SEMINAR “CHANGE FOR THE FITTEST” PHARMA TEAM COMBIPHAR, 16 DESEMBER 2011
December 17, 2011 by Anthony Dio Martin
Filed under Seminars
Sekitar 200 leaders (Regional Sales Manager, Distrik Manager serta Area Manager)-nya tim etikalnya Combiphar berkumpkan di Lido, Sukabumi untuk mengikuti seminar “Change for The Fittest” yang dibawakan oleh Bp.Anthony Dio Martin. Pharma Team yang dipimpin oleh Bp.Dr.Paulus Widjanarko, berkumpul dalam rangka meeting akhir tahun 2011 serta mempersiapkan strategi bisnis etikal di tahun 2012. Dengan semangat dan antusias yang luar biasa, Pharma Team Combiphar mengikuti sesi menarik yang mengupas 7 mentalitas kerja penting untuk menghadapi proses Transformasi yang sedang berlangsung di Combiphar. Semoga dengan suntikan ‘motivasi’ yang luar biasa dari HR Excellency, tim Pharma Combiphar akan semakin ‘berkibar’.
SEBERAPA MATURE KAH DIRI ANDA DI TEMPAT KERJA?
December 13, 2011 by Anthony Dio Martin
Filed under Articles

SEBERAPA MATURE KAH DIRI ANDA DI TEMPAT KERJA?
Kali ini, saya mengajak Anda bicara soal kematangan diri! Baru-baru ini, saya menyaksikan film Horrible Boss yang menceritakan kisah tentang tiga orang sekawan yang mempunyai nasib yang malang. Ketiga-tiganya mempunyai atasan yang ternyata sangat menjengkelkan, menyebalkan dan juga kekanak-kanakan. Dan ujung-ujungnya, dalam film bertema komedi situasi yang dibintangi oleh berbagai actor terkenal seperti Kevin Spacey, Colin Farrell dan Jennifer Aniston ini, ada upaya anak buah ini untuk membunuh atasan mereka masing-masing. Jalinan ceritanya pun jadi cukup menghibur, buat Anda yang terbiasa dengan tempat kerja. Film berating ‘dewasa’ ini memang menampilkan banyak situasi di kantor dengan atasan yang sangat kekanak-kanakan. Namun, sebenarnya, film ini juga menegaskan baik pihak atasan maupun pihak bawahan yang sama-sama tidak mature, alias tidak dewasa dalam menyelesaikan konflik dalam pekerjaan mereka.
Belum lama ini saya juga menerima keluhan dari seorang atasan. Ceritanya, ada seorang bawahannya yang ditugaskan untuk menyelesaikan sebuah proyek. Seharusnya pada hari H, proyek itu selesai. Tetapi, ketika pada hari H tiba, si anak buah pemimpin proyek yang seharusnya mempresentasikan hasilnya, justru tidak datang. Berhari-hari setelahnya, si anak buah itu tidak hadir bahkan tidak ada keterangan apapun. Akhirnya, seseorang diutus ke rumahnya untuk memastikan apa yang terjadi. Ternyata, si anak buah tersebut hanya duduk di ranjangnya dan menangis berhari-hari. Ia cemas dan takut karena proyeknya belum selesai.
Begitu juga suatu kasus terjadi di suatu perusahaan penerbitan. Ada seorang pimpinan yang tidak suka dengan salah seorang wartawan seniornya. Si wartawan senior ini memang brilian dan pintar. Ketika ada suatu wawancara penting dengan seorang pebisnis yang datang ke Indonesia, seharusnya si wartawan senior itulah yang mendapatkan tugas. Namun, karena tidak suka, plus tidak mau nama si wartawan senior ini menjadi semakin harum, si atasan menjegalnya dengan menyuruh wartawan lain yang sebenarnya lebih tidak kompeten. Hasil akhir liputannya pun jadinya biasa-biasa saja, namun tampaklah bagaimana si atasan merasa begitu puas karena bisa ‘menyiksa’ si wartawan senior itu.
