Beberapa waktu lalu saat saya sedang siaran di program Smart Emotion di SmartFM, kami membahas satu fenomena yang menurut saya makin sering terjadi di dunia kerja hari ini. Fenomena yang mungkin tidak selalu terlihat besar di awal, tapi diam-diam menghancurkan banyak orang dari dalam.
Fenomena ketika seseorang mulai membenci pekerjaannya sendiri.
Awalnya mungkin hanya terlihat sederhana. Ada pegawai yang mulai kerja asal-asalan. Ada customer service yang bicara ketus dan dingin. Ada orang yang sengaja memperlambat kerja. Ada yang diam-diam sabotase kantor. Ada yang menikmati melihat pelanggan kesal. Bahkan ada kasus viral seorang penjual makanan yang meludahi dagangannya sendiri.
Waktu melihat kasus itu, banyak orang fokus pada tindakan joroknya. Tapi buat saya, ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar tindakan menjijikkan.
Saya melihat seseorang yang sudah kehilangan rasa hormat terhadap pekerjaannya sendiri.
Dalam dunia psikologi organisasi, perilaku seperti ini disebut sebagai Counterproductive Work Behavior. Yaitu perilaku kerja yang justru merugikan pekerjaan, organisasi, pelanggan, bahkan dirinya sendiri.
Dan menariknya, banyak pelaku perilaku ini sebenarnya merasa dirinya korban. Mereka merasa sedang “balas dendam” terhadap hidup, terhadap perusahaan, terhadap pelanggan, terhadap sistem yang mereka anggap tidak adil.
Padahal tanpa sadar… mereka sedang merusak dirinya sendiri perlahan-lahan.
Ketika Hati Sudah Keluar dari Pekerjaan
Saya pernah bertemu orang yang berkata: “Yang penting gua digaji.” “Perusahaan juga nggak peduli sama gua.” “Ngapain kerja bagus-bagus?”
Kalimat seperti ini kelihatannya biasa. Tapi sebenarnya berbahaya.
Karena saat seseorang mulai kehilangan pride terhadap pekerjaannya, maka kualitas kerjanya mulai turun. Lalu perlahan standar hidupnya juga ikut turun.
Ia tidak lagi bekerja dengan hati. Ia bekerja dengan kemarahan.
Dan orang yang bekerja dengan kemarahan biasanya mulai kehilangan integritas sedikit demi sedikit.
Awalnya mungkin hanya telat sedikit. Lalu mulai tidak peduli kualitas. Lalu mulai manipulasi kecil. Lalu mulai menikmati sabotase kecil. Lama-lama ia terbiasa menjadi pribadi yang destruktif.
Yang hancur bukan hanya pekerjaannya.
Tapi karakter dirinya sendiri.
Orang yang Sedang Marah pada Hidupnya
Kadang saya merasa, banyak perilaku destruktif di tempat kerja sebenarnya bukan lahir dari kebencian terhadap pekerjaan. Tapi dari kemarahan terhadap hidupnya sendiri.
Ada orang yang kecewa karena hidupnya tidak seperti yang ia bayangkan. Ada yang merasa gagal. Ada yang iri melihat orang lain sukses. Ada yang merasa tidak dihargai bertahun-tahun. Ada yang burnout. Ada yang lelah secara emosional.
Lalu semua luka itu dibawa ke tempat kerja.
Dan pekerjaan menjadi tempat pelampiasan.
Makanya ada orang yang melayani pelanggan sambil marah. Ada yang membuat produk tanpa hati. Ada yang sengaja memperumit urusan orang lain. Ada yang menikmati drama kantor. Ada yang kalau melihat perusahaan rugi malah diam-diam senang.
Padahal sebenarnya… yang sedang rusak adalah dirinya sendiri.
Karena setiap hari ia sedang melatih dirinya menjadi pribadi yang sinis.
Yang Paling Berbahaya Bukan Orang Bodoh
Di dunia kerja, yang paling berbahaya bukan selalu orang yang kurang pintar.
Tapi orang yang sudah kehilangan rasa memiliki.
Orang yang datang kerja sambil membawa dendam.
Karena orang seperti ini bisa merusak energi satu tim. Ia bisa mematikan semangat orang lain. Ia bisa menyebarkan sinisme. Ia bisa membuat budaya kerja menjadi toxic.
Dan ironisnya, sering kali semua dimulai dari luka kecil yang tidak pernah diselesaikan.
Merasa tidak dihargai. Merasa diperlakukan tidak adil. Merasa kerja kerasnya sia-sia. Merasa hidupnya mentok.
Lalu muncul satu kalimat yang sangat berbahaya:
“Bodo amat.”
Bodo amat kualitasnya. Bodo amat pelanggannya. Bodo amat perusahaan rugi. Bodo amat hasilnya.
Padahal saat seseorang mulai hidup dengan “bodo amat,” sebenarnya ia sedang mematikan kualitas terbaik dalam dirinya sendiri.
Jangan Sampai Dunia Kerja Mengubahmu Menjadi Orang yang Kamu Benci
Saya tahu tidak semua tempat kerja itu sehat. Ada atasan toxic. Ada politik kantor. Ada ketidakadilan. Ada lingkungan yang melelahkan secara mental.
Tapi saya belajar satu hal penting.
Jangan sampai karena dunia memperlakukan kita buruk… lalu kita berubah menjadi pribadi yang buruk juga.
Karena saat seseorang mulai menghancurkan pekerjaannya sendiri, mungkin ia merasa sedang menghukum perusahaan.
Padahal sering kali ia sedang menghancurkan masa depannya sendiri.
Ia kehilangan disiplin. Kehilangan pride. Kehilangan integritas. Kehilangan rasa hormat terhadap karya hidupnya sendiri.
Dan begitu kebiasaan itu tertanam… efeknya bisa terbawa ke mana-mana. Ke bisnis. Ke relasi. Ke keluarga. Bahkan ke cara ia memandang dirinya sendiri.
Bekerjalah dengan Martabat
Di akhir siaran Smart Emotion, saya mengatakan satu hal yang sampai hari ini masih saya ingat sendiri:
“Kadang pekerjaan bukan cuma soal uang. Tapi tentang siapa diri kita saat melakukan pekerjaan itu.”
Karena ada tukang sapu yang bekerja dengan kehormatan.
Dan ada orang berpangkat tinggi yang bekerja sambil menghancurkan dirinya sendiri perlahan-lahan.
Mungkin hidup tidak selalu adil. Mungkin perusahaan tidak selalu menghargai kita. Mungkin pelanggan tidak selalu baik.
Tetapi jangan biarkan semua itu mengambil satu hal penting dari diri kita.. martabat dalam bekerja.
Karena saat seseorang masih bekerja dengan hati, dengan tanggung jawab, dan dengan rasa bangga…
sebenarnya ia sedang membangun dirinya sendiri.
Dan ingatlah, “Cara kita memperlakukan pekerjaan kita… sering kali menunjukkan bagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri.”
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
