya, juga buat orang disekitarnya. Prinsipnya “kamu harus melakukan ini, supaya disayang oleh saya”.
9. Rentan Mengalami Depresi, Kecemasan, dan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)
Trauma akibat grooming bukanlah trauma satu peristiwa. Ia tidak berhenti begitu relasi itu berakhir. Dalam banyak kasus, trauma ini bekerja berulang di dalam pikiran dan sistem emosi korban. Dampaknya bisa muncul bertahun tahun kemudian. Mulai dari stress berlebihan, insomnia, serangan panik, rasa bersalah yang berlebihan, hingga kelelahan emosional kronis tanpa penyebab yang jelas. Luka ini sering tidak terlihat, tetapi terus memengaruhi kualitas hidupnya si korban secara diam diam.
10. Pola pengasuhan yang berisiko berulang lintas generasi
Tanpa pemulihan, luka ini bisa terbawa ke pola parentingnya. Korban berisiko terlalu permisif, terlalu keras, atau gagal mengenali tanda bahaya pada anaknya sendiri. Trauma yang tak disembuhkan cenderung diwariskan, bukan karena niat jahat, tapi karena ketidaksadaran. Bentuknya bisa antara ekstrim abusif atau justru over-protective disertai model cinta kepada anaknya yang bersyarat. Mereka gampang kecewa saat si anak tak memenuhi harapan mereka.
Pertama, laporlah, meski menakutkan. Pelaku grooming hampir tidak pernah berhenti dengan sukarela. Mereka biasanya baru melepas ketika ada otoritas yang berani menindak. Ancaman memang nyata. Tapi diam sering kali memperpanjang kekuasaan pelaku.
Kedua, jalani terapi hingga tuntas. Jangan berhenti di tengah jalan. Grooming bukan luka kecil. Ia luka psikologis yang dalam. Jika dibiarkan, ia tidak sembuh sendiri. Ia hanya diam dan menunggu waktu.
Ketiga, lepaskan diri dari pengaruh grooming secara sadar. Jika tidak, luka ini akan bekerja di bawah sadar, merongrong relasi sehat, terutama saat audah dewasa dan berkeluarga.
Keempat, bagi orang orang di sekitar korban, empati adalah kunci. Jangan menyalahkan. Jangan menginterogasi. Jangan bertanya kenapa tidak melawan. Korban sering kali tidak berdaya dan tidak pernah menginginkan semua itu.
Dan satu hal penting yang bisa jadi berita positifnya. Bahwa, tidak semua korban pasti hancur hidupnya. Ada banyak kok yang justru menjadi lebih tegar, lebih sadar, bahkan mampu berkarya luar biasa setelah keluar dari belenggu ini. Tapi satu syaratnya sama. Luka itu harus diakui. Diterapi. Dan betul-betul disembuhkan.
Karena pada akhirnya, luka yang disembuhkan bisa menjadi sumber kekuatan luar biasa. Sedangkan luka yang disangkal, akan terus mencari jalan pulang…di relasi, di keluarga, dan di masa depan.
For all of the child & sexual grooming victim, be strong and make your life even better, not bitter!
Salam Antusias!
-Anthony Dio Martin-
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
