1

FLI: Failure Learning Investment

“He who has never made a mistake, never made a discovery” – Samuel Smiles

Pernahkah mendengar nama Tom Watson Jr.? Dialah CEO perusahaan terkemuka IBM  yang menjabat pada tahun 1956 hingga 1971. Selama kurang lebih 15 tahun kepemimpinannya, Watson bukan hanya dikenal sebagai tokoh penting dalam dunia teknologi informasi, tetapi ia juga dikenal sebagai salah satu CEO dengan kemampuan leadership yang mengagumkan. Salah satu kejadian yang membuatnya dikagumi adalah ketika suatu hari ada seorang bawahannya yang masih berusia muda, membuat kesalahan pengambilan keputusan atas perusahaan yang mengakibatkan kerugian hingga jutaan dollar. Bayangkan angka jutaan dollar di tahun 1960an, tentu sebuah angka yang cukup fantastis.

Jika Anda menjadi Watson, kira-kira tindakan apakah yang akan Anda lakukan? Ternyata, inilah yang Watson lakukan. Ia segera memanggil bawahan kepercayaannya itu ke ruangannya. Dengan tertunduk lesu dan wajah putus asa, karyawan muda itu menghadap Watson dan berkata, “Saya tahu pak, saya sudah membuat keputusan yang sangat fatal untuk perusahaan. Saya rasa tujuan saya dipanggil adalah bapak ingin memberitahukan mengenai pemecatan saya bukan?” Dengan tersenyum Watson melontarkan jawaban yang sungguh mengagetkan, “Sama sekali tidak anak muda, kami baru saja mengeluarkan jutaan dollar untuk mendidikmu!”

Tentu saja saya tahu, apa yang dilakukan oleh Watson tidak bisa dengan mentah –mentah kita aplikasikan begitu saja. Namun, ada suatu pelajaran besar yang kita bisa ambil dari Tom Watson Jr. sebagai seorang pemimpin sejati  yang ternyata mampu memandang masalah dengan cara berbeda. Jika Anda mempelajari riwayat hidup para pemimpin sukses yang menorehkan namanya dalam sejarah emas kehidupan manusia, Anda akan menemukan bahwa mereka adalah orang-orang yang memandang tantangan, masalah, penderitaan, kegagalan, dan kesalahan dengan cara yang berbeda. Mereka memandang tantangan sebagai alat pengasah kemampuan. Mereka memandang masalah sebagai salah satu tester atas keyakinan mereka.  Mereka memandang penderitaan sebagai benih yang harus ditabur untuk menghasilkan tuaian yang berlipat ganda. Mereka memandang kegagalan sebagai salah satu cara salah yang harus dihindari pada percobaan berikutnya. Mereka memandang kesalahan sebagai salah satu investasi dalam melakukan pembelajaran. Dan Anda harus tahu kadangkala ada pembelajaran-pembelajaran yang memang hanya bisa kita dapatkan melalui kesalahan, meskipun kadang mahal harganya.

Idealnya, pemimpin yang sejati, rela memberikan ruang bagi bawahannya untuk melakukan kesalahan. Saya pernah menjumpai seorang pemimpin yang sangat otoriter dan sangat mengandalkan kekuasaannya dalam menggerakkan orang lain. Ia tidak pernah mentolerir kesalahan, setiap kali anak buahnya membuat sebuah kesalahan yang menurutnya sangat mengganggu, ia segera mem”blacklist” bawahannya tersebut. Akibatnya, karyawan yang ia blacklist tidak akan pernah mendapat tanggung jawab dan kesempatan untuk promosi lagi. Selamanya ia akan menjadi “anak tiri” dalam organisasi sampai pelan-pelan ia tidak tahan, lalu mengundurkan diri.

Bukan hanya itu, pemimpin ini juga tidak mau menerima berbagai ide dan saran yang bertentangan dengan pendapat dan keyakinannya. Ia menganggap apa yang ia yakini sebagai yang paling benar. Sehingga tatkala ada orang yang bersikap kritis, ia malah menganggapnya sebagai ancaman dan segera menyingkirkannya dari organisasi. Pada awal kepemimpinannya, ia berhasil membangun karisma dan menunjukkan kekuasaannya. Semua orang takut dan berusaha melakukan yang terbaik agar tidak masuk dalam catatan hitam si pemimpin ini. Namun, dengan berjalannya waktu, rasa takut dan tertekan yang terus-menerus dipendam meledak menjadi sebuah pemberontakan dan perlawanan. Satu demi satu orang penting dalam lingkaran inti si pemimpin mulai mengundurkan diri dan meninggalkannya. Si pemimpin itu akhirnya ditinggalkan sendirian. Dan kita semua tentu sudah bisa menebak akhirnya, siapa yang sanggup membangun organisasi besar sendirian tanpa dukungan orang-orang kunci yang kompeten?