Pribadi Tidak Matang di Tempat Kerja
Memang, begitulah kisah-kisah soal ketidakmatangan yang terjadi di kantor. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa kematangan Anda tidaklah identik dengan usia Anda. Jadi, bisa saja seorang yang berusia 20 tahun, ternyata lebih matang daripada seorang yang berusia 50 tahun. Dan begitu pula, kematangan pun tidak ada hubungannya dengan pangkat maupun posisi Anda. Jadi, bisa saja seseorang menjadi pimpinan namun emosi dan pribadinya tidak lebih baik dari bawahannya. Inilah yang seringkali jadi masalah!
Makanya, tidak mengherankan jika ada pepatah yang mengatakan, “Banyak orang menjadi tua tanpa pernah menjadi dewasa”. Dan tatkala pribadi yang kurang matang ini berada di kantor maka kita bisa melihat ciri-cirinya yang seringkali membuatnya menjadi orang yang sulit. Misalkan saja: sensitif dengan masukan bahkan sulit menerima masukan, suka menciptakan masalah bagi orang-orang disekitarnya, over reaktif terhadap sesuatu kejadian (sehingga tidak bisa menjaga kata-kata maupun sikapnya), sulit membedakan antara masalah pribadi dengan masalah kerja bahkan seringkali mencampuradukkannya dan juga, sangat egois karena tidak pernah memikirkan perasaan orang lain.
Kalau Anda perhatikan ciri-ciri di atas, seandainya saja Anda terapkan pada seorang anak kecil, maka ciri-ciri itu pun akan pas. Karena memang itulah kenyataannya! Mereka yang tidak matang, sikapnya memang seperti kanak-kanak di kantor. Akibatnya, tuntutan untuk cara kita menyikapi mereka pun, tidak bisa dengan cara yang dewasa. Mereka kadang-kadang harus dihibur, harus terus dipuji, harus terus diladeni, sehingga ujung-ujungnya sangat memeras energi orang-orang disekitarnya.
Transforming Your Dragon
Jose Stevens dalam bukunya yang menarik ‘Transforming Your Dragon‘ (Mentransformasikan Naga dalam Dirimu), ia menjelaskan beberapa tahapan kematangan pribadi seseorang. Dengan latar belakang pendidikan saya di psikologi, saya tidak sepenuhnya setuju, tapi ada beberapa nasihatnya yang bisa menjadi bahan renungan buat kita. Dan kalaupun kita buat secara umum, maka tingkat kematangan seseorang bisa dikategorikan menjadi level kematangan bayi, balita, remaja, dewasa hingga ke level master.
Nah, kalau di bagian atas, saya sudah sedikit membahas soal sifat-sifat orang yang tidak punya kematangan di kantor. Berikutnya mari kita bahas soal ciri-ciri orang yang betul-betul memiliki kematangan.
Pertama, fokus orang matang ada pada ‘being’ (menjadi) bukan pada ‘doing (melakukan). Perhatikan misalnya dua orang yang sama-sama mencoret dan membuat gambar mural di tembok. Yang satu membuat coret karena kesel dan ingin melampiaskan kemarahannya di tembok. Namun, satunya lagi menggambar dengan tujuan memperindah tembok itu. Jadi, meskipun sama-sama melakukan aksi ‘coret-coret’ di tembok namun pemaknaan mereka berbeda. Satunya dengan sebuah tujuan, dan satunya lagi hanya sekadar melampiaskan kejengkelan. Begitu pula yang terjadi dengan perbedaan antara orang matang dengan yang tidak matang dalam melakukan pekerjaan seperti: menjual, memberikan pelayanan, dll.
Kedua, mereka tidak terpaku dengan kegagalan dan selalu bisa belajar dari setiap situasi. Berbeda dengan orang tidak matang yang seringkali menyalahkan, mencari kambing hitam dan menolak tanggung jawab, orang yang dewasa bersikap berbeda. Baginya, yang penting adalah belajar dari setiap situasi dan mencoba mengambil pembelajarannya. Biasanya, beda kualitas orang yang dewasa dengan yang tidak, akan semakin kentara tatkala mereka harus menghadapi situasi yang sulit.
