1

NLP Itu New Age?!! Urgentnya Mengajarkan Theocentric NLP!

Sebagai pengajar NLP (Neuro Linguistic Programming), ada sebuah pertanyaan klise yang selalu diajukan kepada saya: “Kok mengajarkan NLP? Bukankah NLP itu bagian dari New Age Movement?”

Jawaban saya sederhana.

“Kalau sebuah pisau itu dipakai oleh para kriminal untuk membunuh dan menggorok leher korbannya. Apakah lantas berarti pisau itu jahat? NLP, adalah teknik yang ibaratnya pisau. Bisa dipakai untuk mengembangkan. Bisa dipakai untuk menyesatkan orang. Kembali lagi kepada siapa yang memakainya!”

Penjelasannya begini.

Untuk menjawabnya, mari kita kembali ke latar belakang lahirnya ilmu NLP, yang sekarang menjadi trend ilmu pengembangan diri (self help) modern.

Anda harus paham sejarahnya dulu.

Waktu itu di era 70-an. Dipelopori oleh dua mahasiswa kritis, Richard Bandler dan John Grinder yang memulai dengan pertanyaan kritis: “Apa sih yang sebenarnya diinginkan setiap orang di dunia ini?” Mereka lantas menjawab dengan versi mereka. Apa yang diinginkan setiap orang adalah: perubahan menjadi lebih baik. Lalu mereka pun bertanya, siapakah yang berhasil membantu perubahan-perubahan yang lebih baik itu. Hasilnya, mereka menemukan para terapis, psikolog yang berhasil membantu perubahan itu. Lantas, mereka pun memodel cara pikir para psikoterapis ini untuk membantu perubahan orang. Ternyata metode yang mereka kumpulkan, berhasil! Maka, muncullah ilmu yang mereka namakan NLP. Neuro Lingiustic Programming.

Singkat kata, Richard Bandler, yang memiliki latar pendidikan matematika dan programming komputer, serta John Grinder, ahli linguistic, menjadikan NLP sebagai studi untuk mengubah atau memperbaiki sikap dan perilaku manusia, agar lebih optimal hidupnya. Mengapa demikian? Karena awalnya, ilmu ini sebenarnya dasarnya ilmu terapi perilaku manusia. Teknik-teknik yang terbukti, yang membantu orang yang bermasalah hidupnya.

Mengapa namanya Neuro Linguistic Programming?

Kata Neuro merujuk pada otak atau pikiran manusia. Jadi bicara soal bagaimana manusia mengorganisasi pengalaman mentalnya. Lingustik merujuk pada bahasa yang digunakan dan bagaimana orang menggunakannya dalam kehidupan mentalnya. Sedangkan programming adalah tentang urutan proses mental dan bagaimana itu berpengaruh pada perilaku manusia dalam  mencapai tujuan dan bagaimana memodifikasinya.

Latar Belakang Inspiratornya

Siapa yang menjadi sumber inspirasi ilmu NLP ini di awalnya? Yang jadi model keunggulan para pencetus NLP ini adalah sejumlah nama dengan latar belakang keahliannya, yaitu Fritz Perls (Gestalt Psycotherapist), Virginia Satir (family therapist), Gregory Bateson (antropolog dan cybernetic) dan Milton Ericson (hypnotherapist). Dari model-model itu Richard dan John merumuskan pola-pola pikiran manusia unggul lengkap dengan tools terapi untuk mencapai keunggulan seperti mereka.

Dalam perkembangannya muncul berbagai aliran NLP. Anthony Robbins dengan NAC (Neuro Associative Conditioning), John Grinder dengan New Code NLP-nya, Bandler dengan DHE (design Human Engineering) sebagai pure NLP-nya, Michael Hall dan Bob Bodenhamer dengan NS (Neuro Semantic) atau meta NLP-nya. Robert Dilts dengan NLPU (NLP University)-nya. Di samping nama-nama besar sebagai dedengkot NLP dengan aliran-aliran itu, yaitu Steve Andreas, Judith De-Lozier, Leslie Cameron Bandler, Joseph O’Connors, Hohn LaValle

Di awal kemunculannya ini NLP menjadi sebuah “a way of thinking” dengan seperangkat tool teknis agar mudah melakukan intervensi (perbaikan) atas pikiran manusia. Inti semua aliran NLP itu, orang belajar menguasai pengalaman pribadinya dalam memandang dunia (internal maupun eksternal). Dasar sederhananya, orang bermasalah karena pola berpikir dan pengkondisian yang salah.  Kalau orang mulai belajar meguasai pikiran dan program pikirannya, orang bisa menjadi lebih efektif.

Beberapa ahli NLP menyebut NLP itu mirip dengan belajar manual otak manusia. Terkadang disebut juga sebagai psikologi keunggulan. Intinya kita mempelajari kinerja otak agar bisa menjadi tuan atas pikiran kita sendiri.

Sejarahpun berbicara.

Bersamaan dengan berkembangnya NLP di masa-masa awalnya tahun 1970-an, marak juga sebuah gerakan ‘spiritual’ yang dikenal dengan nama “new age movement” sebagai gerakan mengandalkan kekuatan manusia untuk hidup bahagia.

