1

KARYAWAN BERMENTAL PENUMPANG

Tahukah Anda dengan pepatah menarik ini, “Jangan mengharapkan orang yang menyewa mobil untuk membersihkan mobilnya“. Kenapa? Pertama, karena orang yang menyewa, merasa ia “hanya” menyewa dan sudah membayar. Kedua, karena merasa bahwa itu bukan miliknya. Jadi setelah menyewa, si penyewa akan merasa, pemilik mobilnyalah yang harus membersihkan. Bukan dia.

Sesuatu yang logis sih!

Tapi mentalitas ini lantas menjadi menarik kalau dikaitkan dengan urusan “sense of belonging” terhadap organisasi. Artinya, mental ini bisa dihubungkan juga dalam setiap organisasi. Ada yang merasakan dirinya sebagai bagian dari pemilik, ada juga yang hanya merasakan dirinya sebagai penyewa.

Bagi penyewa, dia cuma numpang pakai. Bagi penyewa, dia hanya kebetulan lewat dan menggunakan. Jadi, nggak punya tanggung jawab apapun. Setelah kepentingannya selesai, “Aku nggak ada urusan lagi, itu kan urusan yang punya!“. Maka bagi penyewa, filosofinya cuma satu, “Urusanku yang terpenting. Kalau urusanku selesai, maka aku nggak punya kepentingan apapun. Toh, aku juga sudah membayar“.

Sementara bagi pemilik, urusannya bahkan lebih banyak. Memang sih dia yang memiliki, tapi tanggung jawabnya menjadi besar. Dia dapat uang dengan menyewakan, tapi semua pengeluaran mobil, perawatan, kepusingan dengan mobilnya harus dia yang memusingkannya. Itulah pusingnya jadi pemilik! Syukur-syukur, kalau si pemilik itu punya orang-orang yang ikut berbagi “keprihatinannya“.

Begitulah juga nasib manusia dalam organisasi.

Jadi, kita mengenal ada tipe karyawan, pegawai yang mentalnya hanya sebagai penumpang. Ada juga yang mentalnya merasa menjadi bagian dari pemilik.

Sekali lagi. Karyawan yang mentalnya numpang, mirip seperti karyawan yang menyewa. Filosofinya,”Aku kan usah capek dan memberikan kobtribusiku“. Kalau aku udah kerja, udah memberikan diri dari jam 8 sampai jam 5 ya urusannya udah selesai. Yang lain-lain, perusahaanlah yang mengurusi. Atau, kalau nggak ada kaitannya dengan aku, “Itu bukan urusanku lagi”. Sebagai karyawan tipe penumpang, maka akan merasa sangat keberatan kalau kepentingan dirinya sampai harus dikorbankan. Waktu, tenaga bahkan sampai hal kecil sekalipun. Makanya, pernah ada seorang tipe karyawan “penumpang” yang bahkan sampai bilang begini, “Saya nggak mau merusak postingan IG atau FBku yang bagus dengan postingan yang berisi produk dan promosi barang kantor. Soalnya kan udah ada yang mengurusi. Lagian, merusak pemandangan di sosmedku aja!“. Hmm.. memang sih kantornya tidak mengharapkan dia buat memposting produk atau jasa dari tempat kerjanya. Tapi, sedikit mempunyai “sense of belonging“, tidak ada salahnya, bukan?

Sementara, karyawan yang merasakan diri menjadi bagian dari “pemilik” akan merasa, “Organisasi ini mungkin bukanlah milikku yang sesungguhnya. Tapi, saat aku berada disini, nasibku ya ditentukan oleh kelangsungan organisasi ini.” Mereka cukup cerdas dam berjiwa besar untuk berkata, “Organisasi ini adalah jiwaku dan hidupku“. So, segala tindak tandukku sedikit atau banyak, ikut menentukan organisasiku.

Karyawan tipe penumpang dan penyewa, merasa bahwa “Kepentinganku yang lebih utama disini“. “Organisasi, perusahaan atau lembaga ini ada untuk memenuhi kepentinganku“. Sementara, karyawan tipe pemilik, merasa bahwa menyadari bahwa “Kepentinganku ada, setelah organisasi karena ketika organisasi terurus, maka sebenarnya aku mengurusi nasibku juga!“. Tapi, masalahnya begini…ada ada banyak karyawan tipe penumpang yang akan sangat benci dan merasa karyawan yang merasa dirinya sebagai bagian dari pemilik sebagai: penjilat, tukang cari muka, sok!

Namun kita tahu, pemilik sendiri tidak bisa membuat bisnis, organisasi dan lembaganya berkembang. Dibutuhkan orang-orang, karyawan, anggota yang merasakan dirinya menjadi bagian dari pemilik. Dan bukannya yang cuma merasa jadi penumpang.

Dan percayalah, dimanapun. Di organisasi manapun. Di lembaga manapun. Dari lembaga profit hingga keagamaan sekalipun, akhirnya sungguh dibangun oleh karyawan atau anggota yang memiliki mental “ikut memiliki“. Merekalah yang mau ikhlas mengurusi, ikhlas membantu dan rela meluangkan waktu dan tenaga sehingga organisasi, lembaga dan bisnis bisa terus bertumbuh.. serta terus memberi manfaat buat banyak orang.

Sungguh dimana pun, kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada karyawan atau anggota bermentalitas pemilik ini. Jangan kita meremehkan atau menertawakan orang-orang seperti ini. Karena justru merekalah yang membuat organisasi, lembaga atau suatu kegiatan jadi bertumbuh, berkembang. Bayangkan, ketika semua orang merasa dirinya cuma “penumpang“?

Tapi yang menarik, dalam banyak kasus, khususnya di dunia bisnis, justru mereka yang bermental pemilik inilah yang lebih sukses. Dan atasan yang pintar pun akan tahu untuk menjaga mereka, karena para pemimpin sadar, merekalah yang sungguh merupakan aset bagi organisasi! Terlalu sayang, kalau sampai mereka keluar dan bekerja di tempat lain. Itu sebabnya, mengapa ada banyak karyawan bermental “pemilik” yang sukses. Bahkan setelah keluar dan sungguh-sungguh menjalankan bisnisnya pun, mereka pun sukses!

Mungkin pada akhirnya, hukum universal ini berlaku, “Kepada yang banyak memberikan, ia juga akan banyak menerima. Kepada cuma sibuk mengumpulkan buat dirinya sendiri, ia pun akan sedikit akan diberi“.

Salam Antusias!

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.