Saya sering bertemu tim sales yang luar biasa sibuk. Kalender mereka penuh, follow up jalan terus, meeting tidak berhenti, telepon dan chat dilakukan hampir tanpa jeda. Tapi ketika ditanya hasilnya, jawabannya hampir selalu sama, “Masih belum goal sih.”
Di titik ini, banyak orang langsung menyimpulkan satu hal, kurang kerja keras. Padahal, dalam banyak kasus yang saya temui, masalahnya bukan di effort, melainkan di arah. Saya belajar satu hal penting selama bertahun tahun mendampingi tim sales, aktivitas itu tidak selalu berarti produktivitas, bahkan aktivitas yang salah arah justru bisa menjadi ilusi produktivitas yang paling berbahaya.
Ilusi Sibuk yang Menjebak Tim Sales
Bayangkan seseorang yang berlari di treadmill. Keringat keluar, nafas terengah, terlihat sangat bekerja keras, tapi sejauh apa dia berpindah tempat, tidak ke mana mana.
Begitulah yang sering terjadi di tim sales. Mereka melakukan banyak follow up, mengejar banyak prospek, menghadiri banyak meeting, tapi prospeknya tidak tepat, target marketnya kabur, dan prioritasnya tidak jelas. Akhirnya energi besar habis untuk hal yang dampaknya kecil.
Saya pernah menemukan sebuah tim yang melakukan ratusan follow up setiap minggu, tetapi ketika saya tanya siapa prospeknya, jawabannya sangat umum. Semua orang disasar dan semua dianggap potensial. Di situlah masalahnya muncul, ketika semua dianggap target, sebenarnya tidak ada target yang benar benar dikejar dengan fokus.
Akar Masalah yang Sering Tidak Disadari
Dari berbagai pengalaman tersebut, saya melihat ada beberapa akar masalah yang berulang.
Pertama, tidak jelasnya ideal customernya. Banyak tim sales tidak punya definisi yang tajam tentang siapa yang benar benar layak dikejar, mereka hanya mengejar siapa saja yang terlihat mungkin bisa beli.
Kedua, aktivitas tidak terhubung dengan strategi. Sales melakukan banyak hal, tapi tidak tahu aktivitas mana yang benar benar menghasilkan closing.
Ketiga, terlalu fokus pada kuantitas, bukan kualitas. Semakin banyak kontak dianggap semakin baik, padahal yang lebih penting adalah kualitas interaksi.
Keempat, tidak ada evaluasi funnel yang jelas. Akibatnya tidak tahu di mana prospek banyak gugur, apakah di awal, di tengah, atau di akhir.
Kelima, kenyamanan dalam rutinitas. Aktivitas tinggi sering membuat tim merasa sudah bekerja, sehingga lupa mempertanyakan apakah yang dilakukan benar benar efektif.
Menggeser Fokus dari Sekedar Sibuk
Di sinilah perubahan mindset menjadi sangat penting. Sales bukan tentang siapa yang paling sibuk, sales adalah tentang siapa yang paling tepat.
Saya selalu mengajak tim untuk mulai bertanya pertanyaan sederhana tapi dalam. Apakah kita mengejar orang yang tepat, apakah masalah yang kita tawarkan solusinya memang mereka butuhkan, dan apakah cara kita mendekati mereka sudah sesuai.
Kalau jawabannya tidak jelas, maka aktivitas sebanyak apapun hanya akan menjadi pengulangan kesalahan.
Berikut beberapa pendekatan yang saya gunakan ketika membantu tim sales bertransformasi dari sekadar sibuk menjadi benar benar produktif.
Pertama, definisikan ideal customer dengan tajam. Jangan hanya berkata semua orang bisa jadi target, tentukan dengan spesifik industri apa, jabatan siapa, masalah utama mereka apa, dan daya beli seperti apa. Semakin tajam definisinya, semakin mudah tim sales bergerak dengan fokus.
Kedua, prioritaskan prospek berdasarkan potensi. Tidak semua prospek punya nilai yang sama. Maka rajin-rajinlah untuk analisa kembali kategori prospect kita. Tandai lagi mana yamg hot prospect (bagus), warm prospect (lumayan), dan cold prospect (berat). Fokuskan energi terbesar pada prospek yang paling berpotensi closing, bukan yang paling mudah dihubungi.
Ketiga, ukur aktivitas yang benar benar berdampak. Jangan hanya menghitung jumlah aktivitas, tapi mulai ukur berapa yang berujung meeting, berapa yang berujung proposal, dan berapa yang berujung closing. Dari situ akan terlihat aktivitas mana yang perlu diperbanyak dan mana yang harus dihentikan.
Keempat, perbaiki kualitas percakapan, bukan hanya frekuensi. Banyak sales terlalu cepat menjual, padahal yang dibutuhkan adalah memahami. Ajarkan tim untuk menggali kebutuhan, mendengarkan lebih dalam, dan mengaitkan solusi dengan masalah nyata.
Kelima, lakukan review funnel secara berkala. Setiap minggu lihat pipeline, di mana prospek paling banyak hilang, apa penyebabnya, dan apa yang bisa diperbaiki. Sales yang hebat bukan hanya yang jago closing, tapi yang terus belajar dari setiap proses.
Refleksi Akhir Buat Para Sales
Saya pernah bekerja dengan sebuah tim yang merasa mereka sudah maksimal. Setelah kita bedah bersama, ternyata 70 persen waktu mereka dihabiskan untuk prospek yang kemungkinan closingnya sangat kecil.
Ketika mereka mulai fokus hanya pada 30 persen prospek terbaik, hasilnya berubah drastis. Aktivitas mereka justru berkurang, tapi closing meningkat. Di situlah saya semakin yakin, masalah terbesar dalam sales bukan kurang kerja keras, melainkan kerja keras yang tidak diarahkan dengan tepat.
Intinya. Kerja keras itu penting, tapi kerja keras tanpa arah hanya akan melelahkan tanpa hasil. Sebagai praktisi dan pendamping tim sales, saya selalu percaya satu hal sederhana, lebih baik melakukan sedikit hal yang tepat daripada banyak hal yang tidak berdampak.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa sibuk tim Anda yang menentukan hasil, tapi seberapa tepat mereka bergerak.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
