1

Hindari EQ Jongkok!

Hindari EQ Jongkok

Tanggal 4 Maret 2011, Walt Baker, CEO dari Tennessee Hospitality Association yang kerjanya memperkenalkan dan mempromosikan wilayah Tennesseee di AS, membuat kesalahan fatal. Awalnya, dengan tujuan menghibur teman-temannya, ia mengirimkan sebuah email yang menurutnya lucu. Di dalam email itu ia berkata, “Hei, teman-teman. Entah kalian dari latar belakang apa, tetapi kalian akan melihat bahwa email ini sangat lucu sekali”. Yang jelas, di bagian akhir email itu, yang akhirnya beredar ke seluruh internet, adalah gambar yang membandingkan antara Michele Obama dengan Cheetah, simpanse yang menjadi temannya Tarzan di film-film.

Gambar itupun segera bereder di internet dan menjadi bahan tertawaan. Namun, lelucon ini menjadi tidak terlalu lucu mengingat posisi Walt Baker dan segera mengundang reaksi. Gedung Putih menyebutkan lelucon ini menjijikkan. Bahkan, dua hari kemudian, kontrak bisnis dengan perusahaan marketingnya, Mercatus Communication senilai $50,000 dibatalkan. Empat hari kemudian, ia pun dipaksa turun dari posisinya sebagai CEO asosiasi terkemuka di kota itu. Ia dipecat!

Kisah tersebut terjadi di luar negeri. Kisah di dalam negeri pun sebenarnya cukup banyak. Beberapa waktu silam, seorang mahasiswa dari univeritas negeri terkemuka di Bandung membuat pernyataan di internet terkait dengan orang Papua yang membuat marah. Padahal,komentar awalnya adalah soal pertandingan antara Persib dan Persipura. Namun, komentarnya tiba-tiba melebar dan mulai mengomentari orang-orang Papua yang akhirnya membuat banyak kalangan menjadi marah. Untungnya, tulisan itu segera dicabut. Namun, tulisan itu telah beredar dan telah menciptakan kemarahan. Begitu pula kasus yang terjadi baru-baru ini oleh seorang anggota Dewan di Senayan, yang ketika mengomentari soal pembelian pesawat Merpati, tiba-tiba jadi mempersoalkan antara hubungan latar belakang seorang Ibu Menteri yang dikaitkannya dengan latar belakang nenek moyangnya yang berasal dari China. Komentar tidak cerdas inipun akhirnya mengundang banyak reaksi. Meskipun, buru-buru si anggota dewan ini mencoba mengoreksi dengan mengatakan, “Saya juga banyak berbisnis dengan orang Cina” dan menolak meminta maaf atas pernyataannya tersebut.

Nah, begitulah. Komentar-komentar tersebut menunjukkan suatu indikasi ketidakpekaan diri seseorang terhadap orang yang akan menerima pesan yang disampaikan. Beberapa orang bahkan menyebut ini sebagai tanda-tanda dai EQ yang jongkok. Nah, apakah EQ jongkok ini?

Hindari EQ Jongkok!

Bukan saja hanya IQ yang bisa jongkok atau rendah, bahkan dalam hal kecerdasan emosional (EQ)-pun  seseorang bisa jongkok. Nah, kapankah Kecerdasan Emosional seseorang dikatakan rendah atau jongkok?

EQ jongkok terutama terjadi pada seseorang yang sadar dengan sikap dan tindakannya tetapi cenderung tidak peduli pada perasaan orang lain. Hal inipun berulang-ulang ia lakukan. Meksipun ia pernah mendapatkan masukan, tetapi dirinya pun tak pernah belajar. Ia bahkan menyalahkan orang lain (orang lainlah yang terlalu perasa, orang lainlah yang salah persepsi, atau orang lainlah yang tidak punya sense of humor, dll)

Dengan kata lain, bicara soal manusia ber-EQ jongkok ini, jangankan untuk memanage perasaan orang lain, diripun sendiri ia tidak sanggup manage. Dan secara umum, ada sekitar 5 tanda yang bisa semakin mempertegas sikap dan tindakan orang-orang yang EQ-nya jongkok.

Pertama-tama sekali, cirinya adalah sikapnya yang egois. Baginya hak pribadinyalah yang terpenting. Ia menuntut haknya, tetapi seringkali mengabaikan atau menyepelekan hak orang lain. Bicara hal ini, saya teringat sebuh kisah seorang suami yang malam-malam buta menelpon seorang dokter tua yang ternama. Telponnya membangunkan si dokter itu, dan di telpon itupun ia memohon, “Dokter. Saya minta tolong, datanglah ke rumah saya dan bantu obati istri saya.”  Padahal, pada saat itu, cuaca sedang sangat tidak bersahabat. Hujan petir bersahut-sahutan. Tetapi, karena kasihan akhirnya si dokter tua ia berkata, “Baiklah. Saya mau membantu Bapak. Tetapi, karena tidak ada kendaraan yang bisa dipakai, bolehkah saya minta tolong dijemput?” Lantas, dengan nada tinggi si bapak itu berkata, “Apa Dok? Dokter minta saya jemput di tengah malam dengan kondisi cuaca seperti ini? Yang benar aja Dok?” Nah sikap egois semacam inilah yang menjadi tanda pertama dari orang ber-EQ jongkok yakni egois dan sama sekali tidak peka dengan hak orang lain. Ia mengharapkan orang lain peduli dan menghormati haknya tetapi ia sendiri sama sekali tidak perhatian pada hak orang lain. Ia pun bukanlah orang yang toleran terhadap kepentingan orang lain.

