1

Kasus Reynhard Sinaga Dianggap Pemerkosa Terbesar Abad Ini di Inggris: Apa Pelajarannya Buat Kita?

To the point saja. Dunia internasional kaget, apalagi bangsa Indonesia. Reynhard Sinaga, mahasiswa doktoral asal Indonesia di Inggris, melakukan pemerkosaan pada korban setelah dibius. Korbannya mencapai 195 bahkan mungkin lebih. Dan hukuman seumur hidup di penjara diberikan. Oleh karena vonisnya sudah dijatuhkan, dari kasus yang awalnya tertutup, lantas menjadi publik. Tentu saja, ini dianggap mempermalukan bangsa kita.
Akibatnya, banyak caci maki terjadi.

Dan ketika saya membaca ulasan-ulasan serta artikel yang menuliskan soal Reynhard, banyak yang mengkaitkan dengan unsur-unsur SARA, seperti biasanya. Dan komentar seperti ini pastinya mengaburkan kita dari pembelajaran sesungguhnya yang harusnya menjadi refleksi bermanfaat buat kita.

Karena itulah, daripada menghakimi, melabel ataupun menyalahkan. Lebih baik, kita menggunakan kacamata psikologi untuk melihat kasus ini. Dan jadikan buat pelajaran, bagi kita.

5 Pelajaran Penting!

Pertama-tama, kasus ini murni pilihan pribadi, bukan masalah latar demografi. Jadi, jangan menghakimi atas dasar bangsa, suku, atau agama, ataupun orientasi seksualnya. Ini adalah soal kelainan jiwa kepribadiannya. Ini pilihan pribadinya. Masalah ini bisa terjadi pada siapapun. Artinya, baik bangsa A, B atau C. Suku X, Y, Z ataupun agama ini atau itu. Orientasi seksualnya normal atau LGBT, bisa berpeluang melakukan kejahatan. Jadi, jangan menghakimi, serta melabel orang dengan dasar latar belakang demografisnya itu. Lihatlah isi penjara, maka Anda akan yakin orang dengan latar belakang apapun sanggup untuk melakukan kejahatan. Jadi jangan “miss the point” (salah kesimpulan). Ini soal pilihan individu yang keliru.

Kedua, hati-hatilah dengan sisi gelap dalam diri kita, yang kita miliki. Reynhard sendiri mengakui bahwa dia punya “sisi gelap” ini. Sayangnya, meskipun sadar, ia tidak berusaha mengendalikannya. Dan dalam teori psikologi Jungian, dikatakan setiap dari kita memiliki sisi gelap ini. Hanya saja, bagaimanakah kita akan menyikapinya. Kisah Reynhard Sinaga ini lantas mengingatkan kita dengan kisah karya Robert Louis Stevenson, Dr. Jekyll and Mr. Hyde. Intinya, paginya Dr. Jekyll menolong orang, malamnya ia berubah jadi Mr. Hyde yang membunuh. Maka, kita pun perlu berhati-hati dengan penampilan fisik. Jangan menilai orang dari tampilan fisik. Kita sama sekali tidak pernah tahu, apakah sisi gelap dibalik penampilan yang bagus itu. Salahnya, judgement kita seringkali diberikan berdasarkan fisik. Padahal fisik bisa sangat berbahaya. Dan kasihan juga dengan mereka yang kebetulan berfisik kurang menarik, tapi diberikan label yang salah.

Ketiga. Percayalah, abnormalitas atau kelainan tidak terjadi begitu saja. Biasanya ada kausalitas. Ada akibat pasti ada sebabnya. Bisa jadi Reynhard pun korban kejahatan seksual sebelumnya. Ini belum banyak diungkap. Ini bukannya membela pelaku, tapi justru jadi pelajaran penting bahwa korban-korban bisa jadi pelaku berikutnya. Maka, berhati-hatilah dengan siklus berikutnya. Itulah sebabnya kalau ada pendidik atau orang tua yang tahu soal anak atau siswa yang pernah menjadi korban kekerasan, khususnya kekerasan seksual. Bantu, dan berupayalah berempati dan menolong semaksimal mungkin agar luka batin mereka disembuhkan. Unfinished business (urusan tak selesai) ini kelak bisa jadi pemicu kejahatan berikutnya.