Ketiga, orang yang dewasa bukanlah orang yang senang menjatuhkan dan mendemotivasi. Salah satu ciri terbaik dari orang yang matang adalah kalimat serta kata-katanya memberikan support, motivasi dan dorongan. Disinilah kita bisa membedakan seorang teman yang matang atau tidak. Seorang yang matang, tatkala kita sulit akan memberikan semangat. Begitu pula, tatkala kita sukses mereka betul-betul tulus bergembira atas kemenangan dan kesuksesan kita.
Dan akhirnya, orang yang dewasa pun mampu bersikap jujur dalam berbagai situasi. Di satu sisi, mereka bisa menjaga kerahasiaan dengan baik (jadi bukannya jadi ember yang bocor!). Namun, di sisi lain, mereka bisa mengungkapkan perasaan dengan jujur tanpa menyinggung orang lain. Akibatnya, kita tahu bahwa ungkapan serta kalimat-kalimatnya pada dasarnya bisa dipercaya. Mereka ini bukanlah tipe yang berbicara di depan Anda untuk menyenangkan Anda tetapi bisa berbicara lain, pada orang dan situasi yang lain, demi kepentingannya sendiri. Dengan demikian, Anda nyaris bisa mempercayai apa yang diucapkan oleh orang-orang yang matang emosi dan mentalnya ini.
Nah, sekarang dengan empat ciri ini saja ada sebuah tugas kita untuk mengevaluasi diri kita sendiri: seberapa matangnya diri kita? Dan ingat … jangan sampai kita menilai orang lain tidak matang, tetapi sebenarnya diri kitalah yang sebenarnya bermasalah!
Anthony Dio Martin
Trainer, Motivator, Penulis buku-buku Bestseller
Connect dengan saya via facebook & twitter:
Facebook : http://www.anthonydiomartin.com/go/facebook/
Twitter : http://www.anthonydiomartin.com/go/twitter/
Incoming search terms:
- jose stevens my dragon
- buku transforming your dragon
- kematangan profesional di tempat kerja
- orang kurang mature jose stevens
NEVER BURN YOUR BRIDGES!
December 13, 2011 by Anthony Dio Martin
Filed under Articles

NEVER BURN YOUR BRIDGES!
Istilah “Never Burn Your Bridges” sebenarnya berasal dari sebuah kisah motivasional yang terkenal. Konon katanya ada seorang jendral perang yang membuat sebuah jembatan besar sehingga bisa sampai ke pihak musuh. Namun, agar para serdadunya berperang secara maksimal, maka setelah jembatan itu selesai dan dilewati, maka jembatan itu pun dibakar. Dengan demikian para serdadu hanya punya satu pilihan, yakni bertempur sampai titik darah penghabisan sebab tidak ada lagi jembatan untuk kembali. Tentu saja, versi dari kisah dan legenda ini ada banyak sekali. Ada yang mengatakan bahwa yang dibakar bukanlah jembatan tetapi kapal-kapalnya. Mana yang benar? Kita tidak tahu. Tetapi, kali ini, kita memang bukan bicara soal kapal ataupun jembatan tetapi soal merawat hubungan.
Pesan kita kali ini cukup bermakna. Janganlah kita membakar jembatan yang pernah kita lewati. Atau dengan kata lain, jangan kita merusak suatu hubungan yang pernah kita bangun. Mungkin saja jembatan itu pernah mengantar Anda ke suatu titik tertentu dalam perjalanan hidup Anda, tetapi janganlah sekali-kali Anda membakarnya. Anda tidak pernah tahu, apakah suatu ketika, Anda akan membutuhkannya lagi.