Ya, memang ada kesalahan-kesalahan yang tidak bisa ditolerir, terutama jika kesalahan itu dilakukan dengan sengaja dan berdampak sangat buruk secara luas. Namun, jika Anda adalah seorang pemimpin, Anda tentu sadar bahwa Anda bisa berdiri di atas puncak karena ada orang-orang di atas Anda yang bersedia memberikan ruang untuk Anda melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut. Anda juga tentu sadar bahwa ada orang-orang yang tetap mempercayai Anda meski Anda pernah melakukan kesalahan. Jadi, mengapa Anda tidak melakukan hal yang sama? Bahkan anak kita sekalipun harus melakukan beberapa kesalahan agar ia belajar sesuatu bukan? Saya teringat dengan buku lucu berjudul ‘I Once Wore Diaper’ karya penulis motivasi negera tetangga kita Malaysia, Michael Lumy ketika ia menyadari bisa menjadi seperti sekarang karena belajar dari kasalahan dan kegagalannya yang pernah dialaminya. Juga, bagaimana ia berterima kasih kepada orang tua maupun mantan atasannya yang membiarkannya membuat salah tetapi kemudian ia berkesempatan belajar dari kesalahan tersebut. Sebagai ganti hutang budinya, ia memberikan kesempatan anaknya serta anak buah di kantornya untuk mengambil risiko, membuat kesalahan tetapi mengajaknya belajar dari kesalahan tersebut. Biasanya, pelajaran dari kesalahan dan kegagalan ini menyakitkan, tetapi tidak terlupakan!

Biasanya, kedewasaan dalam kehidupan justru diraih tatkala seseorang melakukan kesalahan dan ia bisa memandang kesalahan itu sebagai sebuah pembelajaran yang berharga. Dan hanya pemimpin sejatilah yang bisa mengakomodir hal tersebut untuk bawahannya. Hanya pemimpin sejati yang bisa membantu bawahannya dalam menjadikan kesalahan sebagai sebuah batu loncatan untuk meraih tempat lebih tinggi. Dan, memang itulah salah satu alasan Anda menjadi pemimpin mereka. Pemimpin, bukanlah orang yang hanya sekedar memerintah dan mengharapkan bawahannya tampil sempurna. Sebaliknya, pemimpin yang positif adalah orang mau berjalan bersama bawahannya, dan jika ia melihat ada diantara bawahannya yang jatuh atau terpeleset, ia bisa memegang mereka dan mengajari bagaimana mendaki dengan aman.

Di akhir artikel ini, saya ingin mengutip kata-kata dari Thomas Alva Edison ketika suatu hari pabriknya mengalami kebakaran. Semua dokumentasi atas percobaan-percobaan yang sedang disempurnakan, terbakar habis. Seluruh pekerja pabriknya sangat sedih dan frustasi melihat hasil usaha keras mereka habis tak tersisa. Namun, Edison dengan keyakinan yang teguh berkata kepada mereka (dan mungkin juga kepada dirinya sendiri), “Ini adalah sebuah bencana yang berharga! Semua cara-cara keliru kita sudah dibakar habis, dan syukur kepada Tuhan, kita bisa memulai lagi semuanya dengan cara baru!”

Dapatkah Anda melihat karakter yang sesungguhnya dari seorang pemimpin sejati? Apakah Anda melihat kesalahan Anda maupun kesalahan bawahan Anda sebagai sebuah kegagalan sia-sia yang mengakibatkan biaya mahal? Atau sebuah investasi pembelajaran yang berharga? Ingatlah, kesalahan dan kegagalan adalah investasi yang berharga selama kita bisa mengambil insight darinya.

Anthony Dio Martin

Managing Director HR Excellency | Best EQ Trainer Indonesia | Ahli Psikologi, Pakar NLP, Hypnotherapist, Penulis buku-buku best seller. Telp: 021-3518505 atau 021-3862521 | Email: info@hrexcellency.com | Web: www.hrexcellency.com | Blog: www.anthonydiomartin.com

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.