Dalam sebuah sesi coaching, seorang manager pernah bercerita dengan penuh semangat setelah mengikuti seminar motivasi. Ia begitu terinspirasi oleh pembicara yang mengaku sukses tanpa modal besar, tanpa koneksi, bahkan tanpa latar belakang pendidikan yang kuat. Baginya, cerita itu seperti membuka harapan baru bahwa sukses tidak harus selalu mengikuti “aturan umum”. Ia lalu berkata dengan yakin, “Berarti saya juga bisa ya, yang penting berani action.”
Saya hanya tersenyum. Bukan karena ia salah, tetapi karena ia belum melihat keseluruhan gambarnya. Cerita sukses memang selalu punya daya tarik yang kuat. Ia seperti cahaya yang terang dan mengundang. Namun sering kali, cahaya itu membuat kita tidak melihat bayangan di belakangnya.
Ketika Cerita Sukses Menjadi Ilusi yang Meyakinkan
Di era sekarang, cerita sukses sangat mudah ditemukan. Media sosial penuh dengan kisah orang yang bangkit dari nol, video motivasi bertebaran, dan seminar menghadirkan narasumber dengan cerita luar biasa. Kita mendengar kisah orang yang memulai bisnis dari rumah lalu berkembang besar, orang yang sukses dari trading, konten creator yang viral dalam waktu singkat, atau karyawan yang naik jabatan walau dulu dianggap biasa saja.
Semua cerita itu benar dan tidak perlu diragukan. Namun masalahnya bukan pada ceritanya, melainkan pada cara kita memaknainya. Kita sering hanya melihat hasil akhirnya tanpa mempertanyakan proses dan kemungkinan lain di baliknya. Kita jarang bertanya, dari sekian banyak orang yang mencoba jalan yang sama, sebenarnya berapa banyak yang berhasil.
Memahami Konsep Survivorship Bias
Di sinilah kita masuk ke dalam konsep yang disebut Survivorship Bias.
Ini adalah kecenderungan manusia untuk fokus pada mereka yang berhasil bertahan, sementara yang gagal tidak terlihat atau tidak terdengar. Karena yang muncul ke permukaan hanyalah para survivor, kita jadi mengira bahwa jalan tersebut lebih mudah atau lebih umum daripada kenyataannya.
Contoh klasiknya terjadi pada masa Perang Dunia II. Saat itu, militer Amerika menganalisis pesawat yang kembali dari medan perang dan berencana memperkuat bagian yang paling banyak terkena peluru. Secara logika awal, itu terlihat masuk akal. Namun seorang analis bernama Abraham Wald memberikan sudut pandang berbeda. Ia menyatakan bahwa justru bagian yang tidak terkena peluru itulah yang harus diperkuat, karena pesawat yang terkena di bagian tersebut tidak pernah kembali. Artinya, yang dianalisis hanyalah pesawat yang selamat, sementara yang jatuh tidak masuk dalam data.
Inilah inti dari survivorship bias.
Contoh Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam sejarah, tetapi juga sangat dekat dengan kehidupan kita. Dalam dunia kerja, kita sering melihat orang yang tampaknya “melanggar aturan” namun tetap berhasil, seperti karyawan yang tidak terlalu disiplin tapi tetap dipromosikan, atau individu yang berani mengambil risiko besar lalu sukses. Dalam dunia bisnis, kita melihat orang yang memulai tanpa perencanaan matang tetapi akhirnya berhasil.
Namun yang tidak kita lihat adalah banyaknya orang dengan pola yang sama yang justru gagal. Kita tidak melihat karyawan yang tidak disiplin dan akhirnya kehilangan pekerjaan, pebisnis yang nekat tanpa perhitungan dan akhirnya bangkrut, atau individu yang berjalan tanpa arah lalu berhenti di tengah jalan. Karena yang terlihat hanya yang berhasil, kita jadi membangun persepsi yang tidak utuh.
Dampak Cara Berpikir yang Bias
Survivorship bias bisa membuat kita mengambil kesimpulan yang terlalu cepat dan terlalu optimistis. Kita cenderung berpikir bahwa jika orang lain bisa berhasil dengan cara tertentu, maka kita pun pasti bisa mengikuti jalan yang sama. Padahal setiap keberhasilan memiliki konteks yang berbeda, mulai dari waktu, peluang, jaringan, hingga faktor keberuntungan yang sering tidak diceritakan.
Jika kita tidak berhati-hati, kita bisa terjebak dalam keputusan yang kurang tepat. Kita bisa mengabaikan pentingnya persiapan, keterampilan, dan strategi, hanya karena terpengaruh oleh cerita sukses yang terlihat sederhana.
Cara Menyikapi dengan Lebih Bijak
Bukan berarti kita harus berhenti mendengarkan cerita sukses. Cerita tersebut tetap penting karena bisa memberikan inspirasi dan semangat. Namun kita perlu melengkapinya dengan cara berpikir yang lebih seimbang. Kita perlu bertanya lebih dalam, memahami konteks di balik cerita, serta belajar juga dari kegagalan yang jarang diceritakan.
Dengan cara ini, kita tidak hanya terinspirasi, tetapi juga menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan. Kita tidak sekadar mengikuti cerita, tetapi memahami realita di baliknya.
Cerita sukses sering kali seperti puncak gunung yang terlihat indah dari kejauhan. Kita melihat seseorang berdiri di atasnya dan merasa kagum, namun kita tidak melihat berapa banyak orang yang tersandung di perjalanan, berapa banyak yang berhenti di tengah jalan, atau bahkan tidak pernah sampai mendekati puncak tersebut.
Sebagai refleksi, kita tetap boleh bermimpi besar dan terinspirasi dari kisah orang lain. Namun di saat yang sama, kita juga perlu melihat dengan lebih jernih dan utuh. Karena hidup bukan hanya tentang siapa yang berhasil terlihat, tetapi juga tentang bagaimana kita memahami perjalanan menuju keberhasilan dengan penuh kesadaran.
Sebagai penutupan, saya ingin katakan, “Jangan hanya belajar dari mereka yang berhasil terlihat. Belajarlah juga dari yang tidak terlihat, karena di sanalah realita sering berbicara lebih jujur.”
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