Sebut saja pengalaman dua orang, Alex dan Wani. Tatkala bekerja di suatu perusahaan nasional terkemuka di Indonesia, Alex bekerja dengan gigih. Ia pun sangat dipercaya. Suatu ketika, Alex memutuskan untuk melanjutkan studinya. Namun, hubungan dengan pimpinannya dulu tetap dijaga. Ia tetap bersikap baik, meskipun ia bukan lagi karyawan di perusahaan itu. Akhirnya, ketika Alex selesai kuliah, justru Alex diminta untuk memimpin perusahaannya di kota; di luar negeri dimana Alex menyelesaikan studinya. Inilah berkat ketekunan Alex menjaga hubungan dengan perusahaannya terdahulu.
Kisah yang lain terjadi dengan Wani. Wani adalah wanita yang cemerlang dan hebat. Ia bekerja di sebuah grup perusahaan terkemuka di Indonesia. Kapasitas dan kemampuan kerjaannya pun luar biasa. Karirnya melonjak. Hingga akhirnya, Wanipun di’bajak’oleh perusahaan kompetitor. Di perusahaan yang baru, Wani agaknya tidak berterima kasih pada perusahaannya yang sebelumnya. Wani sering menjelekkan dan mengatakan hal yang negatif tentang perusahaannya yang dulu. Setelah bertahun-tahun di tempat yang baru, ternyata perusahaan Wani diakuisisi, alias dibeli. Siapa yang beli? Group perusahaan Wani bekerja sebelumnya. Dan oleh karena komentar Wani yang tidak menyenangkan yang pernah didengar oleh perusahaan yang sebelumnya, Wani pun tidak termasuk pimpinan yang dipilih untuk diteruskan masa kerjanya. Wani dipaksa untuk berhenti setelah perusahaannya dibeli.
Begitulah perbedaan sikap antara Alex dan Wani, yang ternyata berujung pada masa depan mereka. Alex menjaga hubungannya dengan perusahaan dan orang yang telah membesarkannya. Sementara Wani, bersikap negatif. Dengan kata lain, Alex masih merawat jembatan yang dilewatinya, sementara Wani membakar jembatan yang telah dilewatinya. Itulah kesalahannya Wani.
MENGAPA JANGAN BAKAR JEMBATAN?
Hidup itu masih terus bergerak. Mungkin saja suatu jembatan telah membawa dan mengantar kita ke suatu tahapan hidup kita yang berikutnya, tetapi salah besar, jika lantaran kita merasa tidak memerlukan suatu jembatan lagi, lantas kita mulai memusuhi, memaki ataupun membenci jembatan yang pernah membawa diri kita. Inilah beberapa alasan mengapa tidak bijaksana bagi kita untuk membakar jembatan yang pernah mengantar kita.
Pertama, kita tidak pernah bisa meramalkan masa depan. Setelah kita melewati suatu jembatan, mungkin kita meresa tidak membutuhkannya lagi saat ini. Tetapi, kita tidak pernah tahu apakah kita akan memerlukan jembatan itu di masa depan kita nanti. Banyak kisah yang menceritakan bagaimana seorang karyawan yang menjaga hubungan baik dengan perusahaannya dulu, akhirnya sekarang menjadi supplier penting di perusahaannya. Coba saja kalau si karyawan itu tidak menjaga hubungan yang baik, tentu saja ia tidak akan dipercaya menjadi supplier. Kita pun tidak pernah tahu, bahwa bisa saja jembatan”boss” yang mengantarkan kita sekarang, akan kita butuhkan referensinya bagi bisnis kita di masa mendatang. Karena itulah, selalu bijaksana jika setelah melewati suatu jembatan, jangan kita bakar. Mari kita tetap merawatnya.
