Di dunia bisnis yang penuh tekanan, jarang sekali kita mendengar kisah seorang profesional HR yang dipercaya memimpin sebagai CEO. Banyakan dari finance, marketing atau engineering.
Tapi apa yang terjadi pada Nigel Travis, pria Inggris yang mengawali kariernya dari dunia sumber daya manusia, nisa jadi pelajaran buat kita. Ia bukan di meja keuangan. Bukan di tim strategi. Tapi di divisi yang selama ini kerap dianggap langka untuk sampai ke posisi CEO, yakni HR.
Nigel Travis adalah bukti bahwa pemahaman mendalam tentang manusia bisa menjadi kunci keberhasilan suatu bisnis.
Sebelum menjadi CEO Dunkin’ Brands, Nigel menghabiskan puluhan tahun di bidang HR, mulai dari Grand Metropolitan hingga Burger King dan Blockbuster. Itulah karir awalnya. Di Dunkin’, ia menghadapi tantangan yang cukup berat. Brand-brandnya kayak Dunkin Donuts, Baskin Robbins, hadapi banyak kompetisi. Persaingan brutal di industri makanan cepat saji, ancaman dari tren makanan lokal dan sehat. Hingga perubahan perilaku konsumen digital yang tak mau lagi mengantri demi secangkir kopi. Tapi, berbekal pengalaman HR-nya, ia melihat bukan hanya angka, tapi orang-orang di balik bisnis ini.
Ia memahami bahwa keberhasilan sebuah brand tidak bisa bertahan jika manusianya goyah. Ia memimpin transformasi budaya organisasi, mengembangkan sistem pelatihan, dan menanamkan nilai yang konsisten di setiap gerai. Travis menunjukkan bahwa HR bukan sekadar alat administratif, tapi bisa menjadi mesin utama dalam perubahan dan pertumbuhan perusahaan. Itulah sebabnya ia berhasil mengangkat Dunkin’ Donuts menjadi Dunkin’ yang lebih segar, relevan, dan tahan banting terhadap badai industri.
Nah…
Kisah ini seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua, para HR profesional di Indonesia hari ini.
Kita sedang berada dalam pusaran turbulensi. Dunia global tak menentu. Perang dagang Amerika dan Cina belum usai. Kebijakan tarif ekspor-impor yang dimulai sejak masa Trump masih menyisakan dampaknya. Banyak perusahaan global mulai memindahkan operasinya dari Cina ke negara-negara Asia Tenggara, namun Indonesia tidak selalu jadi tujuan utama. Sebabnya? Biaya logistik yang mahal, ketidakpastian regulasi, serta tekanan dari ormas dan preman industri yang menambah ketidaknyamanan dunia usaha.
Di dalam negeri, suasana tak kalah berat. PHK massal menghantam banyak sektor. Perusahaan ritel gulung tikar. Startup teknologi satu per satu tumbang. Bahkan, sejumlah bisnis besar memilih hengkang ke negara lain demi efisiensi. Kondisi ini mengancam stabilitas kerja, menurunkan moral, dan menyisakan pertanyaan besar bagi para pekerja. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Di tengah semua ini, HR tidak bisa lagi jadi divisi yang hanya menunggu instruksi. HR harus hadir sebagai strategic partner yang memahami denyut organisasi, dan menjadi penunjuk arah ketika semua terlihat kabur.
Seperti Nigel Travis, HR harus paham bisnis, bukan hanya paham manusia. HR harus duduk di meja rapat strategis. Memberi analisa yang tajam tentang bagaimana kebijakan global dan nasional berdampak pada motivasi, keterlibatan (engagement), dan produktivitas karyawan. HR harus jadi detektor dini yang mampu membaca apakah tim mulai lesu, apakah ada burnout tersembunyi, atau bahkan apakah karyawan mulai pasrah dan menyerah.
Lebih dari itu, HR juga bisa menjadi penggerak efisiensi. Bukan hanya soal pemangkasan, tapi soal perencanaan tenaga kerja yang cerdas (manpower planning). Bagaimana kita bisa mengoptimalkan orang-orang terbaik saat ini? Bagaimana kita menyusun ulang tugas agar lebih efektif? Bagaimana kita mempertahankan talenta penting di tengah badai?
HR bahkan bisa menjadi katalisator strategi baru. Di saat perusahaan bingung lagi cari arah. HR bisa menginisiasi sesi-sesi brainstorming lintas departemen, mendengar aspirasi dari bawah, lalu menyarikan ide-ide yang bisa dijadikan strategi bisnis yang segar. HR juga harus menjadi pembaca zeitgeist. Tanda-tanda zaman. Yang memberi masukan kepada manajemen. Kebijakan mana yang sudah usang, dan mana yang perlu segera diadopsi agar perusahaan tetap relevan.
HR nggak cukup hanya dengan modal tahu UU Ketenagakerjaan. HR harus paham struktur biaya, memahami tren pasar, membaca strategi kompetitor, dan tahu cara menyampaikan gagasan secara strategis kepada para eksekutif.
Bayangkan saja, jika HR mampu berkata pada direksi. “Kita bisa lho memangkas biaya hingga 15% bukan dengan PHK, tapi dengan redesign proses kerja.” Atau bilang begini, “Karyawan kita mulai tidak engage karena mereka tidak melihat masa depan. Kita perlu rebranding internal, bukan cuma external.” Keren kan?
Krisis global dan nasional bukan hanya menghantam struktur ekonomi, tapi juga psikologi manusia. Dan siapa lagi yang lebih paham manusia daripada HR, coba?
Jika para HR profesional mampu menempatkan diri seperti Nigel Travis. Menjadi pemimpin yang memahami bisnis sekaligus manusia. Maka masa depan HR bukan sekadar pendamping perubahan, tetapi penggerak utama perubahan.
Intinya, HR bukan lagi tentang administrasi. Di masa krisis, HR adalah navigator strategis yang menjaga kapal tetap berlayar dengan tegar.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| anthonydiomartin@hrexcellency.com | ||
| Website | : | www.anthonydiomartin.com |
