1

‘HELICOPTER PARENT’ vs ‘MARINE PARENT’

Hlicopter parent vs Marine parent

Pak Anthony yang selalu antusias. Saya mantan peserta seminar Bapak. Saya senang sekali membaca bahkan mengkoleksi tulisan Bisnis Indonesia minggu lalu soal Kecerdasan Emosi bagi remaja. Bahkan, saya juga copy-kan dan menyebarkannya pada beberapa orang tua murid di sekolah kami. Sayangnya, sekolah kami tidak langganan Bisnis Indonesia, jadi saya harus berusaha mendapatkan Bisnis Indonesia Minggu dengan agak susah. Langsung saja ke inti masalahnya. Saat ini, saya tengah bermasalah dengan salah satu murid saya. Ia pintar luar biasa, maklum saya mengajar di kelas akselerasi Pak, yang isinya anak-anak pintar atau kalau boleh, saya bilang jenius. Namun belakangan ia stress dan kurang bisa menerima perlakuan orang tuanya. Saya merasa sebenarnya murid saya tersebut tidak bermasalah, hanya saja orang tuanya terlalu menekan. Ia pernah bercerita pada saya, bahwa aktivitas kesehariannya hanya sekolah dan les macam-macam hingga pukul 7 malam. Kemana-mana, orangtuanya pun membuntuti dan ia amat dibatasi. Dia pun dibekali handphone yang menurutnya itu bukan untuk komunikasi, tapi untuk memonitor setiap kegiatan murid saya tersebut. Dalam sehari, bisa lebih dari 5 kali orang tuanya menelpon. Pokoknya ia sangat merasa tertekan dengan perlakukan yang dilakukan oleh orang tuanya. Saya sudah coba untuk berbicara dengan orang tuanya, namun alasan mereka adalah “Saya tidak mau kegagalan saya terjadi pada anak saya, jadi wajar donk”. Nah Pak Anthony, bagaimana saya harus menyikapinya?  Terima kasih atas responnya . Dira, Jakarta

Tanggapan:

Dear Ibu Dira,

Terima kasih atas atensi yang telah Anda berikan untuk setiap seminar yang HR Excellency selenggarakan, juga atas minatnya pada artikel-artikel rutin kami di Bisnis Indonesia Minggu. Saat mendengar kisah Ibu, saya pun teringat dengan istilah Helicopter Parent. Nah, apakah itu Helicopter Parent? Sebenarnya, istilah ‘Helicopter Parent’ ini menunjukkan suatu fenomena yang terjadi dikalangan orang tua, yaitu tipe orang tua yang merasa harus terus berada di sekitar anaknya dan siap untuk ikut campur dan menyelamatkan hari- hari anaknya. Perlindungan yang diberikan orang tua yang terlalu berlebihan itu, akhirnya justru membuat gerah dan stress anak tersebut.

Sebenarnya, perhatian yang diberikan oleh orang tua adalah wajar. Apalagi dengan berbagai perkembangan teknologi, tingginya tingkat bahaya pergaulan remaja serta semakin sedikitnya jumlah anak dalam keluarga yang membuat orang tua ingin anaknyalah yang bisa menjadi andalan kelak. Orang tua mana yang tidak ingin yang terbaik untuk anaknya. Namun menjadi tidak wajar bila hal ini berjalan secara berlebihan dan mulai menimbulkan akibat-akibat dari Helicpter Parent seperti dibawah ini .

Pertama. Anak mulai terlalu tergantung dengan orang tuanya, sehingga tidak bisa memutuskan apa yang terbaik buat dirinya. Rekan Dira, jika punya kesempatan berbicara dengan orang tuanya, perlu sekali dikomunikasikan bahwa perhatian yang berlebih dapat membuat diri sang anak menjadi manja, dan lepas dari tanggung jawab apapun. Karena toh semua bisa di-handle oleh orang tuanya.

Kedua. Orang tuanya mulai ikut campur dengan kesuksesan dan kegagalan anaknya, contoh yang paling dapat menggambarkan adalah anak sma yang mulai penjurusan, karena dimata orang tua IPA lebih bergengsi, maka dengan berbagai cara orang tua akan mencoba agar anaknya masuk jurusan bergengsi tersebut. Padahal belum tentu anaknya mampu mengikuti pembelajaran yang akan diterimanya.

