1

Kasus Audrey dan Matinya Rasa Empati

Penganiayaan kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang adik kita yang masih di SMP, Audrey.

Tahukah Anda, belakangan ini kasus penganiayaan dan pengeroyokan lagi marak. Maret lalu, di Tangerang seorang anak SMP dikeroyok. Di Februari lalu di SumBar, seorang anak Robby Al-Halim tewas dikeroyok teman-teman santrinya gara-gara dituduh mencuri. Juga di Amurang, seorang remaja putri dikeroyok 2 remaja SMP. Videonya tersebar di sosmed. Lalu di Palembang, bulan September lalu seorang pelajar SMP dikeroyok teman-temannya. Dan masih banyak kasus lainnya.

Kali ini kita bicara soal kasus Audrey.
Pelakunya tidak tanggung-tanggung. Total pelaku yang terlibat ada 12 orang. Cewek. Masih SMA. Meskipun akhirnya diceritakan bahwa yang melakukan hanya 3 orang. Tapi membayangkan penganiayaan 3 orang disaksikan 9 orang terhadap seorang anak SMP. Cukuplah mengerikan.

Sebenarnya yang lebih memilukan adalah Audrey sebenarnya korban yang tidak bersalah. Sepupunya yang bermasalah. Dipicu oleh masalah soal cowok. Ditambah dengan kemarahan yang dipicu di sosmed. Sepupunyalah yang bertengkar di sosmed dengan pelaku. Lalu pelakupun mengajak temannya untuk menganiaya. Audrey ikut-ikutan kena jadi korbannya. Dan yang bikin marah masyarakat adalah tatkala diberitakan organ intim Audrey pun dirusak para pelaku. Meski akhirnya berita soal merusak organ vital ini kemudian dibantah oleh polisi.

Tak heran masyarakat pun marah. Dalam sehari ada ribuan orang ikut dalam petisi #justiceforaudrey untuk memberi dukungan keadilan buat Audrey.

Dimana Empati?

Bukan cuma empati pelaku yang dipermasalahkan disini, tapi juga empati dari masyarakat saat ketidakadilan terjadi. Kita diskusikan satu per satu soal empati ini.

Pertama-tama, soal keberingasan pelaku. Padahal para pelaku adalah wanita yang biasanya kita anggap lebih lembut. Rupanya, kalau sudah termakan oleh emosi kemarahan, jadi kalap juga. Banyak laporan soal bagaimana para pelaku memperlakukan Audrey. Mulai dari diguyur air, dijambak rambutnya hingga dibenturkan kepalanya ke aspal. Yang bikin marah, bahkan di kantor polisi, para pelaku bahkan sempat unggah boomerang ke instagram mereka. Agak sakit, memang!

Memang, di kantor polisi para pelaku sempat dikumpulkan dan mereka menolak bahwa mereka membenturkan kepala korban ke aspal, dll. Tapi, tentu kita paham bahwa penganiayaan pasti bukanlah dengan cara-cara yang halus.

Mereka sama sekali menunjukkan sikap menyesal, apalagi peduli dengan kondisi korban. Kalimat maaf yang diucapkan oleh pelaku didepan pers, seolah-olah hanya kalimat manis semata. Dimanakah empati mareka saat ketika kejadian terjadi? Bisakah pelaku membayangkan kalau mereka di posisi korban dianiaya bersama-sama Bagaimana perasaannya? Itulah kemampuan empati. Mencoba merasakan dalam posisi orang lain. Dan jawabannya justru karena tidak ada empati itulah yang membuat mereka menganiaya!

Hal yang sama juga dalam masyarakat. Seringkali penganiayaan tidak akan jadi masalah besar kalau ada masyarakat yang menolong atau menghentikan. Sayangnya, dalam psikologi ada yang namanya Bystander Effect. Inilah efek dimana seorang korban cenderung tidak akan ditolong oleh siapapun, pada saat ramai, karena masing-masing orang saling menunggu dan berharap ada orang lain yang menolong.

