Saya pernah masuk ke sebuah organisasi yang secara angka masih terlihat aman. Target tercapai. Struktur rapi. Tapi ada sesuatu yang terasa janggal. Tim bekerja, tapi tanpa arah yang jelas. Diskusi panjang, keputusan minim. Atau sebaliknya, keputusan ada… tapi sering tidak nyambung dengan realita di lapangan. Setelah ditelusuri, jawabannya sederhana sekaligus mengkhawatirkan. Pemimpinnya tidak siap untuk posisi itu.
Ia bukan orang baru. Bahkan sebelumnya dianggap berhasil. Di unit sebelumnya, ia dikenal solid. Tapi ketika dipindahkan ke posisi direktur di unit yang berbeda, semuanya berubah. Cara berpikirnya tidak cukup dalam untuk memahami kompleksitas baru. Ia kesulitan membaca situasi. Ia terlihat bekerja keras, tapi arah yang diberikan sering tidak jelas. Di sinilah organisasi mulai membayar harga dari sebuah asumsi yang terlalu sederhana. Kalau seseorang berhasil di satu tempat, belum tentu ia akan berhasil di tempat lain.
Fenomena ini sebenarnya sudah lama dijelaskan dalam konsep Peter Principle. Intinya sederhana. Seseorang akan terus dipromosikan sampai pada titik di mana ia tidak lagi kompeten. Ia naik karena dianggap berhasil. Lalu naik lagi. Sampai akhirnya ia berada di posisi yang menuntut kemampuan yang berbeda, dan di situlah ia mulai tidak mampu. Masalahnya, ketika sudah sampai di titik itu, dampaknya tidak hanya ke dirinya sendiri. Tapi ke seluruh tim dan organisasi.
Tanda yang Sering Terlihat, Tapi Jarang Disadari
Leader yang tidak kompeten tidak selalu terlihat buruk. Justru sering terlihat “baik baik saja”. Berbicara lancar. Terlihat sibuk. Aktif dalam berbagai forum. Tapi kalau diperhatikan lebih dalam, ada pola yang berulang.
Ketika ditanya, jawabannya terdengar pintar… tapi kosong. Normatif. Umum. Tidak benar benar menjawab inti. Begitu didorong lebih dalam, jawabannya mulai berputar. Menghindar. Atau dialihkan ke hal lain. Ini bukan soal gaya komunikasi. Ini soal pemahaman yang tidak cukup dalam.
Ia juga kesulitan menjelaskan hal yang kompleks menjadi sederhana. Padahal di situlah esensi kepemimpinan. Leader bukan sekadar tahu, tapi mampu membuat orang lain mengerti. Kalau penjelasannya justru membuat tim semakin bingung, besar kemungkinan ia sendiri belum benar benar memahami masalah.
Di sisi lain, keputusan yang diambil sering tidak nyambung dengan realita. Kebijakan terasa jauh dari kondisi lapangan. Tim yang menjalankan langsung tahu, ini tidak akan berjalan efektif. Tapi tetap harus dijalankan. Akibatnya, energi habis bukan untuk berkembang, tapi untuk menyesuaikan kebijakan yang tidak tepat.
Yang paling terasa sebenarnya bukan di laporan, tapi di suasana. Energi tim turun. Orang mulai bekerja sekadar menjalankan. Bukan karena tidak mau berkontribusi, tapi karena kehilangan arah. Dan ini terjadi pelan pelan.
Dampak yang Diam Diam Menggerus Organisasi
Masalah terbesar dari pemimpin yang tidak kompeten bukan pada satu kesalahan besar. Tapi pada akumulasi kesalahan kecil yang terjadi terus menerus.
Arah yang berubah ubah membuat tim kehilangan kepercayaan. Keputusan yang tidak tepat membuat proses menjadi lambat. Talenta terbaik mulai mencari tempat lain, bukan karena mereka tidak kuat, tapi karena mereka tidak melihat masa depan.
Organisasi sering tidak langsung runtuh. Tapi pelan pelan melemah. Seperti kapal yang tidak tenggelam seketika, tapi terus kemasukan air tanpa disadari. Dan ketika akhirnya terasa, biasanya sudah terlambat.
Mengapa Ini Terus Terjadi?
Karena banyak organisasi masih terjebak pada cara berpikir lama. Promosi dianggap sebagai reward. Siapa yang perform, dia yang naik. Padahal setiap level membutuhkan kompetensi yang berbeda.
Seorang yang hebat secara teknis belum tentu mampu memimpin manusia. Seorang yang cepat mengeksekusi belum tentu mampu berpikir strategis. Tapi hal ini sering diabaikan.
Ditambah lagi, ada faktor kenyamanan. Kedekatan. Atau sekadar asumsi bahwa nanti juga bisa belajar sambil jalan. Masalahnya, posisi leadership bukan tempat belajar tanpa risiko. Kesalahan di level ini tidak hanya berdampak pada individu, tapi pada banyak orang.
Apa yang Seharusnya Dilakukan?
Organisasi perlu mulai melihat promosi sebagai keputusan strategis, bukan sekadar penghargaan. Yang dilihat bukan hanya kinerja masa lalu, tapi kesiapan untuk masa depan.
Apakah orang ini mampu berpikir di level yang lebih tinggi. Apakah ia punya kemampuan memahami konteks baru. Apakah ia mampu memimpin, bukan hanya bekerja.
Leader juga perlu memiliki kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan. Mengatakan “saya belum tahu” bukan tanda kelemahan. Justru itu awal dari kepemimpinan yang sehat. Karena dari situ muncul keinginan untuk belajar dan berkembang.
Dan yang tidak kalah penting, organisasi harus berani mengevaluasi. Bukan mempertahankan hanya karena sudah terlanjur. Karena mempertahankan pemimpin yang tidak kompeten seringkali jauh lebih mahal daripada menggantinya.
Akhirnya, Ini Bukan Sekadar Soal Jabatan
Kepemimpinan bukan tentang posisi. Tapi tentang kapasitas.
Sebagai kesimpulan penting di akhir artikel ini, banyak organisasi tidak gagal karena kekurangan orang pintar. Mereka gagal karena menempatkan orang yang tepat… di posisi yang salah.
“Bukan semua yang layak dipromosikan itu siap memimpin. Dan ketika yang tidak siap tetap dipaksa memimpin, yang runtuh bukan hanya dia… tapi seluruh sistem yang dipimpinnya.”
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