Penyebab

Nah, sebenarnya apa yang membuat orang tua berperilaku seperti itu? Awal terjadinya fenomena ini adalah karena adanya fenomena Baby Boomer yang ternyata dilatarbelakangi oleh orang tua yang mempunyai kehidupan yang sulit di masa kecil mereka. Ada yang dulu hidupnya susah, ada yang karena faktor ekonomi sehingga tidak bisa sekolah dan ada yang orangtuanya melarang mereka ikut les ini-itu. Akibatnya, mulailah mereka menyalahkan kondisi dan situasi saat itu. Dalam hati kecil mereka, mereka mulai berjanji untuk memberikan yang terbaik bagi anak mereka dan berharap agar anaknya tidak perlu mengalami kesulitan sebagaimana yang mereka rasakan. Selanjutnya, mulailah mereka berkembang menjadi orang tua yang menjadikan anak-anak mereka bagaikan putri dan pangeran di kehidupan mereka.

Perilaku-perilaku orang tua yang seperti itulah yang patut diwaspadai. Terutama oleh seorang guru yang menghadapi anak yang orang tuanya ‘Helicopter Parent’. Berikut beberapa yang bisa Ibu Dira lakukan untuk membantu orang tua tipe Helicopter Partent ini.

Tips MARINE

Untuk gampangnya. Tips tersebut saya singkat menjadi ‘MARINE’, yang kurang lebih artinya lautan. Ini saya maksudkan sebagai sebagai counter dari tipe orang tua seperti helicopter yang melayang di udara dan terus menerus mengawasi 24 jam. Sebaliknya, kalau di lautan, apalagi kalau kita bicara kapal selam. Wujudnya tidak kelihatan, tetapi tetap memberikan perhatian dan bimbingan. Nah, mari kita bicarakan tips MARINE ini.

Mari kenali dan pelajari ciri dan perilaku orang tua tersebut. Coba lihat lebih dalam lagi mengenai perilaku yang dilakukan oleh orang tua murid ibu tersebut. Sampai sejauh manakah si orangtua melakukan intervensi dalam setiap aktivitas anaknya. Jangan-jangan berbagai aktivitas tersebut memang merupakan bagian dari keinginan anaknya tersebut.

Apakah memberikan dampak pada anak. Setelah Anda mendapat ciri-ciri perilaku dari orang tua, coba lihat dampaknya bagi murid Anda tersebut. Biasanya dampaknya terlihat banyak pada rasa percaya diri anak dan tanggung jawab anak terhadap tugas yang diberikan padanya.

Rechek kebenaran informasi yang anda dapatkan. Hal ini sebenarnya sudah Anda dapatkan dengan cara berbicara pada si anak maupun orang tua anak tersebut. Dan dari jawaban orang tuanya, kita pun bisa menyimpulkan bahwa memang orang tuanya termasuk tipe helicopter.

Informasikan langsung pada orang tua bahwa mereka adalah “helicopter parent”. Bila Anda telah mendapatkan ciri-ciri perilaku dan telah terlihat dampaknya pada anak, Anda dapat “sharing” dengan orang tua. Jabarkan keseluruhan perilaku mereka dan berikan pula dampak yang telah terlihat pada anak mereka. Jika perlu, sampaikan keluhan si anak yang mungkin tidak dapat diutarakan oleh si anak kepada orang tua mereka. Jadilah mediator dalam kasus ini.

Negatif efek dikomunikasikan pada orang tua. Katakan juga pada mereka mengenai efek negatif yang akan berdampak pada anak mereka dengan pengalaman-pengalaman yang bisa menggugah mereka. Jika perlu, gunakan berbagai kisah maupun pengalaman Anda yang terkiat dengan helicopter parent ini agar mereka bisa sadar dan mau mengubah cara perhatiannya pada si anak.

Emosi positif apa yang akan didapat ketika bisa menghentikan diri dari helicopter parent menjadi marine parent. Ingat, ‘Marine Parent’ adalah orang tua yang berperan seperti kapal penyelam. Ia tetap mengawasi dari dalam, tapi tetap memberikan kepercayaan pada anaknya untuk bertumbuh dan bertanggung jawab. Beri juga kisah-kisah orang tua yang bisa menerapkan Marine Parent dan anaknya sukses.

Semoga, dengan menerapkan tips MARINE tadi, Ibu Dira dapat lebih siap dalam menghadapi orang tua yang cenderung jadi helicopter parent terhadap anaknya.

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.