EQ bukan sekadar kemampuan memahami perasaan orang lain. Dalam praktik kepemimpinan, EQ menentukan apakah strategi benar-benar bergerak atau hanya berhenti sebagai bahan presentasi.
Saat Hubert Joly ditunjuk menjadi CEO Best Buy pada 2012, banyak orang menganggap perusahaan itu sedang menunggu kematian.
Apa yang terjadi? Konsumen cuma datang ke gerainya untuk melihat barang. Lalu, membelinya secara online dari Amazon dengan harga lebih murah.
Biasanya sih, pemimpin baru akan langsung membawa konsultan, menutup toko dan memangkas karyawan. Namun Joly memilih langkah yang beda. Ia lebih fokus ke people skillsnya. Fokus ke orang dulu! Ia memakai seragam biru khas ala Best Buy, lalu turun ke toko. Bicara dengan karyawan dan mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.
Dari percakapan itulah ia menemukan bahwa masalah Best Buy bukan semata-mata kurang strategi. Banyak ide bagus sebenarnya sudah ada, tetapi suara orang lapangan tidak cukup didengar.
Next stepnya? Joly kemudian memperbaiki harga, mempercepat pengiriman dengan menjadikan toko sebagai titik distribusi. Ia meningkatkan pelatihan karyawan dan memangkas berbagai pemborosan. Best Buy bukan hanya selamat. Dalam empat tahun berikutnya, margin operasi, laba per saham dan tingkat pengembalian modalnya meningkat signifikan.
Apa yang bisa kita dapat dari kisah perusahaan ritail Best Buy ini? Intinya, kisah ini menunjukkan bahwa EQ bukan aksesori lembut dalam kepemimpinan. EQ adalah bagian dari mesin eksekusi seorang leader.
Pertama, EQ membantu pemimpin menangkap realitas lebih cepat.
Pemimpin dengan EQ tinggi tidak hanya mendengar laporan yang menyenangkan. Ia mampu membaca kegelisahan, keraguan dan informasi yang belum berani disampaikan orang. Empati membuat pemimpin memperoleh data yang tidak selalu muncul di dashboard.
Kedua, EQ menjaga kualitas keputusan di bawah tekanan.
Saat target meleset, pemimpin yang tidak mampu mengelola emosi mudah bereaksi berlebihan. Ia mencari kambing hitam, mengganti prioritas atau membuat keputusan impulsif. EQ memberi jarak antara stimulus dan respons. Pemimpin tetap bisa bergerak cepat tanpa menjadi ceroboh.
Ketiga, EQ mengubah resistensi menjadi komitmen.
Ingatlah! Orang jarang menolak perubahan hanya karena tidak memahami strateginya. Mereka menolak karena merasa tidak dilibatkan, tidak aman atau pun tidak dihargai. Nah, pemimpin yang cerdas emosi mampu membaca sumber penolakan. Lalu, menyesuaikan cara komunikasinya.
Keempat, EQ mempercepat koordinasi.
Eksekusi sering macet bukan karena orang tidak kompeten, tetapi karena ego antardivisi terlalu besar. EQ membuat pemimpin mampu mengelola konflik, meredakan ketegangan dan mengembalikan perhatian kepada tujuan bersama.
Kelima, EQ menciptakan keberanian untuk menyampaikan masalah.
Dalam tim yang takut kepada pemimpinnya, kabar buruk selalu datang terlambat. Sebaliknya, pemimpin yang terbuka terhadap kritik menciptakan sistem peringatan dini. Kesalahan kecil dapat dikoreksi sebelum berubah menjadi krisis.
Kalau dianalogikan. EQ itu ibarat oli dalam mesin. Memang sih, oli tidak akan menentukan ke mana kendaraan akan pergi. Namun tanpa oli, mesin terbaik sekalipun akan panas, aus dan akhirnya mogok.
Strategi menunjukkan arah. Kompetensi menyediakan kemampuan. Tetapi kecerdasan emosional memastikan manusia di dalam organisasi tetap berani berbicara, mampu bekerja sama dan konsisten bergerak.
Jadi, jangan lagi menilai EQ hanya dari seberapa ramah seorang pemimpin. Ukurlah dari sesuatu yang lebih nyata.
Apakah kehadirannya membuat masalah lebih cepat terungkap, keputusan lebih jernih dan pekerjaan lebih cepat diselesaikan?
Di situlah EQ berhenti menjadi sekadar soft skill. Ia berubah menjadi bagian dari execution skill.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
