1

Seeding Negatif: Awas Si Jahat, Penabur Benih Kehancuran di Sekitar Kita!

Gampangnya, kita mulai dari kisah pewayangan saja. Mungkin, kita pernah membaca ataupun ingat soal nama Sengkuni. Namanya, dalam ejaan Sansekerta seringkali disebut Shakuni. Ini adalah tokoh antagonis dalam kisah Mahabharata. Dalam kisah tersebut, Sengkuni adalah paman para Kurawa dari pihak ibu. Problemnya, Sangkuni penuh siasat, alias licik. Ia digambarkan sebagai tokoh jahat yang selalu menghasut para Kurawa untuk memusuhi Pandawa. Ia menjadi pembisiknya Kurawa. Memang, ada latar belakang mengenaskan yang membuatnya begitu penuh dendam dengan Pandawa. Namun, karena cukup cerdik, Sengkuni tidak melakukannya melalui tangannya sendiri. Ia meminjam kekuatannya Kurawa. Dengan caranya, Sengkuni berhasil merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa melalui sebuah permainan dadu. Ia pula yang dianggap menburkan benih-benih kebencian Duryudana dengan Pandawa, yang turut memicu terjadinya perang saudara yang sangat berdarah yakni Kurusetra.

Dari cerita pewayangan, kita beralih ke kisah detektif. Ngomong-ngomong, siapakah tokoh detektif yang kamu kenal dan sukai? Hmm, kalaupun ada novel detektif yang saya sukai, salah satunya adalah novel Agatha Christie. Disitu, ada tokoh Hercule Poirot yang luar biasa “sel-sel kelabu di otaknya”. Bahkan, baru-baru inipun, salah satu novelnya yakni Pembunuhan di Orient Express difilmkan kembali. Hercule Poirot adalah tokoh detektif yang setara dengan Sherlock Holmes. Bahkan menurut saya, kisah-kisahnya Hercule Poirot, lebih manusiawi dan masuk di akal, ketimbang ceritanya Sherlock Holmes yang banyak berbau fiksi.

Nah, dari semua novel, salah satu yang saya beberapa kali baca adalah kasus terakhirnya Hercule Poirot yang ditulis di bukunya “Tirai”. Disinilah, Hercule Poirot mengakui kalau dia bertemu dengan seorang pembunuh yang luar biasa. Si pembunuh ini berhasil menciptakan banyak pembunuhan, tetapi yang luar biasa, pembunuh itu tidak pernah tertangkap oleh karena si pembunuh ini bukan pelaku langsungnya. Jadi bagaimanakah pembunuh ini melakukannya? Menarik, tapi sekaligus sadis. Ia menginspirasi orang lain untuk melakukan kejahatan. Dengan kata lain, melalui teknik persuasi yang luar biasa, ia menanamkan motivasi kepada orang-orang yang punya alasan, untuk melakukan tindakan kriminalitasnya. Makanya, tak heran kalau Hercule Poirot sang detektif ini menyebut pembunuh ini, “Pembunuh yang lebih kejam daripada seorang pembunuh!”

Waspadai Seeding

Dalam ilmu tentang bawah sadar, teknik atau upaya menanamkan sesuatu benih ke bawah sadar kita bisa disebut dengan seeding. Seeding, dari kata seed, yakni benih. Dan memang begitulah analoginya. Orang yang menanamkan pikiran dan ide itu, bisa diibaratkan melakukan proses seeding. Atau, menanamkan benih-benih pikiran maupun ide tertentu ke benak orang lain.

Yang berbahaya tentu saja, kalau yang melakukan seeding itu adalah seorang yang berotak kriminal dan jahat. Dan biasanya, tentu saja seeding ini dilakukan pada saat ketika yang menjadi korban, sama sekali tidak sadar. Bahkan proses seeding ini bisa terjadi, dalam situasi yang formal ataupun dalam obrolan santai. Tapi hebatnya, si pelaku bisa melakukan ini berulang kali, berusaha berpikir dengan cara berpikirnya sang korban, lantas mulailah ia memotivasi si pelaku untuk melakukan sesuatu. Tentu saja, tatkala si pelaku melakukan kejahatan atau tindak kriminalnya, yang ditangkap adalah si pelakunya, sementara otak yang melakukan ‘seeding’ tetap saja bebas. Dan parahnya, ia akan mencari korban yang lainnya lagi.

Dari Keyakinan Sederhana Sampai Jadi Teroris

Waktu lalu, kita sempat cemas dengan  aksi terorisme yang meningkat lagi. Ada modus yang sedikit berbeda, khususnya ternyata pelakunya bukan lagi model laki-laki yang macho, tapi justru wanita bahkan sekeluarga. Yang jelas, kita tentu saja percaya, para pelaku ini tidak bisa serta merta melakukan tindakan terorisnya. Dengan kata lain, ada otak di belakang mereka yang telah berhasil melakukan “seeding” ke bawah sadar mereka bahkan memotivai mereka untuk melakukannya.

Akibatnya, pada saat keyakinan ini telah tertanam begitu dalam di pikiran mereka. Selanjutnya, merekalah yang akan memotivasi diri mereka sendiri untuk melakukan tindakan apapun yang telah tertanamkan di benak mereka. Memang, sulitnya para otak pelaku yang melakukan seeding ini biasanya tidak mudah diketahi bahkan dilacak. Bahkan, dengan mudahnya mereka mengelak dan lolos dari jerat hukum. Alasannya, mereka hanya bicara, ada begitu banyak yang mendengarkannya bahkan jaraknya dari lokasi pelaku pun kadang bisa ratusan kilometer jauhnya.

