Ada satu benda sederhana yang sering membuat kita terdiam tanpa sadar. Yakni jam pasir. Di koleksi panjanganku, saya memiliki dua buah yang unik. Dan inilah yang saya jadikan bahan refleksi di akhir tahun ini.
Jika kita perhatikan, jam pasir itu sepertinya punya daya hipnotis. Satu butir pasir jatuh. Lalu berikutnya. Perlahan. Pasti. Konsisten. Nggak terburu-buru. Tidak bisa dipercepat. Tidak bisa dihentikan. Dan justru karena itulah, kita sering terpaku menatapnya.
Jam pasir seolah sedang bercerita tentang hidup kita sendiri.
Coba perhatikan! Jam pasir umumnya memiliki dua ruang. Bagian atas dan bagian bawah.
Pasir yang masih di atas adalah waktu yang masih kita miliki. Kesempatan. Harapan. Pilihan. Lalu, pasir yang sudah jatuh ke bawah adalah waktu yang telah lewat. Keputusan yang sudah diambil. Hari yang tak bisa diulang. Kata yang terlanjur terucap. Kesempatan yang mungkin terlewat.
Menariknya, ketika pasir di bagian atas masih banyak, kita cenderung santai. Merasa waktu masih panjang. Merasa nanti saja. Merasa besok masih ada.
Namun ketika pasir di atas mulai menipis, perasaan kita berubah. Ada kegelisahan. Kita mulai panik. Umumnya, ada penyesalan yang diam diam muncul.
Kenapa tadi tidak dimanfaatkan lebih baik. Tapi..Begitulah hidup.
Waktu yang sudah jatuh ke bawah tidak pernah bisa kembali ke atas dengan sendirinya. Tidak ada tombol “undo”-nya.
Kita mesti sadar. Tidak ada tahun yang akan sama persis. Tidak ada pula, tahun yang bisa diulang dengan kondisi yang identik. Dan di titik inilah, akhir tahun seringkali membuat kita merasa emosional.
Bukan cuma karna sekedar angkanya berganti. Tapi, karna kalau kita mulai jujur. Apa yang sudah kita lakukan dengan “butiran pasir waktu” tahun ini?
Apakah ia jatuh menjadi karya? Atau hanya menjadi keluhan? Apakah ia berubah menjadi pertumbuhan?
Atau sekadar berlalu tanpa makna? Lewat begitu saja?
Akhir tahun membuat kita bertanya dengan lebih dalam. Apakah ada penyesalan yang belum selesai, dan kita belum berdamai? Apakah ada rencana yang hanya berhenti di niat? Apakah ada relasi yang kita abaikan? Atau potensi diri yang terlalu lama kita tunda?
Kabar baiknya, jam pasir mengajarkan sebuah optimisme juga. Ia bisa dibalik. Dan di situlah harapan berada. Kita memang tidak bisa mengambil kembali pasir yang sudah jatuh. Tapi kita bisa memutar jamnya. Memberi makna baru pada pasir yang masih tersisa. Membuat aliran berikutnya lebih sadar. Lebih bernilai.Lebih bertanggung jawab.
Maka, menjelang berakhirnya tahun 2025, momen ini adalah undangan untuk berhenti sejenak.
Bukan untuk menyalahkan diri. Bukan untuk meratapi yang lalu. Tapi lebih sadar, bahwa setiap butir pasir yang jatuh esok hari adalah titipan.
Dan titipan yang sungguh dihargai, jarang akan berakhir dengan penyesalan.
Pada akhirnya, saya percaya, hidup bukanlah tentang berapa lama pasir itu jatuh. Atau berapa banyak pasir yang akan jatuh. Tetapi tentang apa yang kita lakukan selama pasir waktu itu masih mengalir.
So, sebelum malam tahun lama berganti. Selamat menikmati sisa-sisa butiran pasir waktu yang terakhir di tahun 2025 ini. Semoga besok kita lebih menghargai butir pasir kehidupan 2026 yang akan menyongsong kita.
Selalu bersyukur buat yang sudah lewat.
Dan optimis dengan yang akan menjelang!
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
