1

Law of Attraction vs Law of Surrender

Law of Attraction vs Law of Surrender

Sebenarnya sudah lama saya ingin menuliskan pengalaman saya ini. Bener lho! Setelah sekian lama menjadi praktisi dan menjadikan diriku sebagai bagian dari eksperimen The Law of Attraction (hukum daya tarik) yang dulu amat terkenal, kini saya ingin membagikan pengalaman saya.

Kita kilas balik dulu.

Istilah Law of Attraction menjadi begitu terkenal, khususnya setelah buku The Secret yang ditulis oleh Rhonda Byrne beberapa tahun silam menjadi booming dan best seller. Sejak itulah dimana-mana, prinsip Law of Attraction ini diajarkan. Intisari Law of Attraction adalah: apabila Anda betul-betul yakin dengan apa yang kamu inginkan, percayalah maka alam (baca: Tuhan) akan mewujudkan keinginanmu.

Dan para pembicara pun terpolarisasi menjadi dua. Ada yang menentang dan ada pula yang menyukai konsepnya. Saya sendiri memilih yang terbuka untuk mengujicobakan apa yang disebutkan dalam konsep the Law of Attraction ini. Saya pikir nggak ada salahnya dicoba. Intinya dalam pemikiran Law of Attraction ini adalah: Ask (mintalah), Believe (percayalah), Receive (terimalah). Jadi, prinsip ini mengajarkan agar kita berani meminta apa yang kita inginkan dalam hidup ini. Lantas, percaya bahwa kita layak menerimanya. Dan setelah itu, lihatlah keajaiban akan terjadi untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Sederhana kan?

Law of Attraction atau Beruntung?

Mananggapi soal Law of Atrraction ini, seorang temanku yang fanatik soal hukum ini berkata. “Tahu nggak Tin. Setiap kali kalau saya pergi ke mall yang padat, Saya selalu berpikir akan dapat parkiran, dan anehnya setiap kali sampai ke sana, saya selalu dapat parkiran”.

Yang lain lagi berkata, “Tiap kali mengikuti undian, misalkan undian yang baru-baru ini diadakan di kantorku. Hadiah utamanya adalah HP terbaru. Saya membayangkan sayalah yang mendapatkannya, tahu nggak apa yang terjadi? Bener-bener sayalah yang dapat!”

Wow! Nah, karena tertarik dengan apa yang mereka lakukan. Saya pun mencobanya. Sebenarnya tanpa buku The Secret atau pelajaran The Law of Attraction itupun, sejak kecil saya selalu berdoa untuk berbagai hal yang saya mintakan kepada Tuhan. Hingga kadang saya merasa malu karena doaku lebih banyak permintaannya, daripada doa pujian dan perasaan bersyukurnya. Dan, tahukah apa yang terjadi setelah saya berdoa?

Peluangnya tetaplah fifty-fifty. Ada kemungkinan terjadi, ada yang tidak. Sebagai contoh, saya pernah mengikuti saran temanku untuk membayangkan mendapatkan tempat parkiran waktu memasuki mall yang padat. Hasilnya? Tetap saja saya tidak mendapatkan parkiran.

Tapi, pernah juga saya ketinggalan HP di dalam peswat sewaktu dalam kunjungan wisata ke China.Ketika saya berlari balik, pintu penghubung ke pesawatnya telah ditutup. Dengan kesulitan, akhirnya saya harus memberitahukan kepada petugas di bandara soal HP saya yang ketinggalan. Saya tahu ada tim pembersih yang biasanya akan membersihkan ruangan pesawat sebelum take off berikutnya. Nah disitulah saya berpacu dengan waktu. Sambil saya berusaha, saya pun berdoa dan minta tolong kepada Tuhan semoga HP ynag berisi daa penting itu tidak lenyap. Dan beryukurnya saya, HP itu tetap utuh dan kembali kepada saya. Saya tahu itu karena sistem yang bagus di sana. Tapi menariknya, pada hari itu tiba-tiba ada seorang petugas yang bisa bahasa Inggris yang harusnya sudah pulang, ternyata masih stay di sana. Apa yang membuatnya tetap stay? Entahlah. Saya percaya Tuhan mengaturnya untuk membantuku. Itulah keyakinan saya soal bagaimana doa saya dibantu.

Law of Attraction=Mengatur Tuhan?

Ketika merenungkan kembali dan menyimpulkan hasil observasi dan pengalaman saya menjadi subjeknya The Law of Attraction, saya pun berkesimpulan bahwa Tuhan dan kenyataan hidup kita tidaklah bisa diatur sekehendak kita. Mungkin namanya bukan Tuhan, kalau Dia bekerja menurut hukum dan keinginan kita. Makanya, sebuah kesalahan dan kesombongan kita sebaga manusia kalau berpikir ada hukum yang bisa meujudkan apapun yang kita inginkan. Ini makin mirip dengan mendiktekan keinginan kita pada Tuhan.

Dan menariknya, dalam pengalamanku justru banyak dari The Law of Attraction yang tidak terwujud. Saat saya meinginkan bisnis tertentu, tapi justru saya nggak mendapatkannya. Saat menjalankan bisnis yang gagal. Hingga saat saya kehilangan kakak tercinta saya karena penyakit kankernya. Kesemuanya, saya sudah berusaha. Membayangkan hal yang terbaik yang terjadi. Membayangkan bahwa alam semesta (baca: Tuhan) mengijinkan apa yang saya ingnkan terkabul. Tapi nyatanya? Justru itu tidak terjadi!

Pertanyaannya, marahkah saya kepada alam semesta atau Tuhan yang disebutkan dalam Law of Attraction ini?

Sama sekali tidak.

Karena saya menyadari satu hal. Tuhan tidak bisa saya atur dengan pikiran dan kehendak saya. Saya pun menyadari posisi saya bahwa ketika mengharapkan sesuatu saya sedang mengajukan proposal saya kepada Tuhan. Saya boleh saja punya sejuta alasan kenapa proposal itu harus diterima. Tapi, sebagai “Boss Kehidupan” saya, Tuhan mungkin punya gambaran yang lebih besar yang saya tidak paham sama sekali. Proposal saya pun ditolakNya. Apa yang saya inginkan pun tidak terkabulkan. Tapi, saya tidak menyerah karena secara fair saya pun harus mengatakan ada banyak hal yang Tuhan ijinkan terwujud yang diluar harapan saya, yang terjadi tapa saya harus membuatkan proposalnya.

Inilah yang saya sebut the Law of Surrender (hukum menundukkan diri). Dalam hal ini, kita tetap harus positif. Ada benarnya Law Attraction mengajarkan kita untuk mengajukan proposal itu kepada Tuhan. Saat itulah kita melemparkan melalui doa dan harapan kita, apa yang kita inginkan terwujud. Tapi, itulah proposal kita. Ada risiko diterima dan ditolak. Tapi, itulah yang menarik dari kehidupan ini. Gambaran besar ke depannya tetaplah sebuah misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Tapi, kita akan terus berusaha.

Maka, tetaplah positif, tetaplah berdoa, tetaplah berharap, tetaplah membayangkan yang positif, tetaplah percaya, tetaplah sabar. Tapi, di atas segalanya, ketika apa yang kita minta terjadi ataupun tidak terjadi, tetaplah bersyukur. Karena saya percaya orang paling berbahagia bukanlah orang yang selalu menerima apa yang diinginkannya. Tetapi, orang yang mampu tetap berterima kasih dan bersukacita atas apapun yang diterimanya. That is the real happiness!

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.