1

Kecerdasan Emosional Bagi Remaja & Orang Tua: “Awas Orang Tua Sebelum Terlambat!”

Pernah melihat tanaman bambu hoki. Ini adalah sejenis tanaman yang bambu yang dihias dengan indah.
Bentuknya manis. Hanya saja,cobalah tanya sama pembuatnya. Bambu kecil ini harus dibentuk sejak kecil. Perlahan-lahan.Ketika masih muda,bentuknya sudah diarahkan. Ketika tumbuh, dia dibentuk. Dan tumbuh dan dibentuk lagi. Sampai akhirnya, terbentuklah tanaman bambu hias yang indah.

Ada satu prinsip untuk membentuk bambu hias ini. Yakni, tak boleh terlambat. Tatkala terlambat bambu ini sudah tak bisa dibentuk lagi. Atau, kalaupun mau dipaksa, butuh energi ekstra yang luar biasa.

Hal yang sama, kita bisa kaitkan dengan pembentukan karakter anak kita.

Mari kita simak beberapa kasus ini.

Kita mulai dengan kasus di Yogya.

Seorang anak yang usianya sudah mahasiswa saat ini, ketagihan game. Problemnya sejak SD, karena orang tuanya berdagang, jadi anaknya dibiarkan. Si anak pun “ditenangkan” dengan cara dikasih main game. Tapi, rupanya si anak menjadi ketagihan. Bahkan ketika usia mahasiswa pun, ia hanya kuliah sebentar. Si anak ini tak punya pergaulan dan kerjanya hanya mengurung diri di kamar. Main game. Ini agak terlambat bagi orang tuanya untuk mendidik.

Dari Yogya, kita ke Medan.
Ada seorang putri, anak seorang pemilik bisnis yang sukses. Problemnya, si anak putri ini tak terkendali. Karena tahu orang tuanya kaya, si putri pun banyak berfoya-foya. Ia bergonta ganti pacar. Bahkan pernah sampai hamil dan diaborsi. Sekarang si putri ini nyaris nggak bisa diatur. Problemnya, si putri ini korban orang tuanya yang balas dendam. Dulu, hidup orang tuanya sangat susah, jadi mereka lantas sangat memanjakan putrinya ini sejak kecil. Ternyata, hingga besar, si putri ini justru tak terkendali.Agaknya, rada terlambat untuk membangun karakternya.

Ketika kita membandingkan antara kebutuhan fisik dengan karakter, semua orang tua pasti akan mengatakan “karakter!”. Namun, orang tua sekarang seakan-akan kuatir anaknya terlantar, kekurangan secara fisik. Akibatnya, mereka pun dijejali dengan uang, kemewahan.

Padahal, faktanya: anak tak pernah akan terlambat untuk diberikan kemewahan!

Justru ada beberapa dampak buruk ketika anak diberikan kemewahan dan kemanjaan terlalu cepat.

Pertama, karena terbiasa dengan kemewahan si anak akan jadi menuntut hal yang sama terus-menerus. Tatkala si anak dituntut untuk disiplin ataupun ditanamkan prinsip yang berbeda dengan segala “kenyamanan” yang selama ini diterima, apa hasilnya? Si anak yang memberontak.

Kedua, rasa nyaman dan kemewahan yang dinikmati si anak, datang dari kerja keras orang tuanya. Masalahnya, ketika si anak dewasa, belum tentu ia mampu menghasilkan seperti yang diberikan orang tuanya.Dengan kata lain, belum tentu anaknya bisa sekaya orang tuanya untuk kemewahan itu.

Problemnya, ketika orang tua menyadari soal anaknya yang bermasalah dengan sikap dan karakternya, seringkali sudah terlambat.

Problem Membentuk Karakter
Problem membentuk karakter yang seringkali tidak dimiliki orang tua: waktu dan energi. Karna sibuk bekerja dan berdagang, akhirnya orang tua jadi merasa bersalah. Kesalahan itu ditebus dengan cara memanjakan anak. Dan ketidaktersediaan waktu ditebus dengan cara membungkam anak-anaknya dengan dikasih berbagai hal yang bisa membuat anaknya sibuk, termasuk dikasih game. Efektifkah?
Untuk sesaat anak memang jadi punya kesibukan dan tak rewel. Tapi akibatnya, pendidikan karakter yang harusnya jadi tanggung jawab orang tua tak terjadi. Dan disinilah sumber masalahnya.

Ketika akhirnya si anak tumbuh menjadi remaja atau dewasa yang bermasalah, orang tuanya pun panik. Waktunya terlambat untuk menata mereka kembali.

Solusinya?

Ada 3 hal penting. Yang jelas semuanya terkait dengan waktu.

Pertama-tama, sesibuk-sibuknya orang tua.Mereka harus terlibat.Mereka harus mau meluangkan waktu untuk membentuk, untuk mengajari dan berinteraksi dengan anaknya. Pendidikan dan hubungan ini tak bisa diganti siapapun.

Kedua, daripada dengan aktivitas yang tidak membangun, pikirkan secara matang, aktivitas yang sesuai bakat anak yang juga bisa mengembangkan karakternya. Membuat anak sibuk saja, tak selesaikan masalah. Sibuk buat apa? Kesibukan buat si anak pun harus direncanakan.

Ketiga, ajari atau libatkan dalam berbagai lembaga yang bisa turut membantu dan memberi masukan buat sang anak. Itulah sebabnya sejak 9 tahun yang lalu, HR Excellency berusaha menjadi partner bagi para orang tua untuk membangun karakter remajanya melalui suatu program yakni EQYouthcamp. Mengapakah melalui lembaga, seminar atau training ini bisa membantu? Penelitian soal bawah sadar anak-anak menunjukkan penanaman bawah sadar (imprinting) yang dilakukan ketika usia remaja dan dewasa bisa jadi bekal buat kehidupan mereka, tatkala dewasa. Problemnya, banyak remaja yang kelak bermasalah karena sejak kecil tidak banyak diberikan imprinting nilai-nilai positif.

Karena itulah, kami tim trainer, konselor dan psikolog di HR Excellency peduli untuk membantu para remaja dan anak muda melalui suatu program pengembangan mental karakter positif yang kami beri nama EQYouthcamp! Biasanya program ini kami adakan setiap bulan Juni serta Desember, ketika anak-anak sekolah sedang libur.

Oya, jika ingin tahu lebih banyak mengenai program EQ Youthcamp kami, silakan tanyakan program EQ Youthcamp kami kepada para konselor dan pembimbing kami di telp: 021-3518505 atau 021-3862521. Atau bisa juga WA langsung ke: 081298054929

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.