Tanda kedua adalah sudut pandangnya yang sangat self oriented atau yang dikatakan ego perspective. Dalam hal ini, ia pun tidak peka terhadap apa kira-kira pandangan dan perasaan orang. Intinya, kalau dia merasa sudah oke dan baik, maka orang lainpun harusnya juga merasa oke dan bagus.  Jadi, kalau dia merasa hal tersebut menyenangkan untuk dirinya, maka ia berpikir mestinya ini juga menyenangkan buat orang lain. Makanya, akibatnya terkadang ia memunculkan komentar ataupun pernyataan yang tidak pada tempatnya, terkesan bodoh dan tidak sensitif sama sekali. Sebagai contoh, komentar dari mahasiswa terkemuka di Bandung terhadap masyarakat Papua itu merupakan sebuah contoh dari ego perspective ini.

Berikutnya adalah sikapnya yang cenderung egois dalam mendengarkan orang lain. Makanya, ia pun disebut sebagai ego listener, pendengar yang egois. Sebagai pendengar, ia adalah pendengar yang buruk. Seringkali, ia jadi suka menginterupsi dan berdebat orang lain. Bagi dirinya, yang paling valid hanyalah informasi dari dirinya sendiri. Akibatnya, di dalam pembicaraan, kita melihat bagaimana orang ini berusaha untuk dominan. Kalaupun ia kelihatannya mau mendengarkan orang lain, itupun ia lakukan dalam rangka mendengarkan apa yang cocok dan pas untuk dirinya.

Ciri berikutnya atau yang keempat adalah seringnya ia berbenturan kepentingan dengan orang lain, atau dalam arti ia sering mengalami ego conflict. Tabungan emosinya pun jadi sangat negatif pada hampir setiap orang di sekitarnya. Ia jadi banyak benturan dengan pihak lain dan ia pun mempunyai banyak musuh. Sayangnya, banyaknya musuh ini tercipta bukan karena ia orang yang berprinsip positif dan luhur, tetapi karena sikapnya yang tidak mau tahu, menyerang bahkan menyepelekan keinginan orang lain.

Akhirnya, ciri terakhir adalah kesenangannya untuk menyiksa, melukai dan mengerjain orang lain untuk kepntingan dirinya. Dengan cara demikian, ia merasa dirinya menjadi lebih baik atau lebih pintar. Inilah yang dikategorikan sebagai ego mania. Dengan kata lain, kesuksesannya adalah dengan ongkos dari orang lain (success at other people’s cost).

EQ Jongkok Tapi Sukses?

Setelah kita melihat ciri-ciri dari EQ jongkok, mungkin saja muncul sebuah pertanyaan sederhana: “Bisakah orang yang EQ-nya jongkok tetapi sukses?” Jawabannya tentu saja bisa, bahkan kita mungkin mengenal banyak orang yang EQ-nya jongkok tetapi berhasil. Hanya saja, karena EQ-nya yang jongkok maka ia sedang menanam bom waktu. Kesuksesannya jadi tidak langgeng dan bertahan lama sebab orang-orang pun membencinya. Atau dengan kata lain, akibta dari menjadi pribadi yang EQ-nya jongkok adalah 5D, baik di kantor maupun di lingkungan sekitarnya. Yakni, diomongin, diketawain, dibenci, disoraki ‘sewaktu jatuh’ hingga disyukuri ‘sewaktu gagal’. Jadi mulai sekarang cobalah peka dengan sikap Anda dan mintalah umpan balik dari orang lain, apakah Anda adalah pribadi yang cenderung ber-EQ jongkok.

Akhirnya, terpenting bagi Anda yang cenderung ber-EQ jongkok adalah melakukan proses ‘5Re’ yakni Re-Think, Re-Format, Re-Place dan Re-Act dan Re-flect! Re-think adalah belajar ulang.  Re-format: berarti menghapus dan membersihkan keyakinan atau kesalahan berpikir yang membuat Ada terlalu egois. Re-place: menanamkan sikap dan tindakan baru. Lalu, Re-act: melakukan sikap dan tindakan baru yang lebih peka dengan orang lain. Akhirnya,  Re-flect yakni mempertimbangkan dan menerapkan sikap serta pendekatan tindakan yang baru dalam pergaulan berikutnya. Ingatnya, jangan sampai EQ Anda yang jongkok merampas karir Anda yang sudah dibangun dengan susah payah!

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.