Kedua, jangan pernah menciptakan musuh. Ada sebuah pepatah bagus yang mengatakan, “Seribu teman tak pernah cukup, satu musuh terlalu banyak!”. Pepatah ini mengatakan tidak ada baiknya kita membakar jembatan yang pernah menjadi pengantar kehidupan kita. Jembatan itu bisa berupa organisasi ataupun orang. Tatkala kita mulai menjelekkan organisasi yang pernah membesarkan kita, tatkala kita mulai merendahkan, memaki, ataupun ‘membuat status’ yang menjelekkan bekas ‘jembatan’ kita berarti kita sedang menciptakan musuh. Kalaulah perusahaan ataupun atasan kita tidak menyenangkan dan tidak Anda sukai, toh Anda sudah tidak lagi berhubungan dengannya. Tidak ada gunanya bagi Anda untuk menjelekkannya, sebab hal itu tak memberikan manfaat apapun juga.
Ketiga, ketika membakar jembatan Anda, Anda juga mencela diri Anda sendiri. Tatkala Anda membakar kapal dengan cara menjelekkan ataupun membicarakan hal yang buruk tentang perusahaan tempat Anda bekerja sebelumnya, coba tebak bagaimana pendapat orang? Dalam hati mereka mungkin akan berkata pada diri Anda, “Salah sendiri kenapa dulu mau bekerja disitu dan sekarang jelek-jelekkan dia?”. Tanpa sadar, tatkala menunjukkan kejelekkan perusahaan, orang atau pun tempat yang pernah Anda lewati, Anda sebenarnya justru sedang menunjukkan kesalahan dan kebodohan Anda sendiri yang dulunya memutuskan untuk melewati jembatan tersebut!
BERSYUKURLAH, TERMASUK PADA JEMBATAN BEKASMU!
Intinya, tunjukkanlah kita bisa lebih baik dengan sikap terima kasih kita. Mungkin saja, jembatan yang pernah Anda lewati tersebut tidaklah menyenangkan. Bisa jadi jembatan itu berupa atasan yang menyebalkan, tempat kerja yang memuakkan. Ingatlah tidak ada yang sempurna. Tetapi, kalau kita lihat ke belakang. Apapun yang kita raih dan capai hingga saat ini, mungkin saja tidak bisa tercapai tanpa adanya jembatan tersebut. Jadi, belajarlah untuk bersyukur dan berterima kasih sekaligus berjanji. Janji untuk tidak menjadi jembatan yang seperti Anda alami. Tetapi, untuk itu Anda tidak perlu memaki ataupun menjelek-jelekkan. Hargai jembatan yang dulu pernah kita lewati, belajarlah respek. inilah tanda kebesaran jiwa yang luar biasa.
Tony Hoyt, mantan Wakil Presiden di Hearst Corporation yang bergerak di bidang media mempunyai kalimat yang penting tatkala ia mengatakan, “Never burn your birdge. Don’t even spray graffiti on them. So, when you exit always do so with grace and appreciation.” (Jangan pernah membakar jembatanmu. Bahkan jangan mencoret-coretinya. Jadi, ketika kamu keluar, selalu lakukanlah dengan penghargaan dan terima kasih”.
Betullah kata Tony Hoyt diatas. Sejarah hidup itu tidaklah selesai setelah kita meninggalkan jembatan itu. Siapa tahu kelak kita terpaksa harus melewati lagi jembatan itu kedua kalinya untuk ke arah masa depan kita?
Memaafkan Diri Sendiri!
December 13, 2011 by Anthony Dio Martin
Filed under Articles

Ketika Lebaran tiba, ada seorang Bapak yang tampaknya kurang antusias. Padahal, puasa sudah ia lewati, dan seharusnya ini menjadi hari kemenangannya. Dari luar, ia tampak sibuk bersilaturahmi dan mengunjungi saudara-saudaranya. Pokoknya, ia mengikuti ritual Lebaran, namun hatinya, tidak disitu. Dan setelah beberapa hari Lebaran lewat akhirnya si Bapak ini berkeluh kesah pada seorang temannya. “Kenapa ya, kita sudah bermaaf-maafan, dan saya pun sudah meminta maaf maupun memaafkan orang yang salah pada saya”, katanya menghela nafas panjang, “Tetapi.. .tetap saja saya tidak merasakan adanya damai di hati saya”. Temannya yang mendengarkannya dengan tenang, berpikir sejenak lalu mengomentari, “Kawan, mungkin itu disebabkan karena kamu sendiri belum memaafkan dirimu!”
