1

ANAK SAYA KLEPTOMANIA?

Anak saya kleptomania?

Salam Antusias Pak Martin,

Saya senang sekali mengikuti rubrik motivasi di Bisnis Indonesia Minggu. Saya mau curhat ni pak. Saya dan suami adalah orang bisnis yang sama-sama sangat sibuk sehingga waktu untuk anak memang jadi kurang. Saya punya seorang anak yang baru berusia 7 tahun. Nah, akhir-akhir ini, saya melihat ia suka menyimpan barang-barang yang bukan miliknya. Beberapa hari yang lalu, saya terima berita yang sangat mengejutkan dari sekolah yakni anak saya ditemukan mengambil kotak pensil milik temannya, dan ia tidak mau mengaku. Akhirnya, saya geledah kamarnya dan saya menemukan banyak barang – barang yang tidak jelas pemiliknya di dalam kamarnya. Padahal ia telah mempunyai barang sejenis di rumah. Saya telah memenuhi segala kebutuhannya, lebih dari cukup. Bahkan untuk hiburan dirinya saya telah membelikan banyak permainan, tujuannya sih agar dia tidak banyak keluar rumah. Pak, bantu saya! Bagaimana saya harus menyikapi perbuatan anak saya yang mengidap kebiasaan buruk ini? Saya takut ketika ia besar dan bekerja nantinya ia akan melakukan tindakan kriminal.

Ibu Martha-Bekasi

Tanggapan

Terima kasih atas kesetiaan Ibu mengikuti artikel saya tiap minggunya di BIM. Mendengar kisah Anda membuat saya teringat dengan kisah seorang teman kerja yang mengidap penyakit kejiwaan “kleptomania”. Ia seorang yang berjabatan tinggi yang pastinya berkecukupan namun suka mengambil barang rekan kerjanya ataupun barang di toko. Dan barang-barang tersebut hanya dibiarkan tergeletak di kamar dan diruangannya bahkan kadang diberikan pada teman-temannya. Ia tidak menikmati barangnya, tetapi haya menikmati ‘proses’ mendapatkan barang-barang tersebut.

Sekarang, pasti di dalam benak ibu berkecambuk banyak pertanyaan seperti “bagaimana bisa anak saya seperti itu?”, “apa maksud dari semua ini?” “apakah ini pertanda ada sesuatu yang tidak saya ketahui mengenai kepribadian anak saya?”, atau “jangan-jangan cara didik saya salah selama ini?”, “bagaimana kelak ia berada di masyarakat?”

Dalam teori psikologi perkembangan anak terdapat tahapan “trial and error” atau lebih sering disebut tahap “testing”. Menurut pakar Perkembangan anak Prof. Howard dari Johns Hopkins School of Medicine, ia mangatakan bahwa pada fase tertentu, anak-anak akan terus mencoba mencari tahu apa yang terjadi apabila mereka melakukan sesuatu, termasuk yang dilarang. Misalkan, dalam kasus Anda si anak punya rasa panasaran, apa yang akan terjadi jika ia tertangkap mencuri. Berdasarkan konsekuensi inilah, akhirnya si anak akan membuat suatu ‘rule’ dalam hidupnya tentang apa yang bisa dilakukan dan tidak boleh dilakukannya. Apabila dalam banyak kesempatan mencuri, ia berhasil serta tidak mendapatkan hukuman, maka ada kemungkinan ia akan menjadikannya sebagai kebiasaan. Tetapi, jika dalam proses mencoba itu, ia ditegur, atau mendapat ganjaran yang negatif, maka kemungkinan ia mulai belajar bahwa perilaku itu tidak boleh dilakukannya. Jelas, saat-saat seperti inilah yang penting bagi orang tua untuk mengajarkan norma. Mengajarkan apa konsekuensinya bila terus melanjutkan aktivitas “mencuri”.

Bila memang anak ibu mempunyai kebiasaan tersebut maka ibu harus memberikan perhatian ekstra padanya. Terutama karena ia sedang berada dalam masa perkembangan “testing “, mengetahui mana yang salah dan mana yang benar. Karena biasanya penyebab aktivitas ini adalah karena kurang perhatian akan tingkah laku yang salah, ataupun banyak dibiarkan ketika ia melakukan kesalahan dan tidak ada usaha dari pihak luar untuk memberikan pengarahan yang benar.

Beruntungnya, kebiasaan ini seperti yang ibu katakan belum terlalu lama berjalan dan anak Ibu masih dalam tahap perkembangan yang masih dapat diarahkan. Karena bila telah menjadi lebih serius dan menahun, anak ibu perlu bantuan psikolog atau pakar perilaku. Namun tidak perlu khawatir, Ibu masih bisa melakukan sesuatu terhadap kebiasaan tersebut.

Pertama, Ibu disarankan untuk memberikan waktu yang ekstra untuk lebih banyak melakukan observasi terhadap perilaku anak ibu. Dan bila menemukan perilaku yang menyimpang, maka dengan tegas ibu wajib menegur dan memberitahukan konsekuensi perilakunya terhadap dirinya dan orang lain. Bila Ibu menyimak artikel saya beberapa bulan lalu saya membahas mengenai tipe orang tua. Tentu saja, saya tidak menyarankan anda untuk menjadi “helicopter parent” yang terus menerus mengawasi 24 jam. Sebaliknya, jadilah orang tua yang mengawasi dengan kepercayaan penuh plus berhati-hati atau tidak kelihatan, tetapi tetap memberikan perhatian dan bimbingan.

Kedua, menyangkut perilakunya yang telah terjadi dilakukannya di sekolah dan barang yang diambil adalah kemungkinan barang-barang temannya. Tentu saja, tindakan ini harus dihentikan, maka ajaklah anak anda bertemu dengan gurunya dan katakan pada gurunya bahwa anak anda akan mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya. Memang suatu kegiatan yang memalukan dan menciptakan berbagai perasaan yang tidak mengenakkan pada anda dan anak anda. Tapi lebih baik Anda yang melakukannya bukan polisi ataupun hakim. Karena bila kebiasaan ini terus berlangsung maka dalam dunia kerja ia pun akan melakukan tindakan “mencuri” dan kala itu pasti menjadi perbuatan kriminal. Dan dengan mengembalikan barang-barang tersebut anak telah belajar bertanggung jawab.

Ketiga, jangan sepelekan kata “maaf”. Ajarkan anak anda dalam setiap kesempatan, bahwa kata “maaf” penting. Terutama ketika ia melakukan kesalahan. Selain mendidik anak Ibu menjadi bertanggungjawab, ia juga diajarkan beban moral terhadap orang lain. Dan tambahkan padanya, ketika mengatakan maaf haruslah spesifik dan berikan janji kedepan akan perbaikan perilaku.

Keempat carikan aktivitas lain yang menggantikan waktu luang dan perhatiannya. Salah satu saran adalah sibukkan dia dengan aktivitas pribadi seperti olahraga atau aktivitas diluar rumah yang mengembangkan seperti les music, les bahasa atau lainnya. Dan terakhir jangan pernah sepelekan waktu bersama keluarga. Saat itulah anak mulai membangun image diri. Ingin menjadi seperti apakah dirinya kelak di kemudian hari.

Semua hal diatas memang bukan hal yang mudah dilakukan tapi bisa dilakukan. Hal terpenting dalam merubah kebiasaan adalah dengan mengetahui polanya dan rubahlah polanya sesuai yang anda inginkan. Berikan dukungan penuh pada anak anda plus berikan arahan untuk membuat dunianya menjadi lebih indah.

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.