New Age Movement secara ekstrim memusatkan kehidupan pada diri manusia dan potensi-potensinya.   Gerakan ini begitu mengagungkan pengembangan potensi manusia seolah menjadi ‘tuhan’ atas dirinya sendiri. Menurut New Age, Tuhan itu ilusi. Kamulah yang berkuasa atas kehidupan dan semua pengalamanmu.

Entah kebetulan atau tidak NLP sebagai teknik untuk mengembangkan  potensi diri manusia, lantas diklaim sebagai bagian gerakan ini. NLP dianggap cocok karena beraliran antroposentris (berorientasi manusia), tidak teocentris (berorientasi Tuhan). Benarkah?

Dan disinilah problemnya mulai muncul.

Guru Salah, Ilmunya Salah?

Harus diakui, banyak kritik terhadap NLP muncul karena perilaku para  guru dan pengajarnya. Kalau Anda membacanya di internet, ada banyak kisah kurang sedap soal NLP ini. Itu harus diakui. Penciptanya sendiri, Bandler pernah dituntut karena pembunuhan. Terlibat dengan kecanduan kokain.

Tapi, ketika gurunya salah, apakah ilmunya salah?

Saya teringat ketika salah satu guru matematika saya dipecat gara-gara korupsi uang OSIS. Padahal, waktu itu dia guru Pembina OSIS yang saya hormati. Saya sempat merasa jengkel dengan semua pelajaran yang diajarkan waktu kelas matematika. Ternyata, semua itu kebohongan. Tapi, ketika saya memikirkannya sekarang. Apakah matematikanya salah?

Beri Muatan Teosentris

Dari kisah saya diatas, intinya begini.

Refleksi mengenai anugrah Tuhan berupa otak dan kebebasan, sebagai satu alasan mengapa manusia berhasrat mengeksplorasi anugrah ini hingga lahirnya NLP, rasa-rasanya membuat NLP memang bisa menjadi bagian dari new age movement. Tapi, bisa juga tidak!

TAPI yang jelas  bukan new age movement itu sendiri!!!

Tidaklah benar jika dikatakan NLP terlalu antroposentris, kurang teocentris. Yang benar adalah NLP tidak membahas secara eksplisit peran Tuhan dalam kehidupan manusia karena NLP bukan teologi. Tidak benar jika dikatakan  mempraktekkan NLP lantas tidak mengandalkan Tuhan tapi hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Justru NLP merupakan satu pemikiran bagaimana manusia dapat mengekplorasi anugrah Tuhan yang dalam hal ini adalah otak dan kebebasannya..

NLP juga tidak pernah menyebutkan pikiran manusia sebagai tuhan atau menuhankan pikiran manusia seperti disangkakan orang-orang. Apalagi, mengkait-kaitkan NLP dengan gerakan new age yang terlalu mengagungkan kehebatan manusia, sehingga menisbihkan peran Tuhan. Preferensi new age movement dan NLP itu sangat berbeda. Asumsi-asumsi demikian justru menjadi obyek penelitian NLP mengenai bagaimana peta model pemikiran seperti itu terjadi.

NLP sebagai sebuah pemikiran ilmiah adalah upaya manusia  mencoba mengeksplorasi kebebasan berpikir sebagai anugrah Tuhan dengan cara memodel orang yang lebih dulu, yang lebih unggul. NLP tidak membahas moralitas baik atau buruk atau ajaran agama mengenai dosa atau bukan, karena memang NLP bukan ilmu moral atau ilmu agama.

NLP merupakan “a way of thinking” untuk mencapai potensi tertinggi dari manusia sebagai anugrah dari Tuhan. NLP adalah sebuah keterampilan  untuk mengelola dan menata semua sumber daya yang terberi secara cuma-cuma itu, yaitu OTAK atau pikiran manusia dengan bebas.

New Age, No. NLP Teocentris, Yes!

Akhirnya,

Saatnya buat kita untuk menjadi lebih selektif, lebih berhati-hati termasuk dengan berbagai konsep ilmiah. Fisika, sekalipun, bisa menjadi pembelajaran yang atheis. Ujung-ujungnya, segala sesuatu dijelaskan dengan hukum alam. Begitu juga dengan ilmu NLP. Tetaplah bersikap kritis dan bijak, tapi bukan langsung antipati.

Ujung-ujungnya, semuanya kembali kepada kita yang belajar dan mengajarkannya. Seperti kalimat Einstein, “Kita bisa memandang alam semesta ini dan mengatakan tidak ada keajaiban. Ataukah, melihat semua ini sebagai mukjizat Tuhan yang luar biasa”. Kembali ke sudut pandang kita.

Saat pikiran kita bisa melakukan hal-hal yang luar biasa kita bisa mengatakan, “Aku memang luar biasa” dan berhenti sampai disitu.  Atau kita melanjutkan dengan menambahkan, “Tapi pencipta kita lebih luar biasa!”.

Yang jelas, saya belajar dan mendalami NLP. Justru semakin mendalaminya, semakinlah saya merasakan kekuaasaan Tuhan dan rahasia-rahasianya yang belum banyak yang kita belum tahu, melalui manusia. NLP, bisa membuat kita semakin memuliakan Tuhan kok!


Salam Antusias
Anthony Dio Martin
www.hrexcellency.com
www.anthonydiomartin.com

#belajar nlp #nlp #pelatihan nlp # nlp new age #belajar nlp gratis #seminar nlp #kecerdasan personal

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.