Mengapa Melakukan Seeding?

Proses seeding biasanya dilakukan oleh orang-orang yang menikmati dan memperoleh kepuasan dengan cara menanamkan benih-benih pikiran mereka ke pikiran orang tertentu. Daripada menyuruh langsung, mereka melakukan persuasi dengan cara yang sangat halus. Dan itulah seninya. Dengan begitu bagusnya, sampai-sampai pelaku sendiri  tidak merasa bahwa ada orang lain yang mendorongnya untuk melakukannya, tetapi atas dasar dorongan motivasi diri mereka sendiri.

Alasan lain dari melakukan proses seeding ini adalah untuk mempengaruhi secara tak langsung, Mengapa tak langsung? Dengan demikian, otak utamanya akan sangat sulit terlacak. Dan biasanya, antara proses seeding pertama kali dilakukan dengan munculnya perilaku yang diharapkan si otak pelaku, waktu dan jaraknya bisa lama dan jauh. Karena itulah, kadang susah ketahuan siapakah sebenarnya otak dibelakang mereka yang melakukan.

Bagaimana Mewaspadai Seeding Dalam Keseharian Kita?

Sebenarnya, tanpa sadar tiap haripun kita mengalami proses seeding ini setiap hari. Dan faktanya, ada orang-orang yang pintar melakukan seeding dengan begitu canggihnya. Memang sih, ada yang dilakukan dengan tujuan kebaikan. Kalau jujur, mulai dari proses pendidikan kita, oleh orang tua maupun para guru atau pendidik lain, bisa dikatakan seeding pula. Tapi, tujuannya baik. Tanpa sadar, benih-benih itulah yang membentuk karakter kita sekarang.

Dalam bisnis pun kita mengenal seeding pula. Mulai dari stratgei bisnis, hingga mempersuasi apa yang hendak kita beli, kita pakai ataupun kita putuskan sehari-hari. Dalam konteks inilah, iklan pun kita bisa katakana bentuk seeding dalam pikiran kita.

Nah, sekali lagi yang perlu kita waspadai adalah seeding negatif dalam bentuk persuasif terselubung yang sangat sulit kita sadari. Prosesnya, seeding itu kadang bisa bermula dari suatu benih kecil yang sangat kecil, lantas di tanah yang memupuknya, benih inipun lama-lama berkembang, lantas ia semakin bertumbuh dan bertumbuh menjadi pohon yang semakin besar, hingga mampu menghancurkan orang maupun apapun yang ada di sekitarnya.

Ada kisah menarik tentang ini. Saya teringat sebuah bisnis keluarga yang hancur berantakan gara-gara seeding ini juga. Ini tentang sebuah bisnis keluarga di kota P, di Sumatera. Sebuah bisnis keluarga yang awalnya berjalan baik, mulai kacau dan akhirnya hancur, gara-gara muncul seorang pembisik yakni guru spiritual sang Abang. Ternyata, banyak strategi salah bahkan kejam yang akhirnya justru meruntuhkan bisnis keluarga mereka. Si Abang yang dianggap menghancurkan bisnis trun-temurun ini, Tapi, sebenarnya yang bertanggung jawab menghancurkan adalah si Guru Spiritual ini.

Kalau disimpulkan, maka ada tiga point sederhana. Pertama, bukannya melatih kita menjadi paranoid, tetapi perlu tetap bersiap mawas diri dengan orang-orang yang memberikan ide-idenya di sekitar kita. Mungkin saja, tidak semuanya punya intensi yang baik, sebagaimana yang diucapkannya. Karena itu, selalulah menguji, apakah ide yang diberikannya untuk kepentingan kita, ataukah hanya untuk kepentingan dia sendiri.

Kedua, selidikilah niat dan intensinya lebih lanjut. Janagn telan mentah-mentah, omongan dan kalimatnya yang diucapkan, termasuk orang yang terdekat sekalipun. Nicolla Machiavelli pernah mengatakan, “Dengarkanlah semuanya, tapi pertimbangkanlah semaunya juga”. Jadi tetaplah berhati-hati dengan semua masukan yang kita terima. Kita selalu berbaik sangka, tetapi tetap perlu waspada. Apalagi, kalau hal itu sudah menyangkut keputusan dan ide-ide bisnis.

Ketiga, belajarlah dewasa untuk punya prinsip dan pikiran sendiri. Boleh kita mendengarkan masukan, tapi soal menjalankannya, kembalikan ke akal sehat kita. Belakangan ini, banyak yang mulai menggunakan otoritasnya untuk menanamkan idenya. “Karena saya bossmu, karena saya guru spiritualmu, kamu semenstinya lakukan hal ini dan itu”. Cobalah pertimbangkan. Apakah yang dikatakan masuk akal?

Akhirnya, yang perlu kita ingat selalu: benih hanya bertumbuh, kalau kita membiarkannya. Maka, jangan biarkan hal-hal yang buruk dan negtif itu berkembang. Kita bisa menolaknya, apalagi kalau jahat!

Anthony Dio Martin, The Best EQ Trainer Indonesia, penulis, executive coach,Website: www.hrexcellency.com dan FB: anthonydiomartinhrexcellency dan IG: anthonydiomartin

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.