1

Anger Management Dari Insiden Will Smith Tampar Chris Rock di Oscar 2022

Ada peristiwa menarik dari acara Oscar 2022. Tepatnya peristiwa yang tidak terlalu menyenangkan, karna membuat shock para undangan yang hadir. Kejadiannya terjadi saat Will Smith menampar Chris Rock, yang saat itu jadi pembawa acara untuk mengumumkan nominasi dan pemenang film dokumenter. 

Awalnya, Chris memulai dengan membuat lelucon dan menyapa istri Will Smith, Jada Pinkett Smith sebagai “GI Jane 2”. Soalnya, saat itu kepala Jada  memang plontos gara-gara penyakit Alopecia, penyakit autoimun yang dideritanya. Mulanya, tampak Will Smith masih tersenyum dengan gurauan Chris. Namun  beberapa saat melihat istrinya tidak senang, Will Smith maju ke depan podium dan menampar Chris. Setelah kembali ke tempat duduk, Will Smith pun memperingatkan Chris untuk tidak menyebut istrinya lagi dalam gurauannya. Suasana Oscar yang biasanya santai, rileks berubah jadi tegang, gara-gara kejadian itu. Setidaknya, itulah yang dikatakan para peserta bintang film dan selebritis yang hadir di acara tersebut. 

Pentingnya Anger Management!

Setelah kejadian itu, Will Smith pun sempat minta maaf. Ketika dapat penghargaan sebagai aktor terbaik lewat film King Richard, Will Smith sempat meminta maaf kepada panitia atas tindakannya. Di keesokan harinya, Will Smith juga menulis surat permintaan maafnya kepada Chris atas kemarahannya yang membuat ia menampar Chris. 

Tentu saja, kejadian malam Oscar di Dolby Theater itu bikin kaget dan langsung bikin viral. Banyak yang tidak percaya dan banyak yang membela tindakan eroic Will Smith yang dianggap membela keluarganya. Tapi, ada juga yang mencela Will Smith karna dianggap tidak sepantasnya menampar di acara seperti itu. 

Kejadian itu, tentu membuat kita bertanya-tanya, apakah dibenarkan menampar dalam situasi seperti itu? 

Sebenarnya, jawabannya sudah diberikan oleh Will Smith sendiri. Dalam surat permintaan maafnya ia mengatakan dirinya khilaf dan tidak semestinya mempertontonkan kekerasan. Apalagi, Will Smith sebenarnya baru saja merilis buku terbarunya yakni WILL yang berkisah bagaimana sebagai anak laki dari 4 bersaudara, ia dibesarkan di lingkungan yang keras. Ia berkisah soal pentingnya mengendalikan diri. Faktanya, apa yang ia tuliskan, justru bertolak belakang dengan apa yang ia lakukan di acara Oscar 2022 itu. 

Disinilah, Will Smith justru memberikan kita sebuah kenyataan bahwa pada saat kita tersinggung dan marah, kita tetap perlu menjaga “kewarasan” tindakan kita. 

Marah itu Wajar!

Tentu saja, wajar kalau kita marah saat merasa tersinggung. Dan respon Will Smith pun beralasan. Ia menyebutkan saat ia menerima Oscar bahwa ia sedang berperilaku seperti tokoh Richard Williams yang ia perankan dalam film King Richard, yang melindungi anak-anaknya, Serena dan Venus Williams. Ia merasa melindungi Jada yang jadi bahan lelucon, padahal Jada sendiri sudah mengakui kalau ia tidak pede dan nyaman dengan penampilannya. Makanya, saat istrinya dijadikan bahan lelucon, Will Smith pun bersimpati sebagai seorang suami, dan tampil membela istrinya. 

Ada banyak yang akhirnya memuji dan salut dengan respon Will Smith. Ia dianggap tampil sebagai figur yang membela dan tegas dengan sikapnya. Tapi, sebuah pertanyaan juga ditanyakan oleh mereka yang menyayangkan sikap Will Smith, “Haruskah saat marah dengan menampar?” 

Bagaimana Saat Marah?

Filsuf Aristoteles sudah mengingatkan, “Marah itu mudah. Tapi marah kepada orang yang tepat, dengan tingkatan yang tepat, tujuan yang tepat dan cara yang tepat, itulah yang susah”. 

Kejadian di malam Oscar Acadamy Award ke-94 ini mengingatkan bahwa terkadang, emosi kita bisa meledak dengan cara yang sulit dikendalikan. Itulah sebabnya memahami dan mengantisipasi kemarahan kita, agar tidak menjadi sesuatu yang merusak, perlu dipahami. 

Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita bisa belajar mengendalikan kemarahan kita saat situasi tidak menyenangkan. 

Yuk, dari pelajaran Anger Management dan Kecerdasan Emosional (EQ) sebenarnya, ada beberapa prinsip penting yang bisa kita simak. 

Pertama, jangan langsung merespon saat marah. Paling tidak, belajarlah buat jeda sejenak. Dalam pelajaran EQ ada yang namanya jeda 6 detik (six seconds). Minimal paling nggak tahan 6 detik, syukur-syukur bisa lebih, agar respon kita tidak dikendalikan oleh emosi kita. Jeda memberi waktu untuk menahan diri dan memutuskan respon terbaik. 

Kedua, praktekkan consequential thinking. Consequntial thinking artinya memikirkan apa dampak dan akibat dari respon dan tindakan. Ini tidak mudah. Tapi, jika ingin cerdas emosi, hal yang mesti dilatihkan dan dipikirkan dengan cepat saat kejadian terjadi adalah kemungkinan dampak dari sikap, perbuatan dan tindakan kita. Apakah respon kita akan merusak suasana? Apakah akan berakibat makin fatal? Apakah menyelesaikan masalah? Apakah akan membuat situasi tambah runyam? 

Ketiga, pikirkanlah berbagai alternatif. Satu pelajaran penting dalam anger management dan EQ adalah kemampuan untuk melihat berbagai alternatif untuk merespon sesuatu. Artinya, orang yang cerdas emosi selalu punya banyak alternatif untuk bersikap, jadi tidak selalu harus dengan kekerasan. Menampar hanyalah salah satu alternatif. Tapi, dalam situasi itu, Will Smith sebenarnya punya banyak cara untuk merespon Chris. Apalagi, Will Smith jadi pemenang Oscar buat pemeran pria terbaik. Malahan itu bisa jadi sindiran terbaik buat Chris yang hanya jadi pembawa acara. Jadi, intinya, Will Smith punya banyak cara lain buat “beri pelajaran” kepada Chris Rock. 

Keempat, dalam pelajaran tentang EQ, ada yang disebut dengan assertive anger. Artinya, menghadapi situasi atau kondisi yang tidak menyenangkan dengan bersikap tegas. Tidak harus ‘marah-marah’ tapi ‘marah dengan tegas’. Will Smith bisa mempraktekkan dengan tegas dan berkata kepada Chris untuk berhenti dan tidak usah memperolok istrinya. Ketegasan inilah yang sering diajarkan kepada korban bullying agar pelaku stop membully mereka. Terkadang, hanya dengan sikap tegas ini, sudah cukup untuk membuat para “pengolok” untuk tidak melanjutkan olokannya. 

Perlunya Empati buat Chris!

Tentunya, tamparan dari Will Smith harusnya juga menyadarkan Chris Rock bahwa melawak itu harus melihat kondisi dan harus ada batasannya. Ketika melawak dengan menyindir orang, atau istilahnya roasting, harus melihat kondisi orang yang dijadikan bahan olokan. Tidak semua orang siap untuk menerima olokan. 

Apalagi, jika kita lihat situasinya, momen Oscar adalah momen yang menegangkan. Dan Will Smith termasuk salah satu nominatornya. Ditambah dari situasi keluarganya, banyak isu menerpa Will Smith juga. Jadi, sungguh momen yang tidak tepat buat Chris untuk memilih Will Smith dan keluarganya menjadi bahan olokan. Dan, bukan dunia yang kaget dengan respon Will Smith, tampaknya Chris sendiri juga tidak mengantisipasi kalau Will Smith akan menamparnya. Ini pun menunjukkan betapa tidak pekanya Chris Rock terhadap lawakannya. 

Dan tampaknya, orang tidak akan gampang lupa dengan kejadian di Oscar 2022 ini. Sebuah pelajaran yang berharga buat kita semua, yang diberikan oleh Will Smith dan Chris Rock buat kita. Tidak menyenangkan. Tapi, kadang dari peristiwa tidak menyenangkanlah kita bisa belajar banyak. 

Dan tampaknya benar ketika Danzel Washington memperingatkan Will Smith saat ia berkata, “Seringkali setan menghampiri kita di momen-momen puncak kita!”  Pelajaran yang berharga buat kita ingat di momen-momen puncak kita! 

Salam Antusias!

Anthony Dio Martin

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
081298054929
  Email
info@hrexcellency.com
anthonydiomartin@hrexcellency.com
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.