1

Kecerdasan Emosional (EQ) Buat Para Sales: Inilah 7 Alasannya Mengapa Orang Sales Tidak Disukai!

Jadi sales harus cerdas emosi!

Salah satunya adalah menghadapi berbagai persepsi serta mitos tentang orang sales, yang kadang bisa sangat menjatuhkan semangat! Saya mulai dengan kisah ini!

Ada sebuah kisah menarik yang pernah saya baca. Di suatu hutan, seekor kelinci sedang melompat-lompat dengan cepat. Lalu, di depannya, ada seekor ular yang bergerak dengan cepat ke arah kelinci itu. Sama-sama tidak tahu, akhirnya kedua mahkluk malang itu bertabrakan. Lalu, mereka saling berkata dan saping bertanya,

Kamu siapa?“.

Kelinci, yang malang lalu berkata,

Saya buta sejak kecil dan saya tidak tahu saya siapa. Bisakah kamu memberitahu saya?“.

Si ular, dengan penciuman dan badannya licin mengendus kelinci dan akhirnya berkata,

Kamu punya bulu-bulu dan dua telinga panjang di kepalamu. Kamu pastilah kelinci!“.

Lalu si ular berkata,

Aku pun buta sejak kecil, jadi akupun tidak tahu siapakah aku“.

Lalu si kelinci meraba-raba seluruh tubuh si ular,

Kamu punya badan yang licin. Gampang ngeles dan lolos. Juga punya tubuh yang sekali melilit, nggak gampang dilepas. Juga punya gigi runcing yang selalu siap menerkam. Kamu pastilah… SALESMAN!

He..he.. tentu saja ini lelucon yang dibuat bagi para sales. Tapi kisah ini agak bikin ‘ngenes’ karena kisah ini dibuat untuk menggambarkan orang sales yang seringkali seperti ular: licik, banyak akalnya dan selalu mencari mangsa!

Apakah selalu benar?

Tentu saja tidak. Bahkan banyak kok orang sales yang etis, yang mulia serta “Helpful”. Tapi, itulah paradigma lama yang harus diatasi oleh rekan-rekan sales. Paling tidak, ini berbagai mitos ataupun persepsi tentang orang sales yang harus diatasi.

Apakah mitos dan mispersepsi tentang orang sales yang perlu diatasi itu?

1. Egois, Hanya Memikirkan Dirinya Yang Untung.
Orang sales sering dianggap hanya peduli soal dirinya saja. Tidak peduli orang lain, termasuk nasabah ataupun kliennya. Bahkan, kadang orang sales dianggap hanya mengorbankan orang lain, asalkan targetnya bisa tercapai.

2. Manipulatif, Menggunakan Cara Apapun Agar Orang Membeli
Ini juga salah satu anggapan yang banyak muncul. Orang sales dianggap licik. Banyak hal yang manipulatif. Bahkan berbagai kekurangan produk tidak diceritakan yang akhirnya baru disadari customer setelah mereka membeli. Tapi umumnya sudah terlambat.

3. Cari keuntungan diri sendiri tanpa peduli kerugian orang lain
Tipikal sales yang kadang bikin “eneg” adalah yang mencari korban untuk kepentingan dia, tapi ketika ada masalah, justru tak dibantu sama sekali. Seringkali kalau sudah ada masalah, dengan entengnya si sales berkata, “Lha kan saya bilang tidak selalu akan seperti yang dijanjikan”, “Lho kan kerugian ini sudah tercantum di syarat dan ketentuannya”.

4. Tidak punya etika, datang-datang ketemu hanya mau jualan
Ini juga merupakan salah satu penyakit orang sales yang lain. Dalam pertemuan. Di group, ataupun sosial medianya, isinya hanya mau jualan. Dan kadang-kadang tidak ikuti proses, tahu-tahu hanya ingin promosikan produk atau jasanya. Inilah yang membuat orang sering mengatakan bahwa orang sales itu tak punya etika.

5. Setelah orang membeli, dibiarkan dan ditinggal
Mirip-mirip dengan kebiasaan di atas, banyak pembeli yang merasa kecele setelah pembelian dilakukan. Sebelum membeli banyak dijanjikan ini dan itu. “Nanti ada garansinya”, “Setiap saat kalau sudah membeli akan kami layani”, tapi setelah itu, mau dihubungipun susahnya minta ampun. Lebih parah lagi bahkan customer tisak tahu harus menghubungi siapa setelah ada masalah dengan apa yang dibelinya.

6. Suruh beli dan beli lagi, tanpa peduli apakah barang atau jasa yang telah dibeli, bermanfaat atau tidak
Inilah gaya sales licik yang sejati. Pembeli diikat dalam perjanjian yang mengharuskannya mengeluarkan uang seumur hidupmu. Artinya, pembeli “terpaksa” harus membeli dan membeli lagi dari dia. Tidak peduli apakah sungguh bermanfaat buat pembeli atau tidak, yang penting selalu ada pemasukan buat si sales.

7. Kalau menjual mulutnya manis, tapi setelah itu sikapnya berubah
Ini problem yang mirip-mirip juga. Artinya, saat belum ada pembelian, mulutnya manis, pendekatannya ramah. Tapi setelahnya, sikapnya betul-betul berubah 180 derajat. Saya jadi ingat pernah berbelanja HP ke sebuah toko. Awalnya, yang menawarkan sangat ramah. Tapi, tatkala saya ternyata nggak jadi beli tiba-tiba wajahnya menjadi ketus dan sangat kasar kalimatnya. Saat itu saya bersyukur tidak jadi belanja di tokonya.

Nah, itulah ke 7 persepsi tentang orang sales yang seringkali membuat orang malas berinteraksi dengan mereka.

Kalau Anda adalah orang sales dan merasa tersinggung dengan ke 7 persepsi ini? Baguslah!
Itu artinya Anda termasuk yang berusaha menolak anggapan ini!

Tapi, cara terbaik menolak semua anggapan ini adalah dengan membuktikan kepada dunia bahwa: “Masih banyak kok sales yang sikap dan karakternya mulia!”.

Jadi, hai para sales, janganlah marah atau kesel! Kesalahan-kesalahan itu mungkin dibuat oleh para sales yang tak bertanggung jawab. Nah, tugasmu adalah membuktikan sebaliknya kepada dunia bahwa ternyata masih banyak sales yang melakuan pekerjaannya dengan niat yang baik, hati yang tulus dan sifat yang sungguh-sungguh mau membantu. Percayalah, sales seperti itu makin langka, dan akan terus dicari!

Tetaplah Antusias!

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.