Begitulah para Pembaca. Tradisi maaf-memaafkan pada saat Hari Raya Lebaran yang menyehatkan secara mental dan spiritual ini, seringkali berwujud sebagai suatu seremonial belaka. Padahal, berbagai tulisan dan penelitan mengemukakan bahwa pemaafan, bukan saja diperintah oleh agama, tetapi secara psikologis, juga sangat menyehatkan.
Baru-baru ini, majalah populer psikologi terkenal di dunia yakni Psychology Today, menulis soal forgiveness ataupun pemaafan, khususnya soal pemaafan diri. Tulisan ini melansir kembali penelitian Stanford Forgiveness Project yang dipimpin oleh Dr.Luskin. Hasilnya, setelah 6 bulan belajar teknik dan filosofi memaafkan, mereka yang yang akhirnya betul-betul memaafkan, mampu hidup lebih sehat dan bahkan 70% merasa lebih bahagia. Menariknya, salah satu bagian dari proses pemaafan yang justru menjadi kuncinya adalah tatkala ketika dari sekitar 259 peserta penelitian ini belajar untuk memaafkan diri mereka terlebih dahulu.
MENGAPA MEMAAFKAN DIRI?
Seringkali dikatakan bahwa kunci memaafkan orang lain adalah memaafkan diri sendiri. Terkadang, kita bertemu dengan orang yang lebih mudah memberi ampunan dan maaf pada orang lain, tetapi terus-menerus menyiksa dirinya dengan kasalahan atau pun kegagalan yang pernah mereka lakukan di masa lampau.
Saya pun teringat kisah dalam film “Eat, Pray and Love” yang diperankan Julia Robert. Di kisahkan, dalam perjalanannya ke India, ia bertemu dengan seorang bapak bernama Richard dari Texas yang keluarganya hancur bahkan ia meceritakan kisah tragis tentang kesalahan yang ia perbuat terhadap keluarganya. Akibatnya, begitu lamanya si Richard ini tidak bisa berdamai dengan dirinya. Dan meski pun jauh-jauh dari Texas hingga ke India, Richard mengakui ia belum bisa memaafkan dirinya.
Mirip kisah ini, saya pun pernah mendengar konseling dari seorang wanita yang mengatakan bagaimana ia sulit memaafkan dirinya gara-gara menyebabkan ibunya stroke yang akhirnya meninggal. Ia mengatakan ketika bertahun-tahun yang silam ia pernah dilarang ibunya berhubungan dengan seorang pria. Karena kesal, ia pun membentak dan bertengkar hebat dengan Ibunya. Ternyata, malamnya si Ibu mengalami stroke dan beberapa hari kemudian, meninggal.
Seperti kisah-kisah di atas, kita bisa melihat bahwa, terkadang jauh lebih mudah bagi kita tatkala berhubungan dan memberi maaf pada orang lain. Namun, ketika ini telah menyangkut diri sendiri, tak mudah untuk melakukannya. Khususnya jika ini terkait dengan masa lalu atau kesalahan fatal, kebodohan, kelalaian, kecerobohan yang sangat sulit untuk kita lupakan.
Gary Zukav, salah seorang penulis pengembangan diri, dalam wawancara di acara TV Oprah Show beberapa tahun silam, menggunakan ilustrasi orang yang tidak memaafkan dirinya ibarat seperti orang yang terus memikul tas berat di pundaknya. Kemana-mana tanpa mau sedetik pun ia mau melepaskannya. Dengan cara memikul tas itu, menurut Zukav orang berpikir bahwa itulah cara untuk menghukum dan membebaskan dirinya dari kesalahan masa lalu. Tetapi, bukannya merdeka, justru orang semakin terpuruk dalam proses menghancurkan dirinya.