Bystander effect ini pernah dialami oleh seorang wanita Kitty Genovese yang ditikam sampai mati di tahun 1964. Kisahnya bikin heboh karna diperkirakan ada belasan mata yang menyaksikan kejadian itu dari atas apartemen Kitty. Banyak yang lihat, tapi tidak ada seorangpun yang melaporkan, apalagi menolong. Hingga akhirnya Kitty meninggal.

Salah satu hal yang disayangkan adalah ujung-ujungnya, korban tetap tak dibantu sama sekali.

Disinilah kita ingin katakan, bahwa kadang perasaan kasihan sajapun tidaklah cukup. Kita perlu tindakan dan aksi untuk membantu korban. Kita perlu mewujudkan sesuatu, paling tidak berteriak untuk mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu tercela. Dan tahukah Anda, kejadian Kitty di atas berlangsung sangat lama, hingga akhirnya ada salah satu tetangganya yang akhirnya berteriak, “Biarkan wanita itu!”. Pembunuhnya yang bernama Winston Moseley, akhirnya pergi.

Coba, kalau tidak ada yang berteriak?
Tapi, itupun sudah terlambat!

Ayo, Kita Stop Penganiayaan!

Bagaimana kita bisa stop penganiyaan semacam ini terjadi lagi?

Pertama-tama. Hukuman sosial bisa dilakukan. Adanya kecaman dan komentar negatif terhadap sikap pelaku, sebenarnya bisa menjadi semacam sangsi sosial bagi pelaku. Kalau mereka peduli untuk memosting foto mereka di sosmed, maka mereka pastilah akan merasakan hukuman di sosmed saat orang-orang di sosmed pun mengecam mereka.

Kedua, masih bicara soal konsekuensi. Dalam mazhab psikologi perilaku dikatakan, “Perilaku yang dihukum, akan berhenti. Perilaku yang dapat hadiah akan diulangi”. Psikologi menyebutnya pengkondisian operan. Jadi, jika perilaku pengeroyokan dan penganiayaan ini tidak dihukum dan dibiarkan, maka kelak orang-orang akan makin banyak yang menyelesaikan masalahnya dengan cara main hakim sendiri. Problem adalah, ketika orang benar jadi korban dan orang salah tak tersentuh hukum. Maka jelaslah harus ada penghukuman fisik ataupun mental yang diberikan kepada mereka-mereka yang menganiaya agar orang lain pun berpikir dua kali sebelum mengeroyok, menganiaya bahkan mem-bully sekalipun.

Ketika pada akhirnya hukuman tidak mempan bagi mereka-mereka yang masih dibawah usia dewasa, maka sebenarnya hukuman tetap bisa dilakukan melalui orang yang signifikan dalam hidup mereka. Jelaslah bahwa siswa-siswi ini bisa jadi produk pendidikan orang tua yang salah. Orang tua yang arogan. Bahkan beberapa diantaranya boleh jadi adalah para pejabat dan orang penting. Dan bisa jadi itulah yang membuat pelaku bisa merasa boleh berbuat seenaknya.

Makanya, orang tua atau orang signifikan dalam hidup para pelaku ini, harusnya bertanggung jawab pula! Sayangnya betapa banyak kejadian di negeri ini yang bapaknya berkuasa, orang tuanya selebritis atau artis, bisa bersikap seenaknya. Bahkan hingga menabrak mati orang pun bisa lolos dengan tenang. Tidakkah perilaku orang tua yang petantang petenteng inilah yang menghasikkan anak-anak si tukang bully dan penganiaya?

Ayo kita terus meneriakkan ketidaksetujuan kita. Siapapun tidak boleh merasa berkuasa dan menindas yang lemah. Jika dibiarkan, kekacauan akan semakin merajalela. Apalagi, ini dilakukan oleh mereka yang masih belia.

Say NO kepada penganiayaan, bully ataupun intimidasi kepada yang lemah!

Salam Antusias!
www.anthonydiomartin.com

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.