1

Ancaman Banjir Jakarta Dan Payahnya Manajemen Krisis Kita

Setiap kali di bulan Januari dan Februari selalu membuat kita ketar ketir, khususnya bagi warga jakarta. Masalahnya, hampir setiap saat, banjir melanda. Sampai-sampai kita terus bertanya kapankah kita akan sungguh-sungguh belajar untuk mengelola berbagai krisis yang kita alami?

Banjir yang datangnya diprediksikan sekitar Januari-Februari ini begitu kita kenal. Bahkan, kita bisa menyebutnya “Banjir Lima Tahunan”. Ini semuanya menunjukkan bahwa kita sangat akrab bahkan bisa meramalkannya. Tetapi mengapakah tiap kali banjir  tetap memakan korban jiwa, belum terhitung harta dan biaya produktivitas yang hilang gara-gara banjir ini? Bahkan, selama banjir, seringkali beredar pesan lucu, “Everywhere in the world flood is measured by centimeters or meters. Only in Indonesia flood is measured by dengkul, betis, and pinggang. I’m confused.”.  (Ya, sebenarnya masih ada yang  seleher, sekepala juga sih!).

Cobalah kita perhatikan trend banjir lima tahunannya. Banjir besar Jakarta sungguh-sungguh terjadi di tahun 2002, lalu di tahun 2007. Lantas, di tahun 2013. Berarti, kemungkinan besar akan terjadi lagi di sekitar tahun 2018 ini. Dan rasanya sangat keterlaluan jika di tahun 2018 ini, masih terjadi pula banjir besar dengan berbagai korban harta dan nyawa sekarang.

Kenyataannya, banjir semacam ini begitu predictable (dapat diperkirakan),  namun ini menunjukkan betapa tidak belajarnya kita. Ibarat seperti kata pepatah, “Bahaya berlalu dan Tuhan dilupakan” begitu juga kali ini berlaku “Banjir berlalu, bahaya dilupakan!”. Betapa sangat pendeknya memori kita tentang berbagai peristiwa dan bencana.

Seperti yang kita saksikan dulu, saat banjir besar di tahun 2013 lalu, menyebabkan kerugian hingga Rp 20 triliun serta memakan korban 20 orang serta memaksa sekitar 33.500 orang mengungsi, semua orang pun berkomentar dan berbagai acara analisa banjirpun dilakukan. Hal ini mirip dengan tahun-tahun sebelumnya pula. Namun, setelah itu, semuanya hanya tinggal wacana dan banjirpun lantas terjadi lagi! Memanglah, kita sangat bagus dalam menghadapi krisis (mungkin karena begitu terbiasanya!) tetapi begitu buruk dalam mencegahnya!

Bagaimana Manajemen Krisis Mengajari Kita?

Konon, ada kisah menarik. Malaikat pencabut nyawa mendapat tugas untuk mencabut nyawa 10 orang saat sebuah bencana terjadi. Namun, setelah bencana selesai, yang meninggal ternyata mencapai 100 orang. Konon, malaikat pencabut nyawapun ditanya, “Engkau kejam sekali. Mengapa akhirnya yang meninggal sampai mencapai 100 orang, mengapa bisa lebih banyak dari 10 orang yang direncanakan”. Dengan muka datar, malaikat pencabut nyawa berkata, “Tugas saya sudah dilakukan. Yakni mencabut nyawa hanya 10 orang saja melalui bencana itu. Sisanya yang meninggal, adalah akibat dari keteledoran, kebodohan, kelalaian serta ketakutan mereka sendiri. Itulah yang membunuh lebih banyak dari yang saya lakukan”.

Betul sekali! Kadangkala kita memang melihat bahwa bencana yang terjadi tidaklah separah akibat sampingan yang ditimbulkan. Korban nyawa, harta serta berbagai bencana tambahan seringkali adalah akibat dari 4K (kelalaian, kebodohan, keteledoran serta ketakutan) yang dialami manusia saat bencana itu terjadi dan berbagai tindakan maupun juga keputusan yang salah.

Dan kalau kita bicara soal manajemen krisis. Kata krisis sendiri ternyata berakar dari dari bahasa Yunani yang artinya “keputusan”. Jadi, kalau diartikan, krisis selalu terkait dengan keputusan yang diambil saat kita menghadapi berbagai bahaya yang mengancam. Sayangnya , seringkali terjadi keputusan-keputusan salah (termasuk tidak membuat keputusan sama sekali lho!) yang akhirnya menciptakan semakin banyak korban.

Lantas, bagaimana manajemen krisis mengajari kita soal respon terbaik menghadapi situasi-situasi sulit seperti banjir, serta bagai krisis lain dalam kehidupan kita?

Pertama-tama, kita sebenarnya bisa belajar dari orang yang paranoid. Paranoid adalah orang yang hidupnya khawatir dan ketakutan sehingga mempersiapkan. (tetapi, memang nggak boleh berlebihan!). Sikap berjaga-jaga dan waspada semacam ini sebenarnya amat membantu, saat bencana sungguh-sungguh terjadi. Sebab, secara mental dan fisikpun mereka sudah siap!

Disinilah pepatah,  “Sedia payung sebelum hujan” masih tetap merupakan langkah yang terbaik. Janganlah terlalu optimis dan positif dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja, antisipasilah hal terbauruk yang mungkin terjadi. Sayapun teringat seorang rekan saya yang mengajari anaknya yang masih TK bagaimana kalau terjadi kebakaran, siapa yang harus ditelpon bahkan mengajari cara menggunakan alat pemadam kebakaran kecil di rumahnya. Masalahnya, teman saya ini termasuk tinggal di pemukiman padat yang rawan kebakaran. Namun, saya pikir langkah ini termasuk langkah antisipasi yang positif.

Memang, dalam menyikapi krisis, mentalitas yang terbaik adalah “Expect for the best, prepare for the worst”, berharap yang terbaik, bersiap untuk yang terburuk. Kenyataanpun menunjukkan emosi kita pada saat tidak menghadapi krisis, dengan tatkala menghadapi krisis itu bisa sangat berbeda. Karena itu langkah terbaik menyikapi krisis adalah pada saat-saat kondisi tenang. Sebab tatkala kondisi krisis terjadi, kita mungkin sudah terlalu panik. Karena itulah, tidak mengherankan jika ada prosedur pembuatan pengumuman soal bahaya kebakaran ataupun ancaman bom di RS di Amerika, yang harus dilakukan saat-saat tenang dan tidak boleh dilakukan tatkala bahaya terjadi. Masalahnya pernah terjadi pengumuman dilakukan tatkala kebakaran terjadi dan malahan menambah kepanikan akibat suara petugas yang juga sangat panik dan ketakutan! Justu situasi itu menciptakan kepanikan dan masalah tambahan!

Dan tentunya, tatkala mengalami krisis kita pun tidak perlu menyesali, jangan pula berpura-pura seakan-akan krisisnya tidak terjadi. Namun yang terpenting, bagaimana memfokuskan pada niat agar krisisnya itu tidak tambah parah atau menyebar kemana-mana. Inilah mentalitas pening yang harus dipegang selama krisis terjadi! Dan setelah krisis berlalu, janganlah lupa untuk ambil pelajaran agar tidak terjadi lagi dalam hidupmu krisis yang sama! Hanya kebodohan dan kelalaian yang bisa menjelaskan mengapa seseorang terjebak dalam krisis yang sama berulangkali….termasuk banjir di Jakarta tentunya!

Salam Antusias!

Anthony Dio Martin

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.