4 LANGKAH MEMAAFKAN DIRIMU!
Setiap orang berbuat salah, tetapi tidak semua orang mampu menerima dan berdamai dengan kesalahan itu. Ada baiknya kita pun belajar untuk mulai memaafkan diri kita sendiri, sebelum kita memaafkan dan meminta maaf dari orang lain. Dan semua proses itu harusnya dimulai dari keinginan kita untuk mengatakan, “Saya memberi izin pada diri Saya sendiri untuk sembuh”. Sebagai tips, ada empat langkah penting dalam rangka membereskan ‘tas-tas’ kesalahan masa lalu kita.
Pertama, membuka hati kembali. Ketika kita mulai diliputi rasa bersalah, rasa malu dan rasa penyesalan atas apa yang terjadi, kita mulai menyelimuti diri kita dengan kabut hitam. Tak mengherankan jika rasa penyesalan ini sering berakhir dengan pikiran ingin melukai diri sendiri, bunuh diri atau pun keinginan untuk mensabotase potensi maupun apa yang akan kita capai. Saya teringat dengan seorang Bapak tua pebisnis sukses yang setiap hari, dalam konselingnya berkata, “Buat apa saya sukses? Saya sukses tetapi anak saya narkoba. Ini gara-gara saya tidak menjaganya ketika masih kecil. Saya merusaknya demi ambisi saya”. Sebenarnya, si Bapak ini mestinya sadar mengulang-ulang kalimat semacam itu tidak akan ada gunanya. Jauh lebih baik bagi si Bapak ini untuk mulai berpikir, saatnya untuk STOP penghukuman diri ini dan memikirkan hal yang lebih baik dan lebih masuk akal untuk dilakukan.
Kedua, cobalah untuk mencintai diri kembali. Terkadang, apa yang membuat kita tidak bisa memaafkan diri adalah karena kita melihatnya dari posisi sekarang. Tetapi, jika kita kembali ke situasi waktu kejadian yang kita sesali terjadi, mungkin kita akan melihat bahwa kita tidak punya banyak pilihan atau tak jarang dalam kondisi yang terjepit. Akibatnya, kita pun terpojok untuk mengambil keputusan tersebut. Coba lah untuk melihat alasan lain yang mungkin bisa membuat diri Anda memaklumi bahkan mengerti, juga memaafkan diri Anda dalam situasi itu.
Ketiga, banyak orang berpikir bahwa dengan rasa bersalah atau rasa malu atau pun rasa penyesalan terus-menerus, ini berarti menunjukkan perasaan sayang kita. Inilah cara berpikir yang salah. Kita boleh merasa bersalah, tapi bukanlah berarti kita harus terus-menerus terjebak dalam rasa bersalah itu. Bisa jadi, orang yag kita buat salah pun, berharap kita menjadi bahagia dan tidak larut lagi dalam penyesalan dan penderitaan kita. Daripada hanya duduk menyesal, mungkin lebih baik kita arahkan rasa penyesalan itu dengan melakukan sesuatu yang lebih konkret dan positif.
Empat, mulailah melakukan sesuatu yang lebih positif. Ada seorang pemabuk yang pernah menabrak mati seorang bocah, akhirnya memutuskan untuk menghidupi keluarga bocah yang miskin itu. Bahkan, ia juga membangun panti asuhan untuk anak-anak yang kurang mampu. Begitu pula ada kisah seorang yang akhirnya menjadi dokter karena pernah menyebabkan cacat seumur hidup pada adiknya, gara-gara salah memberinya obat. Jadi pikirkanlah apa yang bisa dilakukan, daripada terus-menerus tenggelam dalam rasa penyesalan ini.
Akhirnya, semoga kita selalu ingat, sebelum kita minta maaf dan memaafkan orang lain, pastikan kita juga memaafkan diri kita sendiri!
Anthony Dio Martin
Trainer, Motivator, Penulis buku-buku Bestseller
www.hrexcellency.com












