1

Pelecehan Seksual Lagi, Salahkan Siapa?

Sudah nonton video seorang wanita korban pelecehan di sebuah rumah sakit di Surabaya yang viral? Tampak wanita itu menangis dan menunjuk-nunjuk ke arah perawat laki-laki yang kemudian menyalami dan meminta maaf (video beritanya disini: Klik Disini). Belum habis kisah itu, ada lagi kisah bule cantik yang juga mengalami pelecehan seksual di Bali. Apakah ceritanya hanya sampai disini saja? Bagaimana dengan korban-korban pelecehan seksual lainnya yang tidak sempat berkata-kata ataupun menceritakan nasibnya.

Masalahnya memang rumit. Pelecehan, seringkali tidak serumit pemerkosaan. Kalau pemerkosaan bisa ada buktinya. Misalnya, tanda-tanda kekerasan hingga bukti-bukti nyata seperti sperma. Masalahnya, pelecehan seksual itu seringkali sangatlah tidak kentara. Bahkan, ada beberapa wanita yang tidak menyadarinya.

Di masyarakat kita, pelecehan seksual sebenarnya sangat kerap terjadi. Di kereta dan bis yang padat, pelecehan banyak kita saksikan. Misalkan saja, seorang kernet menaikkan penampang wanita dengan cara mendorong pantatnya. Si wanita itu kesel dan melototkan matanya. Dan si kernet hanya tersenyum dan bilang, “Maaf Mbak. Kan dibantu didorong di “mesin”nya biar cepet masuk”. Sementara yang lainnya, yang melihat hanya senyum-senyum. Mereka mungkin pikir, “Toh bukan saudari gue”.

Inilah Profil Psikologis Pelaku Pelecehan

Siapa pelakunya? Umumnya, tentu saja laki-laki. Tapi, ada beberapa kasus dimana pelaku pelecehan seksual bisa juga wanita. Kedua, umumnya pelaku merasa di atas angin. Karna itu tak jarang pelaku adalah atasan, guru, dokter, dukun, atau siapapun yang merasa punya otoritas. Dengan demikian, mereka bisa mengintimidasi korban jika diperlukan. Dan inilah yang membuat korban tidak berani melaporkan pula.

Profil pelaku yang juga umum adalah keluarga. Keluarga ini, bisa keluarga dekat atau keluarga jauh. Dan inilah yang membuat banyak kasus pelecehen tidak pernah terkuak. Masalahnya, banyak korban yang merasa kasihan atau takut kalau mencemarkan nama baik anggota keluarganya. Akibatnya, mereka menjadi korban yang tidak pernah berteriak (silent victim).

Akhirnya, pelaku juga orang yang mengambil kesempatan dari kondisi korban. Dan itulah yang kita saksikan sari video yang viral tersebut. Biasanya pelaku berpikir, korban tidak akan tahu, tidak berani melapor ataupun dirinya akan aman. Dan tentu saja, entah sudah berapa korbannya sebelumnya hingga akhirnya ketahuan.

“Cuma Dicolek Aja Kok Marah..”?

Saya teringat, kasus seorang hakim yang mengomentari dan bercanda soal seorang wanita korban pelecehan dan pemerkosaan, dengan kalimat, “Makanya jangan ikut goyang dong!”

Pelecehan memang kadang sulit dipahami, khususnya bagi pelaku. Atau, bahkan kadang bagi kaum adam yang merasa pelecehan itu cuma “pegang pegang yang nggak berdampak”. Tapi percayalah, bagi beberapa yang menjadi korban. Ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan bahkan bisa menjadi traumatis. Saya pernah bertemu dengan peserta program Kecerdasan Emosi (EQ) yang berkisah bagaimana hubungan dengan suaminya bermasalah, gara-gara dulu ia sering menjadi korban pelecehan seksual oleh Omnya. Begitu juga ada seorang wanita lain yang setiap kali sulit berpacaran dan merasa seks itu jijik karna pernah nyaris diperkosa oleh seorang yang harusnya menjadi “pembina spiritual”nya. Semua berawal dari pelecehan seksual. Lama-lama, ia pun mau diperkosa. Untungnya saat itu, teriakannya terdengar dan ia tertolong. Tapi pengalaman traumatis itu membuatnya sulit membangun hubungan harmonis.

Pelaku Itu DiTegasi, Bukan Dipahami

Biasanya pelaku-pelaku itu punya berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Mulai dari kepingin tahu, iseng, terpengaruh, ketidakharmonisan keluarga ataupun kelainan seksual. Tapi, apapun alasannya, tetap tidak bisa dibenarkan. Kalau sekedar memahami pelaku, bagaimana dengan korbannya?

Baru-baru ini pun, saya bertemu dengan seorang wanita yang mengalami gangguan jantung dan insomnia berat gara-gara pernah dipeluk seorang laki-laki tak dikenal. Pengalaman ini menjadi pengalaman traumatis berat untuknya. Sampai-sampai setahun ia harus konsultasi dan berobat ke dokter jantung di luar negeri. Kalau sudah demikian, bagaimana kita mempertanggungjawabkan untuk para korbannya?

Pelecehan, Mengapa Bukan Untuk Ditertawakan?

Pertama-tama, awalnya seringkali pelecehan, berikutnya bisa menjadi pemerkosaan. Banyak pelaku pelecehan yang merasa mendapat angin, yang lantas berani bertindak makin berani hingga memperkosa. Jika sudah demikian, dampak dan bahayanya menjadi serius. Jadi, semua berawal dari hal yang sederhana.

Kedua, banyak pelaku pelecehan yang merasa dirinya bisa bebas karna bukti yang minim. Akibatnya, dimanapun mereka berada, mereka kan terus mencari korban sampai akhirnya usaha mereka betul-betul ketahuan. Percayalah, biasanya pada saat ketahuan, sudah ada minimal 5-7 orang yang sudah menjadi korban mereka.

Ketiga, kasus pelecehan yang tidak dicegah, akhirnya akan melahirkan banyak dampak. Salah satunya, dampak pelecehan seksual pada anak-anak bisa menjadi pencetus munculnya pelaku pelecehan yang lain. Masih ingat beberapa pelaku pelecehan seksual anak-anak ataupun pelaku sodomi, ternyata punya riwayat pernah menjadi korban pelecehan seksual pula.

Keempat, korban biasanya silent victim yang jarang berteriak. Mereka mungkin takut. Ada juga yang kasihan dan tidak mau pelakunya dihukum ataupun ditindak. Bisa jadi pelakunya adalah orang yang mereka kenal. Dan korban seperti ini sebenarnya bisa banyak sekali. Mereka tidak terdata dan tidak ada statistiknya. Tapi, justru merekalah yang perlu dikasihani. Sebab, mereka harus melanjutkan kehidupannya. Ada luka psikologis. Ada trauma. Tapi siapa yang peduli mereka?

Jadi, sudah waktunya kasus-kasus pelecehan seksual bukan hanya sekedar wacana untuk dibahas saja, tapi ditindaklanjuti secara serius. Undang-undang, penegasan, pemberitaan, termasuk salah satu yang perlu diseriusi. Termasuk saran saya bagi korban.

Jangan membiarkan pelaku, terus meneruskan perilakunya. Jika Anda membiarkan, orang lainlah yang akan jadi korban berikutnya. Memang tidak nyaman karna ini mengekspos diri Anda sendiri. Tapi, kadang ketika Anda berteriak, Anda mungkin telah menolong belasan atau puluhan orang yang berpeluang jadi korbannya kelak.

Pelecehan, memang bukan buat ditertawakan! Ini urusan yang makin serius.

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.