Saya tak pernah lupa dengan kisah yang pernah diceritakan salah satu peserta training. Kisah miris, tapi begitu getir kehidupan yang harus dialaminya. Beginilah ia berkisah.
Saya laki-laki, usia empat puluh tahun, dan belum menikah. Bukan karena saya tak percaya cinta. Tapi karena saya pernah mencintai. Dan kehilangan semuanya saat saya paling membutuhkan seseorang untuk bertahan.
Dulu saya nyaris menikah. Semua sudah dipersiapkan. Rumah kecil hasil tabungan sudah saya cicil perlahan. Rencana pernikahan mulai disusun. Hati saya penuh harapan. Tapi hidup sering punya cara tak terduga untuk mengubah semua itu dalam sekejap. Saya jatuh sakit. Parah. Tubuh saya lemah dan harus dirawat di rumah sakit. Saat saya pikir momen itu akan memperkuat hubungan kami, tunangan saya justru datang dengan kalimat yang mematahkan hati saya lebih dalam dari penyakit yang menggerogoti tubuh.
“Aku nggak sanggup. Aku nggak bisa menjalani hidup dengan orang yang sakit seperti ini.”
Saya hanya bisa menatapnya. Lidah saya kelu. Dan dalam hitungan hari, bukan hanya ia pergi, tapi rumah yang saya bangun pun diambil. Habis sudah. Cinta, masa depan, bahkan hasil kerja saya selama bertahun-tahun hilang begitu saja. Saat itu saya nyaris menyerah. Saya berdiri di tepi keputusan yang paling gelap dalam hidup saya. Ingin mengakhiri segalanya.
Tapi saya berpikir tentang orang tua saya. Wajah mereka muncul di benak. Saya tahu mereka akan hancur jika saya menyerah. Maka saya bertahan. Bukan karena saya kuat, tapi karena saya tak ingin mereka menanggung luka kedua. Tubuh saya sembuh perlahan. Tapi luka di dalam hati saya tidak. Ia menetap. Diam. Tapi terus berdetak. Dan sejak hari itu, saya tak pernah benar-benar membiarkan siapapun masuk lagi. Saya memilih hidup sendiri. Bukan karena nyaman, tapi karena saya takut. Takut dibuka, lalu dibuang lagi.
Itulah luka emosional (emotional wound). Tak terlihat di permukaan. Tapi tajam dan menyakitkan di dalam. Orang-orang di sekitar mungkin melihat kita tersenyum, tertawa, menjalani hidup seperti biasa. Tapi mereka tak tahu bahwa di malam-malam tertentu, kita terjebak dalam pikiran yang tak bisa kita matikan.
Kenangan itu seperti film yang tak punya tombol pause. Ia terus berputar. Kadang datang dari lagu lama. Kadang muncul saat melihat pasangan lain. Dan kadang muncul tanpa alasan sama sekali.
Yang paling sulit dari luka emosional adalah ketika dunia memaksa kita untuk sembuh padahal kita belum siap. Kita diminta move on. Diminta memaafkan. Diminta kembali seperti dulu. Padahal di dalam, hati kita masih retak. Luka emosional juga membuat kita berubah. Kita menjadi curiga pada ketulusan. Kita takut pada awal yang baru. Kita menjauh dari hal-hal yang dulu kita kejar dengan penuh harap. Dan yang paling menyedihkan adalah, kita mulai percaya bahwa mungkin memang kita tidak layak bahagia.
Tanda-tanda luka emosional belum sembuh bisa terasa samar, tapi sebenarnya jelas jika kita berani jujur pada diri sendiri. Saat kita masih sering memutar ulang kejadian menyakitkan itu di kepala. Saat kita tahu bahwa memaafkan itu mesti dilakukan, tapi hati ini belum bisa. Saat kita mudah tersentuh oleh kejadian yang mirip. Atau tiba-tiba emosional hanya karena mendengar nama seseorang.
Bahkan ada saat di mana kita tidak bisa menjelaskan kenapa kita merasa cemas atau takut. Disaat tubuh kita ingin menolak mengungkit kejadian itu. Justru kita diingatkan dan kita bergerak ke arah kenangan yang pernah membuat kita jatuh.
Beberapa orang jadi terlalu sibuk agar tidak sempat merasa. Beberapa memilih menghindari semua hal yang berpotensi menyakitkan. Tapi luka tidak sembuh dengan dihindari. Ia hanya diam. Tapi tidak pergi. Dan jika dibiarkan terlalu lama, luka itu membentuk cara pikir baru. Kita mulai menyabotase kebahagiaan sendiri. Kita menarik diri dari relasi. Kita membangun dinding tinggi. Bukan karena tak ingin disayangi, tapi karena takut disakiti lagi.
Tapi bagaimana pun, luka bisa sembuh. Tetap ada harapan. Karena luka akhinrya akan bisa pulih. Bukan dengan paksaan, bukan dengan pura-pura kuat, tapi dengan keberanian untuk mengakui bahwa kita masih sakit.
Sembuh dimulai dari kesadaran dan pengakuan. Bahwa kita masih terpengaruh. Bahwa kita belum benar-benar ikhlas. Bahwa kita masih terluka. Dan itu tidak apa-apa. Kita boleh merasa. Kita boleh diam. Kita boleh menangis. Yang penting, kita pelan-pelan bergerak.
Tak perlu terburu-buru. Kita bisa mulai dari hal kecil. Seperti menulis rasa sakit itu. Atau membicarakannya dengan orang yang aman. Atau cukup duduk diam dan berkata pada diri kita sendiri: “Aku tahu kamu terluka. Tapi aku akan tetap di sini. Menemanimu sembuh.”
Disinilah, kita pun harus belajar membedakan antara kejadian dan identitas. Kita bukanlah trauma itu. Kita bukan kegagalan itu. Kita bukan orang yang ditinggalkan. Kita bukanlah orang gagal. Kita adalah seseorang yang pernah mengalami semua itu, tapi masih bertahan. Masih hidup. Masih punya harapan.
Dan yang terakhir. Ketika kita merasa sudah siap, maka beranikanlah membuka sedikit ruang dalam hati kita untuk percaya lagi.
Mungkin tak sebesar dulu. Tapi cukup untuk memberi kesempatan baru. Karena tidak semua orang akan melukai kita. Masih ada kasih, perhatian, kebaikan yang tulus di luar sana. Dan yakinlah bahwa kita layak untuk menerimanya.
Luka yang tak terlihat memang berteriak lebih keras daripada yang berdarah. Tapi ketika kita mulai mendengarkan jeritan itu, dengan kelembutan dan kejujuran, kita sedang mengambil langkah pertama untuk sembuh. Mungkin bukan hari ini. Tapi percayalah, kita sedang menuju ke sana. Pelan-pelan. Tapi pasti.
Dan itu sudah cukup luar biasa.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