Keempat, antisipasilah, bagi Anda yang berpotensi jadi korban. Korbannya bisa siapa saja. Dan itu terjadi secara random. Karna itu perlu kewaspadaan. Apalagi misalkan kalau kita mengunjungi klub malam atau tempat -tempat dimana berbagai variasi manusia bisa berkumpul. Kalaupun pergi ke klub malam, waspadalah. Memang kita tidak boleh menggeneralisasi bahwa semua yang pergi ke klub malam itu pasti perilakunya buruk. Tapi, ingat juga bahwa tidak semua yang datang perilakunya selalu baik. Jadi, di tempat umum seperti ini, kita perlu waspada. Berpikir bahwa semua yang di klub malam adalah orang baik juga kecerobohan. Yang penting waspada. Khususnya dengan orang-orang tak dikenal. Kita tak pernah tau. Celakanya, banyak korban Reynhard adalah korban yang terlalu naif yang berpikir bahwa semua orang, sama seperti mereka, baik hati dan penolong. Makanya, demi keamanan, sangatlah penting untuk pergi bersama-sama dengan teman kala ingin ke tempat seperti klub malam. Adanya teman dan group adalah penting, karna bisa saling menjaga. Kebanyakan korban Reynhard adalah pria-pria yang sendirian di club.

Kelima, pelajaran juga buat orang tua. Kewaspadaan itu penting dan ajarkanlah itu kepada anak kita. Khususnya soal kewaspadaan kepada orang baru. Intinya, jangan terlalu percaya sampai kita tahu betul tentang orang itu. Disisi lain kita pun sebagai orang perlu lebih tahu dan terlibat dengan kehidupan anak-anak kita, khususnya pada masa pertumbuhan mereka. Banyak perilaku LGBT yang terjadi karna salah pola asuh. Orang tua ini pun langsung memaki dan menyalahkan anak mereka. Padahal tanggung jawab ada pada pola didik mereka. Misalkan, keyidakhadiran figur ayah dalam kehidupan anaknya. Selain itu, anak pun perlu diberikan dan dilatih dengan kemandirian. Jangan terus-menerus menyuapi anak kita yang membuatnya tidak belajar untuk bertanggung jawab dengan hidupnya. Boleh dikata sepanjang hidupnya Reynhard hanya tahu bersekolah, dengan segala fasilitas yang diberikan orang tuanya.

Sampai disini, kita pun jangan menyalahkan orang tua si pelaku. Mereka pasti tak ingin anaknya demikian. Sekali lagi, ini soal pilihan anaknya sendiri. Maka hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mendidik, memberitahu, dan menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi monster.

Makanya dalam istilah EQ (Kecerdasan Emosional) bahwa tugas sebagai orang tua adalah pola 3L (Listen, Label dan Limit). Dengarkan, pahami apa yang terjadi dan dengarkan perasaan mereka. Label, itu pengajaran dan beri informasi buatnya. Limit itu kasih tau batasannya apa, serta mengajarkan dampak perilaku.

Kasus Reynhard sudah terjadi. Vonis susah diketuk. Tapi Reynhard yang baru akan bermunculan. Daripada kita menyalahkan dan mengutuk. Mari kita ambil pelajarannya buat kita. Kita perlu kewaspadaan agak kita atau sanak-saudara kita tak jadi korban dari predator seperti ini. Tapi lebih penting, waspadai pula untuk mengontrol “sisi gelap” kita sendiri, yang berpotensi membuat kita menyesal seumur hidup dibalik jeruji penjara. Soal sisi gelap ini, satu orang tidaklah lebih baik dari orang lainnya. Jadi, hati-hatilah!

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.