1

Mewaspadai 6 Cacat Berpikir Masyarakat Kita Saat Ini

Mewaspadai 6 Cacat Berpikir

Muchtar Lubis, di tahun 1977 pernah dengan keras mengkritik 6 mental bangsa kita yang negatif. Dan puluhan tahun, kritik itu telah berlalu. Namun, tampaknya, kondisi kita saat ini tidaklah terlalu membaik, malahan belakangan ini justru tampaknya makin parah.

Hal ini, semakin diperparah dengan berbagai cara berpikir yang salah yang diterima mentah-mentah oleh masyarakat kita tanpa berpikir panjang. Nah, apakah keenam cacat berpikir tersebut?

Pertama-tama, orang yang memiliki otoritas selalu benar. Inilah bagian mental feodalime yang masih kita miliki. Persis, di tahun 1977 Muchtar Lubis juga mengkritik mental ini. Dan di saat ini, masyarakat kitapun masih cenderung tidak kritis dan masih terus berpikir, kalau dia diangkat menjadi pemimpin, maka semua kata-katanya pastilah benar. Jadi tidak usah disangsikan lagi. Cobalah bayangkan, hal inilah yang terjadi di Jerman tatkala Hitler berkuasa ataupun pada saat Stalin berkuasa di Rusia. Semua diterima mentah-mentah tanpa dikritisi. Akibatnya, ternyata belakangan kita melihat betapa banyak kesalahan berpikir dari para pimpinan itu yang ternyata justru membawa masyarakatnya kejurang kehancuran.

Kedua, penggunaan statistik ataupun menyebut survei yang tidak jelas. Saya masih ingat ketika menonton di youtube tatkala dalam sebuah pidato di depan masyarakat, seorang pembicara yang berapi-api dengan lantang mengatakan, “70% pengusaha dan pebisnis yang sukses tidak punya pendidikan tinggi”. Entah itu statistik dari mana, tetapi menyebut prosentasi lalu dikaitkan dengan ide yang mau disampaikan tentu saja berbahaya. Termasuk misalkan tatkala seorang yang berpidato “Tahu nggak 70% tanah di negeri ini milik etnis tertentu. Coba saja cek di Badan Pertanahan Nasional”. Entah data statistik darimana. Tapi yakinkan Anda bahwa data itu ada di Badan Pertanahan Nasional? Logikanya, bagaimana bisa tahu tanah itu milik etnis apa? Memangnya ada data di Badan Pertanahan yang bertanya pemilik aslinya itu suku apa? Saya sendiri meragukan adanya data seperti itu bisa ditemukan. Tetapi, bagi orang yang mendengarkan, itu bisa ditelan mentah-mentah apalagi masyarakat kita termasuk yang malas berpikir, dan ini pun menjadi cacat berpikir kita berikutnya.

Ketiga, malas berpikir lebih mendalam. Hal ini sebenarnya terkait dengan minat baca dan informasi yang sangat terbatas. Tahu nggak kalau minat baca kita hanya 0,001 persen menurut UNESCO di tahun 2012. Artinya, Dari 1000 orang yang kita temui hanya ada satu yang hobinya membaca. Makanya, tidak mengherankan jika hoax terjadi dimana-mana. Banyak orang membaca bukan untuk paham tapi untuk pembenaran ataupun cepat menyimpulkan karena malas untuk menganalisa lebih dalam. Akibatnya hoax pun marak terjadi. Lebih parahnya lagi, sebuah berita tanpa disaringpun jadi disebarkan kemana-mana.

Keempat, suka menggeneralisasi. Salah satu cacat atau kebiasaan berpikir kita adalah kesukaan untuk melabel ataupun menggeneralisasi. Celakanya, kita seringkali percaya bahkan hidup dengan keyakinan itu. Dan yang lebih celaka lagi, yang mempercayai keyakinan dan label itu termasuk pula diantara mereka-mereka yang punya pendidikan yang tergolong sangat tinggi, yang seharusnya berpikirnya lebih kritis. Misalkan saja, di negeri kita seringkali muncul labelisasi kepada suku tertentu, masyarakat tertentu yang belum tentu benar. Tetapi, kadangkala pengalaman satu orang terus menyebar dan menjadi generalisasi lebih banyak. Padahal sifatnya itu kasuistik atau perorangan saja! Misalkan saja, label bahwa orang Sumatera itu kasar-kasar dan yang di Jawa itu halus-halus. Benarkah label-label seperti ini?

Kelima, hubungan sebab akibat yang tidak jelas, tetapi diterima sebagai kebenaran. Secara logika, inilah yang terjadi. “Jika A banyak disebabkan oleh B, maka B sumber penyebab segala hal yang terkait A”. Artinya, kita bisa ambil contoh begini, “Jika demo terjadi, banyak orang berjualan di jalan.

Jadi orang berjualan di jalanlah yang merupakan pemicu terjadinya demo”. Atau dengan kata lain, “Banyak pengacara di Indonesia dari suku A, maka suku A-lah yang menyebabkan parahnya hukum di Indonesia”. Benarkah? Tentu saja hal ini salah. Tapi, kebiasaan inilah yang lantas dengan mudah dibawa keranah manapun dan orang pun lantas tidak memikirkan apakah hubungan sebab akibatnya benar ataukah salah.

Dan terakhir tentu saja, cacat berpikir dalam bentuk tidak punya data yang jelas tetapi sudah memberikan opini. Artinya, kebiasaan masyarakat kita cuma mengambil kesimpulannya tetapi tidak tahu apa fakta yang sebenarnya terjadi. Misalkan saja, kita menyimpulkan Indonesia di jajah negeri asing. Tetapi, kita tidak melihat fakta bahwa banyak teknologi yang tidak kita kuasai, ataupun aturan yang memungkinkan asing untuk masuk. Atau, data soal kongkalikong pebisnis yang membuat asing lebih kuat. Tetapi yang ditangkap adalah asing yang lebih banyak di Indonesia. Akibatnya, orang pun menjadi benci asing tetapi tidak tahu apa masalah yang terjadi dibalik itu.

Semoga saja, tulisan ini membuat kita selalu “alert” dengan bahaya-bahaya kesesatan berpikir yang berpotensi bermasalah di negara kita. Paling tidak, kita sendiri tidak menjadi bagian dari agen yang meneruskan kesalahan berpikir yang kini banyak kita temui dimana-mana, khususnya di ranah sosial media. Turn back hoax! How? Think correctly!

Anthony Dio Martin, trainer, inspirator, Managing Director HR Excellency, penulis buku-buku bestseller, executive coach,  host di radio bisnis SmartFM, dan kolumnis di Bisnis Indonesia. Website: www.hrexcellency.com dan FB: anthonydiomartinhrexcellency dan IG: anthonydiomartin

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.