Ketika angka angka menjadi headline, terkadang kita lupa bahwa setiap angka itu adalah nyawa manusia yang hilang, keluarga yang berduka, dan komunitas yang runtuh. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga 20 Desember 2025, jumlah korban meninggal akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah mencapai sekitar 1.090 jiwa dengan puluhan lainnya masih hilang dan ribuan luka luka. Data ini menunjukkan korban tersebar di berbagai daerah. Aceh sekitar 472 jiwa, Sumatra Utara 370 jiwa, dan Sumatra Barat 248 jiwa. Ini memperlihatkan besarnya tragedi kemanusiaan yang terjadi di pulau ini.
Jumlah tersebut belum berhenti sebagai sekedar statistik kematian. Di belakangnya adalah cerita tentang lebih dari 1,1 juta orang mengungsi, puluhan ribu rumah hancur, fasilitas kesehatan rusak, sekolah porak poranda, serta jaringan sosial yang terguncang hebat. Hambatan akses, medan sulit, dan kondisi cuaca yang tak bersahabat memperlambat proses pencarian dan pemulihan, sehingga rasa duka pun menjadi berkepanjangan.
Namun di tengah tragedi besar ini, ada hal yang jauh lebih penting untuk direnungkan. Yakni, kecerdasan ekologis kolektif kita sebagai bangsa.
Bencana bukan hanya tentang alam dan infrastruktur. Ia adalah tentang hubungan kita dengan sesama dan hubungan kita dengan realitas yang lebih besar dari diri kita sendiri. Jika kita lalai merawat alam, maka alampun akan lalai merawat kita. Jika kita kejam terhadap alam, maka alampun akan kejam pada kita. Hukum timbal balik terjadi.
Selain itu, dengan korban bencananya pun, kita perlu belajar peka. Jangan berpikir, “Itu terjadi padamu, syukurlah ini nggak terjadi padaku”. Kita perlu kepekaan sosial disaat bencana yang tak diharapkan ini terjadi.
Maka, empati harus menjadi pusat narasi bencana ekologis ini. Empati tidak cukup hanya pada ungkapan belasungkawa di media atau slogan di poster bantuan. Empati yang sejati tampak dalam ketepatan respon terhadap korban yang paling rentan, dalam kecepatan distribusi bantuan untuk mereka yang kehilangan tempat tinggal, dan dalam perhatian terhadap kesehatan mental para pengungsi yang menghadapi trauma berlapis.
Sayangnya, di banyak sisi, kita juga melihat fenomena sebaliknya. Ketika tragedi ini berlangsung. Banyak pejabat yang salah sikap, salah kata hingga salah bertingkah. Sikap mereka justru membuat masyarakat jadi marah. Misalkan para pejabat yang justru berusaha cari sorotan kamera dan komentar pejabat publik yang justru memperkeruh suasana. Sudah menderita bencana, ditambah komentar yang tak menenangkan batin. Jadinya double disaater.
Dalam situasi di mana ribuan nyawa telah terenggut, perhatian publik justru dibuat jengkel oleh sikap para pejabar atau pelaksana publik yang lebih mirip pertunjukan daripada pelayanan. Ini mencerminkan kurangnya pengendalian ego dan ketidaksiapan emosional di level kepemimpinan nasional. Bahkan, untuk menentukan skala bencana saja, butuh berminggu-minggu. Sementara korban makin bertambah.
Kecerdasan ekologis plus kecerdasan emosi (EQ) itu perlu. Keduanya mengajarkan bahwa saat krisis atau bencana ekologis, pemimpin yang efektif bukan yang paling vokal, tetapi yang paling hadir. Bukan yang mencari sorotan, tetapi di tengah perasaan tanpa harapan (hopeless). Bukan yang sibuk menjelaskan diri, tetapi yang memberi kepastian. Pemimpin dengan EQ tinggi mampu memahami emosi korban dan masyarakat luas yang terkena dampak bencana. Juga mampu merespons bukan hanya dengan data, tetapi dengan tindakan yang memulihkan rasa aman dan kepercayaan.
Kita juga harus mengaitkan tragedi Sumatera ini dengan ecological intelligence yang digagas Daniel Goleman. Bencana banjir dan longsor yang memakan banyak korban ini bukan hanya tragedi meteorologis, ia juga merupakan cermin dari interaksi kita dengan alam. Ketika hutan ditebang tanpa pengelolaan yang bijak, ketika fungsi daerah resapan air semakin tergerus oleh alih guna lahan, ketika infrastruktur dibuat tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekologis, maka bukan sekadar air yang meluap, tetapi sistem kehidupan yang terguncang.
Ecological intelligence menuntut kita memahami konsekuensi keputusan kita terhadap lingkungan sosial dan alam. Tanpa kesadaran ini, kita hanya akan terus menghadapi tragedi yang sama berulang kali, dengan angka angka korban yang semakin tinggi dan cerita duka yang semakin panjang. Hari ini Sumatera, besok mana lagi?
Bencana di Sumatera ini seharusnya menjadi pelajaran kolektif. Bukan hanya soal kesiapsiagaan teknis, tetapi juga soal kedewasaan emosional, rasa empati yang konsisten. Juga kesadaran ekologis yang mengikat manusia dengan alam bukan sebagai lawan, tetapi sebagai bagian dari jaringan kehidupan bersama. Karena kalau kita nggak belajar dari tragedi ini, artinya kita terus menyimpan bom waktu akan peristiwa bencana ekologis dahsyat lainnya di waktu nanti. Semoga kita bisa belajar cerdas ekologis dari bencana di Sumatera ini.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
